Anime Dipelajari sebagai Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Lifestyle Clara Monica 30 Mei 2026 01:53 WIB 4
Anime Dipelajari sebagai Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Anime yang selama ini identik sebagai hiburan populer kini diuji untuk peran yang lebih serius di Jepang, yakni membantu kesehatan mental. Gagasan ini datang dari psikiater asal Italia, Francesco Panto, yang meneliti potensi karakter anime untuk meredakan stres, burnout, hingga depresi.

Melalui studi percontohan di Yokohama City University, Francesco dan timnya menguji konseling berbasis karakter terhadap 20 responden berusia 18 hingga 29 tahun. Peserta menerima sesi daring dari psikolog yang tampil sebagai avatar anime, lengkap dengan suara digital yang dimodifikasi.

Anime dan Kesehatan Mental

Francesco mengaku ketertarikannya berawal dari pengalaman pribadi saat tumbuh di pedesaan Sisilia, Italia. Pada masa remaja, anime dan manga menjadi tempat berlindung ketika ia kesulitan menemukan jati diri.

Ia menyebut kisah dan karakter dalam manga maupun anime sangat membantu dirinya secara emosional. Pengalaman itu kemudian membentuk pandangannya bahwa medium populer ini dapat memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan.

Dalam pandangannya, karakter anime memberi jarak aman bagi seseorang untuk lebih terbuka terhadap persoalan batin. Jarak tersebut, kata Francesco, bisa membuat pembahasan mengenai kesehatan mental terasa lebih ringan dan mudah diterima.

Terapi Berbasis Karakter

Penelitian yang dijalankan bersama timnya mengusung konsep character-based counselling atau konseling berbasis karakter. Dalam metode ini, psikolog tidak tampil sebagai sosok konvensional, melainkan sebagai avatar anime yang dirancang khusus.

Tim peneliti menciptakan enam karakter dengan kepribadian dan latar yang berbeda, mulai dari figur keibuan yang tenang hingga sosok pria bergaya pangeran yang emosional. Setiap karakter terinspirasi dari arketipe khas manga Jepang agar peserta merasa dekat dengan representasi yang dipilih.

Francesco menjelaskan bahwa setiap karakter diberi persoalan mental yang spesifik, seperti bipolar, gangguan kecemasan, PTSD, hingga masalah konsumsi alkohol. Meski mengangkat tema berat, karakter tersebut tetap dibuat menarik, menyenangkan, dan mudah disukai peserta.

Harapan dari Studi Awal

Dalam sesi penelitian, peserta bebas memilih karakter yang paling sesuai dengan dirinya. Pendekatan itu diharapkan menciptakan filter fantasi yang membuat mereka lebih nyaman untuk membicarakan kondisi psikologis yang dialami.

Studi awal tersebut juga memantau detak jantung dan pola tidur peserta untuk menilai dampak terapi terhadap gejala depresi. Dengan cara itu, peneliti ingin memastikan apakah pendekatan berbasis anime benar-benar layak diterapkan sebagai metode pendukung kesehatan mental.

Francesco menegaskan hasil penelitian ini diharapkan dapat mengonfirmasi teori bahwa karakter anime mampu membantu proses pemulihan. Jika terbukti efektif, metode ini dapat membuka jalan bagi bentuk konseling yang lebih ramah bagi generasi muda.

Stigma Kesehatan Mental

Proyek ini hadir di tengah tantangan kesehatan mental yang masih besar di Jepang, termasuk fenomena ikizurasa, yaitu perasaan sulit menjalani hidup dan bertahan dalam masyarakat. Mio Ishii, asisten profesor yang memimpin proyek tersebut, menilai banyak anak muda kesulitan pergi ke sekolah atau mempertahankan pekerjaan.

Menurut Mio, tujuan utama riset ini adalah memberi pilihan baru bagi mereka yang tengah menghadapi kesulitan psikologis. Ia menilai pendekatan yang lebih akrab dengan budaya populer bisa menjadi pintu masuk yang lebih aman untuk mencari bantuan.

Mio juga menyoroti stigma terhadap layanan kesehatan mental yang masih kuat di Jepang. Data World Economic Forum yang ia kutip menunjukkan, hingga 2022 baru sekitar 6 persen masyarakat Jepang yang pernah menggunakan layanan konseling psikologis.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!