Atta Halilintar Ajak Anak Pahami Makna Kurban

Lifestyle Clara Monica 30 Mei 2026 21:46 WIB 2
Atta Halilintar Ajak Anak Pahami Makna Kurban

Atta Halilintar membagikan cara ia mengenalkan makna kurban kepada dua putrinya, Ameena dan Azura, menjelang Idul Adha. Ia menuturkan bahwa pendidikan soal pengorbanan dan cinta kepada Allah SWT menjadi bagian penting dalam keseharian keluarganya. Hal itu disampaikannya saat ditemui di kawasan Mampang, Senin, 25 Mei 2026. Dalam kesempatan tersebut, Atta juga menceritakan pengalaman membawa anak-anaknya melihat langsung proses mencari hewan kurban.

Menurut Atta, penjelasan tentang kisah Nabi Ismail membuat Ameena dan Azura sempat terkejut. Namun, momen itu justru menjadi pintu masuk untuk menjelaskan bahwa cinta kepada Tuhan harus berada di atas segala hal. Ia ingin anak-anaknya memahami bahwa kasih sayang kepada orang tua, anak, maupun harta tetap harus ditempatkan di bawah kecintaan kepada Allah SWT. Dari proses itu, Atta menilai kedua putrinya mulai memahami pesan yang ingin ia sampaikan.

Pemahaman Kurban Keluarga

Atta Halilintar mengatakan, ia sengaja menjelaskan kisah kurban dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami anak-anak. Ia menceritakan bahwa pada zaman Nabi, terdapat perintah kepada Nabi Ismail untuk dikurbankan sebagai bentuk ketaatan. Penjelasan itu membuat Ameena dan Azura bertanya mengapa seorang anak bisa menjadi bagian dari kisah pengorbanan. Atta lalu menegaskan bahwa inti dari ibadah kurban adalah kepatuhan kepada Allah SWT.

Ia menambahkan bahwa anak-anak sempat kaget mendengar cerita tersebut. Meski demikian, reaksi itu dianggap wajar karena mereka masih dalam tahap memahami nilai spiritual yang besar. Atta kemudian menekankan bahwa manusia tidak boleh mencintai dunia melebihi kecintaan kepada Tuhan. Pesan itu ia sampaikan dengan harapan anak-anaknya tumbuh dengan pemahaman agama yang kuat.

Dalam penjelasannya, Atta juga mengingatkan bahwa rasa cinta kepada keluarga dan barang yang dimiliki tetap penting. Akan tetapi, semua itu harus ditempatkan dalam kerangka iman yang benar. Ia menilai pemahaman seperti ini perlu ditanamkan sejak dini agar anak tidak terjebak pada kecintaan berlebihan terhadap dunia. Menurutnya, anak-anak mulai memahami maksud tersebut setelah mendengar penjelasan berulang.

Atta mengaku senang karena Ameena dan Azura terlihat lebih mengerti setelah diajak berdialog. Ia menilai momen seperti ini tidak hanya menjadi ajang edukasi, tetapi juga penguatan nilai keluarga. Dengan cara itu, ia berharap anak-anaknya dapat tumbuh menjadi pribadi yang peka terhadap ajaran Islam. Baginya, makna kurban bukan sekadar ritual, melainkan pelajaran hidup yang harus diwariskan.

Perjalanan Ke Peternakan

Selain memberi penjelasan, Atta juga membawa anak-anaknya langsung ke lokasi pencarian hewan kurban. Ia menempuh perjalanan yang menurutnya cukup jauh agar Ameena dan Azura merasakan suasana di lapangan. Rute yang semula diperkirakan hanya sekitar satu jam melalui Google Maps, ternyata memakan waktu lebih lama. Perjalanan pulang pergi itu disebutnya mencapai tiga hingga empat jam.

Meski melelahkan, Atta menilai pengalaman tersebut sangat berharga bagi anak-anaknya. Ia ingin mereka melihat kehidupan masyarakat di perkampungan dan mengenal suasana peternakan secara langsung. Dengan cara itu, anak-anak tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga menyaksikan proses memilih hewan kurban terbaik. Atta meyakini pengalaman nyata lebih mudah membekas dalam ingatan anak.

Di lokasi tersebut, Ameena dan Azura diajak melihat kandang, mendekati hewan, dan berinteraksi dengan suasana sekitar. Atta mengatakan anak-anaknya terlihat menikmati proses itu meski harus menempuh perjalanan jauh. Ia menganggap kebiasaan seperti ini penting untuk membentuk empati dan kepedulian sosial. Menurutnya, Idul Adha akan lebih bermakna jika anak memahami proses dari awal hingga akhir.

Atta juga menilai perjalanan ke peternakan menjadi bagian dari pendidikan karakter. Ia ingin anak-anak belajar bahwa setiap ibadah memiliki proses yang perlu dijalani dengan kesabaran. Dari pengalaman tersebut, ia berharap Ameena dan Azura tumbuh dengan pemahaman bahwa berbagi tidak datang secara instan. Nilai itu, menurutnya, penting untuk kehidupan mereka di masa depan.

Keutamaan Zulhijah

Dalam kesempatan yang sama, Atta turut menyinggung keutamaan bulan Zulhijah. Ia menyebut bulan ini sebagai momen yang sangat istimewa bagi umat Islam. Salah satu ibadah yang ia soroti adalah puasa Arafah. Menurutnya, puasa tersebut memiliki keutamaan besar karena diyakini dapat menghapus dosa tahun lalu dan tahun yang akan datang, dengan izin Allah SWT.

Atta menilai keutamaan Zulhijah seharusnya membuat umat Islam semakin semangat beribadah. Ia menyebut bulan ini sebagai waktu yang penuh keberkahan dan kesempatan memperbanyak amal. Karena itu, ia berusaha memberi pemahaman kepada keluarganya agar tidak melewatkan makna spiritual di dalamnya. Baginya, ibadah bukan hanya rutinitas, tetapi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ia juga menekankan bahwa anak-anak perlu dikenalkan pada nilai-nilai ibadah melalui pengalaman langsung. Pengetahuan yang disampaikan dengan contoh nyata dinilai lebih mudah dipahami dibanding penjelasan yang terlalu teoritis. Atta mengaku ingin Ameena dan Azura melihat bahwa setiap momen keagamaan memiliki pesan yang mendalam. Dengan demikian, mereka dapat tumbuh dengan fondasi religius yang kuat.

Menurut Atta, bulan ini menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak syukur dan kepedulian. Ia percaya bahwa pendidikan agama yang dibarengi pengalaman lapangan akan lebih efektif bagi anak-anak. Karena itu, ia memanfaatkan momen Idul Adha untuk mengenalkan makna kurban, berbagi, dan ketaatan. Semua itu, katanya, penting agar anak memahami agama bukan hanya dari kata-kata, tetapi juga dari praktik sehari-hari.

Anak Belajar Berbagi

Atta Halilintar menyebut Ameena dan Azura sangat antusias saat melihat hewan kurban. Keduanya bahkan ikut memberi makan sapi dan kambing secara langsung. Menurut Atta, momen itu membuat anak-anak merasa senang sekaligus lebih dekat dengan proses ibadah kurban. Ia menilai keterlibatan sederhana seperti itu bisa menjadi pengalaman yang membentuk karakter.

Ia menambahkan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya, anak-anaknya memang sudah ikut berkurban. Namun, saat itu mereka belum benar-benar memahami arti dari ibadah tersebut. Karena itu, tahun ini Atta berusaha menghadirkan pengalaman yang lebih lengkap. Ia ingin anak-anak tidak hanya mengetahui hasil akhirnya, tetapi juga memahami proses dan maknanya.

Atta juga mengungkapkan belum tentu akan mengajak Ameena dan Azura menyaksikan langsung proses penyembelihan hewan kurban. Ia lebih memilih mereka terlibat dalam perawatan hewan dan pembagian daging kepada masyarakat. Menurutnya, pengalaman berbagi jauh lebih mudah diterima anak-anak pada usia mereka saat ini. Cara itu dinilai lebih sesuai untuk menanamkan empati dan kepedulian sosial.

Ia berharap pengalaman tersebut membuat anak-anak belajar bahwa berkurban bukan hanya soal ibadah individual. Lebih dari itu, kurban adalah sarana untuk berbagi dengan sesama dan memahami kehidupan sosial secara langsung. Atta meyakini nilai tersebut akan tertanam lebih kuat jika diajarkan dengan contoh nyata. Dengan pendekatan itu, ia ingin Ameena dan Azura tumbuh sebagai anak yang peka, bersyukur, dan dermawan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!