Anime yang selama ini identik dengan hiburan kini mulai diuji untuk fungsi yang lebih serius di Jepang, yakni membantu kesehatan mental. Gagasan ini datang dari Francesco Panto, psikiater asal Italia yang mengembangkan terapi berbasis karakter anime untuk meredakan stres, burn out, hingga depresi.
Penelitian percontohan di Yokohama City University itu melibatkan responden muda berusia 18-29 tahun dengan gejala depresi. Alih-alih sesi tatap muka biasa, mereka menjalani konseling online dengan psikolog yang tampil sebagai avatar anime dan suara digital yang dimodifikasi.
Anime dan kesehatan mental
Francesco mengaku kedekatannya dengan anime bermula sejak remaja di pedesaan Sisilia, Italia. Saat itu, ia merasa anime dan manga menjadi tempat berlindung ketika kesulitan menemukan jati diri.
Ia menyebut pengalaman itu membantunya memahami bagaimana karakter fiksi dapat memberi dukungan emosional. Dalam pandangannya, kedekatan dengan tokoh anime bisa menjadi jembatan untuk membicarakan persoalan psikologis yang sulit diungkap secara langsung.
Pengalaman pribadi tersebut kemudian mendorongnya meneliti terapi berbasis karakter anime secara lebih serius. Studi enam bulan yang selesai pada Maret 2026 itu menjadi langkah awal untuk menguji apakah pendekatan ini benar-benar relevan dalam penanganan kesehatan mental.
Konseling berbasis karakter
Dalam proyek bertajuk character-based counselling, tim peneliti merekrut 20 responden muda yang mengalami gejala depresi. Mereka tidak hanya berbicara dengan psikolog, tetapi juga berinteraksi melalui persona anime yang dirancang khusus.
Francesco menjelaskan bahwa karakter anime memberi semacam filter fantasi yang membuat peserta merasa lebih nyaman. Dengan cara itu, responden diharapkan lebih mudah mengenali masalah yang mereka hadapi tanpa merasa dihakimi.
Tim peneliti menciptakan enam karakter dengan latar dan kepribadian berbeda untuk mendampingi peserta. Setiap responden diberi kebebasan memilih sosok yang paling terasa cocok dengan kondisi emosional mereka.
Karakter anime untuk terapi
Karakter yang dibuat tim peneliti terinspirasi dari arketipe khas manga Jepang, mulai dari figur keibuan yang tenang hingga sosok pria bak pangeran yang peka secara emosional. Salah satu karakter bernama Kuroto Nagi bahkan digambarkan memiliki ciri-ciri bipolar.
Karakter lain dirancang dengan latar gangguan kecemasan, trauma pascakejadian traumatis, hingga masalah konsumsi alkohol. Meski mengangkat isu kesehatan mental, seluruh tokoh tetap dibuat menarik dan menyenangkan agar tidak terasa mengintimidasi.
Psikolog memperkenalkan kisah tiap karakter di awal sesi, tetapi diminta agar persoalan mental tidak disampaikan terlalu gamblang. Pendekatan ini dipilih agar peserta tetap merasa dekat dengan karakter, sekaligus perlahan membuka pembicaraan soal kondisi mereka.
Stigma dan tantangan Jepang
Penelitian ini muncul di tengah upaya Jepang mencari solusi atas tantangan kesehatan mental, termasuk fenomena ikizurasa, yakni kondisi ketika seseorang merasa sulit menjalani hidup dan bertahan di masyarakat. Mio Ishii, asisten profesor yang ikut memimpin proyek, menyebut banyak anak muda kesulitan pergi ke sekolah atau mempertahankan pekerjaan.
Menurut Mio, tujuan penelitian ini adalah memberi pilihan baru bagi mereka yang ingin pulih dari kesulitan hidup. Ia menilai pendekatan yang lebih dekat dengan budaya populer berpotensi menjangkau kelompok yang selama ini enggan mencari bantuan profesional.
Mio juga menyoroti stigma yang masih kuat terhadap layanan kesehatan mental di Jepang. Data yang dikutip dari World Economic Forum menunjukkan, hingga 2022 hanya sekitar 6 persen masyarakat Jepang pernah menggunakan layanan konseling psikologis untuk masalah kesehatan mental.
