Ayana Prioritaskan Kuliah S2 Oxford, Entertainment Hanya Selingan

Lifestyle Nadia Safira Putri 21 Mei 2026 23:32 WIB 7
Ayana Prioritaskan Kuliah S2 Oxford, Entertainment Hanya Selingan

Ayana menegaskan dirinya tidak pernah menempatkan dunia entertainment sebagai fokus utama karier. Perempuan berusia 30 tahun itu menyebut pekerjaan di industri hiburan hanya sebagai selingan di sela kesibukannya sebagai pekerja kantoran dan akademisi. Pernyataan itu ia sampaikan saat ditemui di kawasan Studio TransTV, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada Selasa, 19 Mei 2026. Di tengah jadwal padat, Ayana justru bersiap melangkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi di Inggris.

Ia dijadwalkan berangkat ke Inggris pada September mendatang untuk menempuh pendidikan S2 di Universitas Oxford. Bidang yang akan didalami adalah public policy, atau kebijakan publik, yang selaras dengan latar belakang pendidikannya di jenjang sarjana. Keputusan itu menunjukkan bahwa Ayana memandang pendidikan sebagai prioritas utama, bukan popularitas semata. Di saat banyak figur publik sibuk memperluas eksposur, ia memilih jalur akademik yang lebih terarah.

Fokus di Luar Sorot

Ayana menegaskan bahwa dirinya tidak terlalu bergantung pada dunia entertainment untuk karier. Ia lebih banyak menjalani rutinitas di kantor dan menyebut aktivitas hiburan hanya sebagai tambahan. Menurutnya, pekerjaan utama tetap berada di luar panggung dan kamera. Sikap itu memperlihatkan bahwa ia memiliki arah hidup yang jelas.

Dalam keterangannya, Ayana juga mempertanyakan alasan untuk memusatkan perhatian pada dunia hiburan. Ia merasa lebih tepat jika tenaga dan waktunya diarahkan pada pekerjaan inti. Baginya, dunia entertainment tidak pernah menjadi tujuan akhir. Pandangan itu menempatkan karier sebagai sesuatu yang harus seimbang dengan prioritas lain.

Meski dikenal publik, Ayana tampak ingin menjaga identitas profesionalnya di luar panggung hiburan. Ia menempatkan profesi kantoran dan aktivitas akademik sebagai fondasi utama. Karena itu, ketertarikannya pada entertainment tidak berubah menjadi ketergantungan. Posisi tersebut membuatnya terlihat lebih selektif dalam menentukan langkah.

Pendekatan itu juga menunjukkan bahwa Ayana tidak ingin hidup hanya dari sorotan sesaat. Ia memilih jalur yang lebih stabil dan berjangka panjang. Di tengah kesibukan yang beragam, ia tetap menegaskan batas yang tegas antara pekerjaan utama dan hiburan. Bagi Ayana, konsistensi menjadi kunci untuk menjaga arah karier.

Langkah ke Oxford

Rencana Ayana melanjutkan studi ke Universitas Oxford menjadi babak baru dalam hidupnya. Ia memilih program yang berkaitan dengan public policy karena merasa bidang tersebut sesuai dengan minat dan pendidikannya sebelumnya. Pilihan itu juga memperlihatkan kesinambungan antara jenjang S1 dan S2 yang akan ditempuh. Dengan begitu, langkah akademiknya tampak terstruktur dan terukur.

Keberangkatan ke Inggris pada September mendatang menjadi penanda dimulainya perjalanan studi tersebut. Oxford dikenal sebagai salah satu kampus paling prestisius di dunia, sehingga keputusan itu menjadi sorotan. Namun Ayana tampak tidak terintimidasi oleh nama besar universitas tersebut. Ia justru melihatnya sebagai kesempatan untuk memperdalam kapasitas intelektual.

Ketika ditanya soal tantangan kuliah di kampus bergengsi, Ayana menjawab dengan tenang. Ia tidak ingin membesarkan beban psikologis sebelum menjalani proses tersebut. Menurutnya, yang terpenting adalah kesiapan untuk belajar dan bertahan. Sikap itu membuatnya terdengar realistis dan percaya diri.

Public policy dipilih bukan tanpa alasan, sebab bidang itu berkaitan erat dengan dunia politik yang pernah ia tekuni sebelumnya. Keterkaitan tersebut memberi landasan akademik yang kuat untuk melanjutkan studi. Ayana tampaknya ingin memperluas pemahaman dari pengalaman praktis ke ranah teoritis. Langkah ini berpotensi memperkaya kiprahnya di masa mendatang.

Mandiri dan Siap

Ayana menegaskan bahwa dirinya sudah mandiri secara finansial. Ia tidak ingin diperlakukan seperti anak remaja yang masih bergantung pada keluarga. Saat ditanya mengenai dukungan biaya kuliah, ia menekankan bahwa usianya sudah 30 tahun. Pernyataan itu menunjukkan keyakinan penuh atas kemandirian yang ia bangun sendiri.

Sikap tersebut juga terlihat ketika ia menjawab soal beasiswa atau pembiayaan studi. Ayana memastikan bahwa dirinya memiliki uang sendiri untuk menempuh pendidikan di Oxford. Jawaban itu disampaikan tanpa keraguan, seolah menutup spekulasi yang berkembang. Baginya, kesiapan finansial adalah bagian penting dari tanggung jawab pribadi.

Ia tidak terlalu mempersoalkan biaya kuliah yang dikenal fantastis di universitas tersebut. Fokus utamanya adalah memastikan proses belajar dapat berjalan lancar. Dengan bekal ekonomi yang cukup, Ayana tampak lebih tenang menghadapi fase baru dalam hidupnya. Ketenangan itu memberi kesan bahwa ia telah mempersiapkan langkah tersebut sejak lama.

Kemandirian finansial membuatnya lebih leluasa menentukan jalan hidup. Ayana tidak menempatkan orang lain sebagai penentu utama atas rencananya. Ia memilih berdiri di atas kemampuan sendiri, baik dalam karier maupun pendidikan. Sikap ini memperkuat citra dirinya sebagai perempuan yang matang dan bertanggung jawab.

Menata Ritme Hidup

Di tengah rencana studi, Ayana tetap harus membagi waktu antara Indonesia, Malaysia, dan Korea Selatan. Jadwal itu berkaitan dengan pekerjaan kantoran dan aktivitas kuliah yang akan segera dimulai. Meski terdengar melelahkan, ia mengaku menikmati ritme hidup yang dinamis. Baginya, kesibukan justru menjadi sumber semangat.

Ayana menyebut bahwa bisa bekerja dan bertemu banyak teman adalah kebahagiaan tersendiri. Ia melihat aktivitas sehari-hari sebagai ruang untuk belajar dan berkembang. Karena itu, mobilitas tinggi tidak dianggap sebagai beban. Pandangan tersebut membuatnya tampak adaptif menghadapi perubahan.

Menjelang keberangkatan ke Oxford, fokus utamanya kini adalah menjaga kesehatan. Ia tidak menyiapkan langkah yang rumit, melainkan menjaga kondisi fisik agar tetap prima. Dengan tubuh yang bugar, ia berharap dapat menjalani studi secara maksimal. Prioritas itu menunjukkan pendekatan yang sederhana namun efektif.

Perjalanan pendidikan Ayana menjadi contoh bahwa sorotan publik tidak selalu menjadi tujuan utama seorang figur publik. Ia memilih menata hidup dengan menempatkan akademik, pekerjaan, dan kemandirian dalam satu garis yang seimbang. Keputusan itu memberi gambaran tentang arah hidup yang dewasa. Di tengah kesibukan, Ayana tetap memegang satu prinsip, menyelesaikan studi dengan hasil yang memuaskan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!