Anime Dikaji Jadi Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 13:05 WIB 2
Anime Dikaji Jadi Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Anime yang selama ini identik dengan hiburan kini sedang diuji untuk peran yang lebih serius di Jepang. Seorang psikiater asal Italia, Francesco Panto, memimpin penelitian yang menilai potensi anime untuk membantu mengatasi stres, burnout, hingga depresi. Proyek ini digelar di Yokohama City University melalui pendekatan konseling berbasis karakter. Temuan awalnya menunjukkan, pendekatan kreatif ini bisa menjadi pintu masuk baru bagi kesehatan mental.

Gagasan tersebut berangkat dari pengalaman pribadi Francesco saat tumbuh di pedesaan Sisilia, Italia. Ia mengaku anime dan manga menjadi tempat berlindung ketika remaja, terutama saat mencari jati diri. Pengalaman itu kemudian mendorongnya meneliti terapi yang memanfaatkan karakter ala anime. Di Jepang, metode ini dipandang relevan karena stigma terhadap layanan psikologis masih cukup kuat.

Anime dan Kesehatan Mental

Francesco menjelaskan bahwa pendekatan ini memanfaatkan daya tarik emosional dari karakter anime. Dalam studi percontohan selama enam bulan, peserta menerima konseling online dari psikolog yang tampil sebagai avatar anime. Suara digital para konselor juga dimodifikasi agar selaras dengan karakter yang digunakan. Menurutnya, kemasan fantasi dapat membuat peserta lebih nyaman membuka diri.

Penelitian tersebut melibatkan 20 responden berusia 18 hingga 29 tahun yang mengalami gejala depresi. Para peserta tidak menjalani konseling konvensional, melainkan sesi dengan tokoh virtual yang dirancang khusus. Tim peneliti menyebut pendekatan ini sebagai character-based counselling atau konseling berbasis karakter. Tujuannya adalah melihat apakah metode tersebut mampu mengurangi hambatan psikologis dalam sesi terapi.

Francesco menilai elemen fiksi dapat membantu peserta mengenali masalah mental tanpa merasa dihakimi. Ia menyebutnya sebagai semacam filter fantasi yang membuat proses konseling terasa lebih aman. Dengan cara itu, peserta diharapkan lebih mudah menceritakan pengalaman pribadi mereka. Pendekatan ini juga membuka ruang bagi mereka yang selama ini enggan datang langsung ke layanan psikologis.

Menurut Francesco, hasil penelitian diharapkan dapat mengonfirmasi manfaat teori tersebut secara ilmiah. Ia menilai terapi berbasis karakter bukan pengganti konseling biasa, melainkan opsi tambahan. Dalam konteks tertentu, model ini bisa menjangkau kelompok muda yang akrab dengan budaya anime. Karena itu, riset ini dipandang penting untuk melihat batas dan peluang penerapannya.

Karakter Fiksi dalam Terapi

Tim peneliti menciptakan enam karakter khusus untuk mendukung studi ini. Sosok-sosok tersebut dirancang memiliki latar emosional yang berbeda agar peserta bisa memilih figur yang paling cocok. Ada karakter dengan aura keibuan yang tenang, tetapi tetap membawa senjata. Ada pula pria bergaya pangeran berjubah yang digambarkan sangat peka secara emosional.

Setiap tokoh terinspirasi dari arketipe khas manga Jepang yang akrab bagi para penggemar. Francesco menyebut dirinya mencoba memberi masing-masing karakter perjuangan mental yang spesifik. Salah satunya adalah Kuroto Nagi, karakter dengan ciri-ciri bipolar. Karakter lain dibangun dengan latar gangguan kecemasan, trauma, hingga masalah konsumsi alkohol.

Meski mengangkat isu kesehatan mental, para karakter tetap dibuat menarik dan menyenangkan. Psikolog yang memimpin sesi memperkenalkan kisah masing-masing tokoh di awal pertemuan. Namun, detail masalah mental tidak dibuat terlalu gamblang agar tidak terasa berat. Strategi ini dinilai penting supaya peserta tetap merasa terhubung tanpa terbebani.

Para peserta juga diberi kebebasan memilih karakter yang paling sesuai dengan dirinya. Pilihan itu dimaksudkan untuk menciptakan rasa kedekatan emosional sejak awal terapi. Dalam dunia konseling, kedekatan seperti ini kerap menjadi faktor penting untuk membangun kepercayaan. Karena itu, desain karakter menjadi bagian inti dari metode yang diuji.

Jejak Pribadi Francesco

Ketertarikan Francesco pada metode ini tidak lepas dari perjalanan hidupnya sendiri. Ia tumbuh di lingkungan yang sarat stereotip soal gender dan ekspresi diri. Saat remaja, ia merasa sulit menemukan ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Di masa itu, anime dan video game menjadi tempat yang memberi rasa aman.

Ia menyebut pengalaman menonton dan membaca manga sangat membantu secara emosional. Bagi Francesco, karakter-karakter fiksi itu terasa lebih dekat dibanding lingkungan sosial di sekitarnya. Perubahan besar terjadi ketika ia mengenal Final Fantasy saat berusia sekitar 12 atau 13 tahun. Dari sana, ia melihat bahwa maskulinitas juga bisa hadir dalam bentuk yang beragam.

Karakter protagonis pria dalam gim tersebut, menurutnya, terasa sangat dekat dengan dirinya. Tokoh-tokoh itu tetap kuat, tetapi juga memiliki sisi lembut dan rentan. Pengalaman itu membentuk pandangannya tentang hubungan antara budaya populer dan kesehatan mental. Dari sanalah ide penelitian berbasis karakter mulai berkembang.

Francesco kemudian memanfaatkan latar akademiknya untuk menguji gagasan tersebut secara ilmiah. Ia melihat anime bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium empati. Dalam konteks terapi, kedekatan emosional dari budaya populer bisa menjadi jembatan awal. Jembatan itu penting bagi orang yang kesulitan menjelaskan perasaannya secara langsung.

Stigma dan Harapan Baru

Penelitian ini juga berkaitan dengan tantangan kesehatan mental yang lebih luas di Jepang. Salah satu isu yang disorot adalah ikizurasa, istilah untuk orang yang merasa sulit menjalani hidup dan bertahan dalam masyarakat. Banyak anak muda menghadapi kesulitan bersekolah atau mempertahankan pekerjaan. Kondisi itu membuat kebutuhan akan pendekatan baru semakin mendesak.

Mio Ishii, asisten profesor yang ikut memimpin proyek, mengatakan banyak anak muda membutuhkan jalur pulih yang lebih mudah dijangkau. Menurutnya, tujuan penelitian ini adalah memberi mereka pilihan baru saat menghadapi kesulitan. Ia menilai metode berbasis karakter berpotensi menjadi alternatif awal sebelum peserta melangkah ke terapi yang lebih formal. Pendekatan semacam ini dianggap lebih ramah bagi generasi muda.

Stigma terhadap bantuan psikologis masih menjadi hambatan besar di Jepang. Data yang dikutip World Economic Forum menyebut, hingga 2022 hanya sekitar 6 persen masyarakat Jepang yang pernah memakai layanan konseling psikologis untuk masalah kesehatan mental. Angka itu tertinggal jauh dibandingkan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Fakta tersebut menunjukkan masih besarnya jarak antara kebutuhan dan akses layanan.

Untuk tahap awal, penelitian ini juga memantau detak jantung dan pola tidur peserta. Pengamatan itu dilakukan untuk menilai apakah terapi ala anime layak diterapkan secara lebih luas. Tim peneliti ingin melihat apakah gejala depresi dapat berkurang melalui metode tersebut. Jika berhasil, pendekatan ini bisa menjadi model baru dalam layanan kesehatan mental modern.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!