Anime Diuji Jadi Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Lifestyle Nadia Safira Putri 22 Mei 2026 21:35 WIB 14
Anime Diuji Jadi Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Anime yang selama ini identik dengan hiburan kini tengah diuji perannya dalam isu yang jauh lebih serius, yakni kesehatan mental di Jepang. Gagasan ini datang dari psikiater asal Italia, Francesco Panto, yang meneliti apakah karakter anime dapat membantu orang yang mengalami stres, burnout, hingga depresi.

Lewat pendekatan konseling berbasis karakter, Francesco dan timnya menjalankan studi percontohan di Yokohama City University selama enam bulan dan rampung pada Maret 2026. Proyek ini melibatkan 20 responden berusia 18 hingga 29 tahun, yang menerima sesi konseling online dengan psikolog berwujud avatar anime.

Anime dan kesehatan mental

Francesco mengatakan minatnya terhadap anime berawal dari pengalaman pribadi saat tumbuh di pedesaan Sisilia, Italia. Saat remaja, ia merasa anime dan manga menjadi tempat berlindung ketika kesulitan menemukan jati diri.

Ia menilai karya populer seperti anime dan permainan video bisa memberi dukungan emosional yang nyata bagi sebagian orang. Pengalaman itu kemudian mendorongnya meneliti kemungkinan terapi berbasis karakter yang lebih mudah diterima oleh pasien muda.

Dalam pandangannya, karakter anime dapat menjadi jembatan emosional yang membuat seseorang lebih nyaman membuka diri. Dengan cara itu, persoalan mental yang dialami peserta diharapkan lebih mudah dikenali sejak awal.

Konseling berbasis karakter

Studi ini menggunakan konsep character-based counselling, yaitu konseling dengan psikolog yang tampil sebagai avatar anime. Suara digital psikolog juga dimodifikasi agar sesuai dengan karakter yang dipilih peserta.

Tim peneliti menyiapkan enam karakter dengan latar dan kepribadian yang berbeda. Ada figur keibuan yang tenang namun membawa senjata, hingga sosok pria bergaya pangeran yang digambarkan sangat peka secara emosional.

Peserta diberi kebebasan memilih karakter yang paling sesuai dengan diri mereka. Francesco menjelaskan bahwa setiap tokoh dirancang memiliki perjuangan mental yang spesifik agar terasa relevan, tetapi tetap menarik untuk diikuti.

Metode dan temuan awal

Salah satu karakter bernama Kuroto Nagi digambarkan memiliki ciri bipolar. Karakter lain dibangun dengan latar gangguan kecemasan, trauma pasca-kejadian traumatis, hingga masalah konsumsi alkohol.

Meski mengangkat isu serius, para peneliti tetap menjaga agar karakter-karakter tersebut terasa menyenangkan. Psikolog juga diminta tidak membuat penjelasan masalah mental terlalu gamblang pada tahap awal sesi.

Penelitian ini turut memantau detak jantung dan pola tidur peserta untuk melihat apakah pendekatan tersebut aman dan efektif. Hasil pemantauan itu diharapkan memberi gambaran apakah terapi ala anime bisa menurunkan gejala depresi.

Stigma dan harapan baru

Penelitian tersebut juga menjadi bagian dari upaya Jepang mencari solusi atas tantangan kesehatan mental, termasuk fenomena ikizurasa. Istilah itu merujuk pada perasaan sulit menjalani hidup dan bertahan dalam masyarakat.

Mio Ishii, asisten profesor yang ikut memimpin proyek, menyebut ada banyak anak muda yang tidak mampu pergi ke sekolah atau mempertahankan pekerjaan. Menurut dia, kebutuhan terbesar saat ini adalah memberi mereka pilihan baru untuk pulih dari tekanan hidup.

Ia juga menyoroti masih kuatnya stigma terhadap pencarian bantuan psikologis di Jepang. Data World Economic Forum yang dikutip menunjukkan hanya sekitar 6 persen masyarakat Jepang yang pernah menggunakan layanan konseling psikologis hingga 2022.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!