Bangkit dari Nol, Salad Umma Tumbuh Berkat KUR BRI

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 01 Juni 2026 01:04 WIB 2
Bangkit dari Nol, Salad Umma Tumbuh Berkat KUR BRI

Hikma Nurul Audhliya membuktikan bahwa kegagalan tidak selalu menjadi akhir, melainkan awal dari peluang baru. Perempuan 38 tahun itu sempat kehilangan seluruh pesanan rias pengantin saat pandemi, lalu bangkit dari nol dan membangun usaha kuliner sehat bernama Salad Umma di Jakarta.

Usaha yang dirintis dari dapur rumah itu berkembang berkat ketekunan, pelatihan usaha, dan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat atau KUR dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Dari modal sangat terbatas, Salad Umma kini tumbuh menjadi usaha yang menerima pesanan rutin hingga acara instansi pemerintah.

Perjalanan Salad Umma

Sebelum menekuni usaha kuliner, Hikma bekerja sebagai makeup artist atau perias wajah. Pandemi membuat seluruh jadwal pernikahan dibatalkan, sementara uang muka dari pelanggan sudah masuk ke vendor. Kondisi itu memaksanya menanggung ganti rugi dan menjual berbagai aset untuk menutup kewajiban.

Ia mengaku seluruh pesanan wedding dibatalkan pada akhir 2020, ketika situasi pandemi masih sangat berat. Mobil, baju, dan perlengkapan make-up ikut dijual agar kerugian dapat segera tertutup. Pada fase itu, Hikma sempat pasrah karena usaha yang dibangun bertahun-tahun mendadak berhenti total.

Setelah terpukul oleh keadaan, ia mulai mencari jalan baru untuk bertahan hidup. Hikma kemudian mengikuti program Kartu Prakerja dan sempat gagal pada gelombang pertama. Kesempatan berikutnya baru membawanya lolos dan memperoleh voucher pelatihan usaha senilai Rp 1 juta.

Awalnya ia memilih kelas make-up dengan harapan industri pernikahan dan hiburan segera pulih. Namun, situasi yang belum membaik membuatnya beralih ke usaha yang lebih sederhana dan praktis. Dari pertimbangan itu, ia menjatuhkan pilihan pada usaha salad sayur yang mudah dijalankan dari rumah.

Modal Kecil Salad Umma

Hikma melihat peluang dari kebutuhan masyarakat yang ingin hidup lebih sehat dan mengonsumsi makanan segar. Ia juga mencari usaha yang tidak membutuhkan kompor, gas, atau minyak goreng. Dari dapur rumah, ide Salad Umma mulai diwujudkan secara bertahap.

Modal awal yang ia kumpulkan berasal dari bantuan Kartu Prakerja yang diterimanya secara bertahap selama empat bulan. Total dana yang digunakan sekitar Rp 2,4 juta, lalu dibelanjakan untuk kebutuhan paling mendesak. Peralatan sederhana seperti chopper, blender, kemasan, dan showcase dibeli sedikit demi sedikit sesuai kemampuan.

Lokasi usaha yang dekat dengan kawasan indekost karyawan turut membantu penjualan pada tahap awal. Dari sana, pelanggan mulai mengenal salad sayur yang dibuatnya dengan konsep sehat dan praktis. Permintaan yang datang memberi Hikma dorongan untuk terus menjaga kualitas produk.

Pada 2022, ia mulai menerima pesanan salad buah setelah ada permintaan untuk acara ulang tahun. Inovasi itu membuat pilihan produk Salad Umma semakin beragam dan menarik pasar yang lebih luas. Perlahan, usaha kecil tersebut berubah dari sekadar percobaan menjadi sumber penghasilan yang nyata.

Pendampingan Usaha Salad Umma

Perjalanan bisnis Hikma tidak selalu mulus karena omzet masih naik turun dalam beberapa waktu. Meski sudah memanfaatkan pesanan online dan promosi di media sosial, pendapatannya kerap tidak menentu. Pada hari tertentu, omzetnya hanya Rp 15 ribu, tetapi pada hari lain bisa mencapai Rp 100 ribu.

Bahkan, ada momen ketika ia sama sekali tidak menerima pesanan. Kondisi itu menjadi tantangan besar bagi pelaku usaha mikro yang baru merintis. Namun, Hikma tetap bertahan dengan menjaga konsistensi rasa dan pelayanan kepada pelanggan.

Perubahan mulai terasa ketika Salad Umma memperoleh sertifikasi halal. Setelah itu, ia juga aktif mengikuti kegiatan bazar yang diselenggarakan Jakpreneur. Dari ajang tersebut, jejaring usahanya meluas dan membuka peluang pesanan baru.

Jejaring itu kemudian mengantarkan Salad Umma ke pesanan rutin untuk rapat kementerian dan pemerintah daerah. Omzet harian pun meningkat tajam dan dapat mencapai Rp 1 juta per hari. Dukungan pendampingan membuat usaha yang semula kecil menjadi lebih dipercaya pasar.

KUR BRI Dorong Pertumbuhan

Salah satu faktor penting yang mendorong perkembangan Salad Umma adalah akses pembiayaan KUR BRI. Skema pembiayaan ini membantu pelaku usaha mikro mendapatkan tambahan modal dengan proses yang lebih terjangkau. Bagi Hikma, dukungan tersebut menjadi pijakan untuk meningkatkan kapasitas produksi.

Dengan tambahan modal, ia dapat menata ulang kebutuhan usaha secara lebih rapi. Pembelian bahan baku, peralatan, dan kemasan bisa dilakukan tanpa mengganggu arus kas harian secara berlebihan. Hal itu membuat operasional usaha menjadi lebih stabil dibandingkan saat awal merintis.

Kombinasi antara modal, pelatihan, dan pendampingan memberi ruang bagi Hikma untuk memperluas pasar. Produk salad yang ditawarkannya tidak lagi hanya menyasar pembeli sekitar, tetapi juga pelanggan institusional. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa usaha rumahan pun bisa naik kelas jika dikelola dengan disiplin.

Kisah Hikma menjadi contoh bahwa kegigihan dapat mengubah kondisi sulit menjadi peluang baru. Dari kehilangan pekerjaan utama, ia justru menemukan jalan berbeda melalui usaha kuliner sehat. Salad Umma kini berdiri sebagai bukti bahwa dukungan yang tepat bisa mengubah usaha kecil menjadi lebih berdaya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!