Atta Halilintar Ajak Ameena dan Azura Pahami Makna Kurban

Lifestyle Clara Monica 30 Mei 2026 20:22 WIB 2
Atta Halilintar Ajak Ameena dan Azura Pahami Makna Kurban

Atta Halilintar mengajak dua putrinya, Ameena dan Azura, memahami makna kurban dengan cara yang sederhana namun mendalam. Ia menceritakan kisah Nabi Ismail serta menanamkan pesan bahwa cinta kepada Allah SWT harus menjadi yang utama. Momen itu terjadi saat ia ditemui di kawasan Mampang, Senin (25/5/2026). Pengalaman tersebut ia jadikan sarana pendidikan keluarga menjelang Idul Adha.

Selain bercerita, Atta juga membawa Ameena dan Azura langsung ke lokasi peternakan untuk memilih hewan kurban. Ia sengaja menempuh perjalanan jauh agar anak-anaknya merasakan suasana perkampungan dan proses mencari hewan terbaik. Menurutnya, pengalaman langsung akan membuat ajaran Islam lebih mudah dipahami anak. Ia menilai momen Idul Adha harus dikenalkan melalui praktik, bukan hanya penjelasan.

Makna kurban untuk anak

Atta menjelaskan kisah Nabi Ismail kepada anak-anaknya dengan bahasa yang mudah dipahami. Ia ingin Ameena dan Azura mengerti bahwa kurban bukan sekadar tradisi tahunan. Baginya, ibadah ini mengajarkan pengorbanan, kepatuhan, dan cinta kepada Tuhan. Ia menilai pendidikan spiritual perlu dimulai dari lingkungan keluarga.

Kedua anaknya disebut sempat terkejut saat mendengar cerita tersebut. Mereka bertanya mengapa seorang anak bisa disebut akan dikurbankan. Atta lalu menerangkan bahwa dalam ajaran Islam, kecintaan kepada Allah SWT tidak boleh dikalahkan oleh apa pun. Penjelasan itu ia sampaikan dengan cara yang lembut agar mudah diterima.

Ia juga mengingatkan bahwa manusia tetap boleh mencintai keluarga dan harta benda. Namun, kecintaan tersebut tidak boleh melebihi cinta kepada Allah SWT. Menurut Atta, semua yang dimiliki manusia pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Karena itu, anak-anak perlu memahami prioritas dalam hidup sejak dini.

Atta menilai Ameena dan Azura cukup cepat menangkap pesan yang ia sampaikan. Ia merasa mereka mulai memahami bahwa kurban bukan hanya soal hewan yang disiapkan. Lebih dari itu, kurban berkaitan dengan ketundukan dan keikhlasan. Pemahaman tersebut, menurutnya, penting untuk dibentuk sejak usia anak-anak.

Perjalanan jauh ke peternakan

Untuk mencari hewan kurban, Atta memilih membawa anak-anaknya langsung ke peternakan. Ia ingin mereka melihat sendiri bagaimana hewan dirawat sebelum disembelih. Perjalanan yang ditempuh ternyata memakan waktu lebih lama dari perkiraan. Namun, ia menganggap hal itu sepadan dengan pengalaman yang didapatkan keluarga.

Atta mengatakan perjalanan yang biasanya hanya sekitar satu jam melalui peta digital justru menjadi dua jam. Pulang pergi, ia dan anak-anak menghabiskan sekitar tiga hingga empat jam. Meski melelahkan, ia menyebut pengalaman itu memberi kesan tersendiri bagi Ameena dan Azura. Mereka bisa merasakan suasana yang berbeda dari kehidupan sehari-hari di kota.

Menurut Atta, anak-anak perlu mengenal kondisi masyarakat secara langsung. Karena itu, ia ingin Ameena dan Azura melihat kandang, peternakan, dan proses memilih hewan kurban terbaik. Ia berharap pengalaman tersebut membuat mereka lebih peka terhadap kehidupan sekitar. Cara itu juga dinilai efektif untuk menanamkan nilai kepedulian.

Ia menegaskan bahwa bulan Zulhijah merupakan waktu yang istimewa bagi umat Islam. Bagi Atta, momen tersebut tidak boleh dilewatkan hanya sebagai rutinitas tahunan. Ia ingin keluarga kecilnya memahami bahwa ibadah kurban memiliki dimensi sosial dan spiritual. Dengan begitu, maknanya akan terasa lebih dalam.

Antusiasme Ameena dan Azura

Selama berada di lokasi, Ameena dan Azura disebut sangat antusias. Keduanya bahkan ikut memberi makan sapi dan kambing secara langsung. Atta melihat hal itu sebagai tanda bahwa anak-anaknya menikmati proses belajar. Ia menilai keterlibatan langsung membuat mereka lebih mudah mengingat pengalaman tersebut.

Ia merasa senang melihat anak-anaknya berinteraksi dengan hewan ternak tanpa rasa takut berlebihan. Menurut Atta, sikap itu penting karena bisa menumbuhkan rasa empati. Ia juga ingin mereka tumbuh dengan kebiasaan berbagi kepada sesama. Nilai tersebut, katanya, akan terus ia ajarkan di rumah.

Atta mengaku pada tahun-tahun sebelumnya Ameena dan Azura sudah ikut berkurban. Namun, saat itu mereka belum sepenuhnya memahami arti dari ibadah tersebut. Karena itu, ia berusaha memperkenalkan makna kurban secara bertahap. Baginya, pengulangan pengalaman akan membantu anak menyerap pesan yang lebih utuh.

Ia berharap pengalaman memberi makan hewan kurban menjadi awal dari pemahaman yang lebih luas. Dari situ, anak-anak diharapkan bisa belajar tentang tanggung jawab dan kepedulian. Atta juga ingin mereka memahami bahwa berbagi adalah bagian penting dari ajaran Islam. Pendidikan semacam ini, menurutnya, perlu dilakukan secara konsisten.

Pelajaran puasa Arafah

Selain kurban, Atta juga menyinggung keutamaan ibadah di bulan Zulhijah. Ia menyebut puasa Arafah sebagai amalan yang memiliki keistimewaan besar. Menurutnya, banyak umat Islam menaruh perhatian pada ibadah tersebut karena pahala dan pengampunan yang dijanjikan. Hal itu membuat bulan ini terasa sangat berharga.

Ia mengingatkan bahwa puasa Arafah menjadi momentum untuk memperbanyak amal. Atta menyampaikan bahwa ada harapan agar dosa setahun lalu, tahun ini, hingga tahun depan dapat diampuni. Meski demikian, ia tetap menekankan pentingnya bersikap rendah hati. Baginya, keutamaan ibadah harus disikapi dengan kesungguhan, bukan sekadar pengetahuan.

Atta menilai keluarga perlu saling mengingatkan untuk memanfaatkan bulan yang mulia ini. Ia menganggap pendidikan agama akan lebih bermakna jika disampaikan melalui kebiasaan sehari-hari. Karena itu, ia tidak hanya berbicara, tetapi juga mengajak anak-anaknya merasakan langsung proses kurban. Langkah tersebut ia pilih agar nilai ibadah lebih membekas.

Ia kemudian menutup penjelasannya dengan harapan agar Ameena dan Azura tumbuh menjadi pribadi yang peka dan dermawan. Atta ingin mereka mengenal agama bukan hanya dari cerita, tetapi juga dari pengalaman nyata. Baginya, momen kurban adalah sarana penting untuk menanamkan akhlak dan kepedulian. Dari sana, ia berharap nilai-nilai itu akan terbawa hingga dewasa.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!