Bamsoet Dorong Investasi China untuk Data Center

Teknologi BRH 29 Mei 2026 22:34 WIB 4
Bamsoet Dorong Investasi China untuk Data Center

Anggota DPR RI Bambang Soesatyo mendorong masuknya investasi dari China untuk mempercepat pengembangan ekosistem data center nasional. Ia menilai langkah itu penting di tengah pertumbuhan pasar digital Indonesia yang pesat dan lonjakan kebutuhan infrastruktur kecerdasan buatan atau AI. Pernyataan tersebut disampaikan Bamsoet usai mendampingi Wakil Gubernur Provinsi Hebei, China, Zhao Chenxin, bertemu Menko Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Selasa (26/5/26). Menurutnya, penguatan sektor digital harus berjalan seiring dengan pembenahan tata kelola perdagangan dan logistik nasional.

Ia menegaskan Indonesia memiliki daya tarik besar di mata investor internasional, mulai dari populasi digital yang masif, kebutuhan cloud yang terus meningkat, hingga proyeksi pasar data center yang diperkirakan mencapai USD 9,43 miliar pada 2030. Namun, potensi itu masih perlu didukung kepastian regulasi, ketersediaan energi, insentif fiskal, dan kemudahan perizinan. Di saat yang sama, Indonesia juga masih menghadapi persoalan shipping line yang dinilai menjadi sumber kebocoran devisa dan tingginya biaya ekonomi nasional. Karena itu, Bamsoet menyebut momentum pengembangan data center saat ini sangat tepat.

Investasi China dan data center

Bamsoet menyebut investor China memiliki kapasitas teknologi, pembiayaan, dan pengalaman membangun ekosistem digital berskala besar. Menurutnya, kemampuan tersebut dapat dipadukan dengan potensi domestik yang terus berkembang. Indonesia, kata dia, harus menjadi tujuan utama investasi dengan menawarkan ekosistem yang lebih pasti dan kompetitif. Ia menilai sinergi ini akan mempercepat transformasi digital nasional.

Ia menjelaskan, kebutuhan layanan cloud, penyimpanan data, dan komputasi AI meningkat tajam seiring bertambahnya pengguna internet di Indonesia. Jumlah koneksi perangkat digital yang telah menembus lebih dari 350 juta menjadi bukti besarnya pasar yang tersedia. Kondisi itu membuat data center menjadi infrastruktur strategis bagi berbagai sektor usaha. Karena itu, dukungan modal dan teknologi dari luar negeri dianggap relevan untuk memperkuat ekosistem tersebut.

Menurut Bamsoet, pemerintah juga telah membuka ruang investasi yang lebih kompetitif melalui insentif fiskal, kawasan ekonomi khusus, serta fleksibilitas kepemilikan modal asing di sektor infrastruktur digital. Beragam kebijakan itu dinilai memberi sinyal positif kepada pelaku usaha global. Meski demikian, ia menekankan bahwa kebijakan yang ramah investor harus diikuti kepastian pelaksanaan di lapangan. Tanpa itu, Indonesia berisiko kehilangan momentum di tengah persaingan kawasan.

Batam dan koridor digital

Bamsoet menilai sejumlah wilayah di Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan data center berskala internasional. Batam, menurut dia, unggul karena memiliki kedekatan konektivitas dengan Singapura. Sementara itu, koridor industri Jawa seperti Cikarang memiliki keunggulan pasokan energi dan jaringan. Kombinasi faktor tersebut membuat investor memiliki banyak opsi lokasi strategis.

Ia juga menyoroti potensi kawasan timur Indonesia, khususnya Manado, yang mulai diperhitungkan karena tersambung ke jaringan kabel bawah laut internasional. Infrastruktur itu membuka akses langsung ke pasar Amerika Serikat dan memperluas jangkauan konektivitas global. Bagi Bamsoet, pemerataan pengembangan data center di berbagai wilayah akan memperkuat daya saing nasional. Selain itu, sebaran pusat data juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Indonesia, lanjutnya, memiliki semua prasyarat untuk menjadi kekuatan baru industri data center di Asia. Pasar digital terbesar di Asia Tenggara, posisi geografis strategis, serta lonjakan kebutuhan komputasi akibat perkembangan artificial intelligence menjadi modal utama. Dukungan kebijakan pemerintah yang semakin kompetitif turut memperkuat peluang tersebut. Ia menegaskan, tantangan berikutnya adalah memastikan ekosistem itu benar-benar siap menyerap investasi besar.

Biaya logistik masih tinggi

Di sisi lain, Bamsoet menyoroti persoalan shipping line yang selama ini menjadi salah satu titik lemah ekonomi nasional. Ketergantungan terhadap kapal asing untuk angkutan ekspor-impor membuat biaya logistik tetap tinggi. Kondisi itu juga menyebabkan devisa terus mengalir keluar dari perekonomian domestik. Ia menilai masalah ini harus ditangani bersama dengan agenda penguatan ekonomi digital.

Bamsoet menyebut biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran lebih dari 14 persen terhadap PDB. Angka tersebut menjadi tantangan besar bagi efisiensi perdagangan nasional. Persoalan ini diperparah oleh lamanya waktu tunggu pelabuhan, lemahnya integrasi rantai pasok, serta minimnya utilisasi galangan kapal domestik. Menurutnya, tanpa perbaikan sistemik, daya saing ekspor Indonesia akan sulit meningkat.

Ia menegaskan perlunya pembenahan menyeluruh mulai dari pelabuhan, kepabeanan, sistem ekspor, hingga penguatan armada nasional. Selama angkutan laut ekspor-impor masih didominasi pihak asing dan tata kelola perdagangan belum transparan, keuntungan ekonomi nasional akan terus bocor. Bamsoet juga mendukung langkah Presiden Prabowo Subianto dalam memperketat pengawasan ekspor komoditas strategis. Menurutnya, pembenahan sektor ini harus menjadi agenda prioritas pemerintah.

Pengawasan ekspor diperketat

Bamsoet menilai praktik manipulasi dokumen ekspor, under-invoicing, transfer pricing, dan penempatan keuntungan di luar negeri telah lama menjadi sumber kebocoran ekonomi nasional. Ia menyebut kebijakan pengawasan yang lebih terintegrasi diperlukan agar aktivitas perdagangan dapat memberi manfaat maksimal bagi negara. Penguatan sistem ekspor juga dinilai penting untuk menutup celah penyimpangan. Dengan pengawasan yang lebih ketat, potensi penerimaan negara dapat lebih terjaga.

Ia mendukung kewajiban penempatan devisa hasil ekspor di dalam negeri sebagai langkah untuk mengembalikan manfaat perdagangan kepada perekonomian nasional. Menurutnya, setiap dolar hasil ekspor sumber daya alam harus memberi dampak langsung bagi pembangunan. Negara, kata dia, tidak boleh kehilangan ruang fiskal akibat lemahnya pengawasan perdagangan. Kebijakan ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang.

Bamsoet menegaskan pembenahan shipping line, penguatan industri maritim, dan pembangunan data center harus dipandang sebagai satu paket transformasi ekonomi Indonesia. Ketiganya, menurut dia, saling berkaitan dalam membangun negara industri dan ekonomi digital yang berdaulat. Jika dijalankan konsisten, Indonesia berpeluang memperkuat posisi sebagai pusat pertumbuhan baru di Asia. Ia pun optimistis arah kebijakan yang tepat dapat mengubah potensi besar itu menjadi kekuatan ekonomi nyata.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!