Anime Dijajaki Jadi Terapi Kesehatan Mental

Lifestyle Anindya Kirana Putri 31 Mei 2026 20:36 WIB 3
Anime Dijajaki Jadi Terapi Kesehatan Mental

Anime yang selama ini identik dengan hiburan kini sedang diuji untuk peran yang lebih serius di Jepang, yakni membantu kesehatan mental. Gagasan ini datang dari psikiater asal Italia, Francesco Panto, yang meneliti potensi karakter anime untuk mendukung orang dengan stres, burn out, hingga depresi.

Lewat studi di Yokohama City University, Francesco dan timnya menguji konseling berbasis karakter terhadap 20 responden berusia 18-29 tahun. Penelitian yang selesai pada Maret 2026 itu memadukan pendekatan psikologi dengan avatar anime, suara digital yang dimodifikasi, dan narasi karakter yang dirancang khusus.

Anime untuk kesehatan mental

Francesco tumbuh di pedesaan Sisilia, Italia, dalam lingkungan yang sarat stereotip tentang gender dan ekspresi diri. Pada masa remaja, ia mengaku anime dan manga menjadi tempat berlindung ketika ia kesulitan menemukan jati diri.

Ia menilai pengalaman personal itu membuatnya memahami bagaimana karakter fiksi dapat memberi rasa aman secara emosional. Dari sana, ia mulai melihat peluang anime bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai jembatan untuk membahas kesehatan mental.

Menurut Francesco, pengaruh cerita dan tokoh fiksi bisa membantu seseorang mengenali perasaan yang sulit diungkapkan. Ia kemudian mengembangkan pendekatan yang disebut character-based counselling untuk menguji dugaan tersebut secara ilmiah.

Penelitian itu dirancang untuk melihat apakah karakter anime dapat membantu peserta lebih nyaman saat membicarakan masalah pribadi. Tim peneliti juga ingin mengetahui apakah pendekatan ini mampu mengurangi gejala depresi secara terukur.

Karakter anime sebagai terapi

Dalam studi tersebut, para peserta tidak menjalani konseling konvensional dengan tampilan biasa. Mereka justru berbicara secara daring dengan psikolog yang muncul sebagai avatar anime lengkap dengan suara digital yang telah dimodifikasi.

Francesco menjelaskan bahwa filter fantasi melalui karakter anime dapat menurunkan hambatan psikologis. Dengan cara itu, peserta diharapkan lebih mudah membuka diri tanpa merasa terlalu dihakimi.

Tim peneliti menciptakan enam karakter khusus dengan latar dan kepribadian berbeda. Sosok-sosok itu terinspirasi dari arketipe khas manga Jepang, mulai dari figur keibuan yang tenang hingga pria bergaya pangeran yang sensitif.

Peserta diberi kebebasan memilih karakter yang paling mereka rasa cocok. Pendekatan ini dibuat agar sesi terasa lebih personal, menarik, dan tetap nyaman diikuti.

Desain studi dan temuan

Setiap karakter dalam penelitian memiliki perjuangan mental yang spesifik, namun tetap dikemas dengan daya tarik visual. Salah satunya adalah Kuroto Nagi, karakter yang digambarkan memiliki ciri-ciri bipolar.

Karakter lain dirancang dengan latar gangguan kecemasan, trauma pasca-kejadian traumatis, hingga masalah konsumsi alkohol. Meski mengangkat isu kesehatan mental, tim tetap menjaga agar tokoh-tokoh itu terasa menyenangkan dan tidak menggurui.

Psikolog memperkenalkan kisah tiap karakter di awal sesi, tetapi detail masalah mental tidak dibuat terlalu gamblang. Selama tahap awal, tim juga memantau detak jantung dan pola tidur peserta untuk menilai kelayakan terapi ini.

Hasil akhir studi diharapkan dapat menjawab apakah pendekatan berbasis anime benar-benar efektif mengurangi gejala depresi. Jika terbukti, metode ini berpotensi menjadi pilihan baru dalam layanan kesehatan mental berbasis digital.

Stigma bantuan psikologis

Penelitian ini juga lahir dari kondisi sosial Jepang yang masih menyimpan stigma terhadap pencarian bantuan psikologis. Mio Ishii, asisten profesor yang ikut memimpin proyek, menyebut banyak anak muda kesulitan pergi ke sekolah atau mempertahankan pekerjaan.

Ia menilai fenomena itu menunjukkan perlunya opsi pemulihan yang lebih mudah diakses. Tujuan riset ini adalah memberi mereka pilihan baru untuk pulih dari kesulitan yang mereka alami.

Mio juga menyoroti istilah ikizurasa, yaitu perasaan sulit menjalani hidup dan bertahan di tengah tekanan masyarakat. Menurutnya, masalah itu tidak bisa dipandang remeh karena berdampak langsung pada kualitas hidup generasi muda.

Data yang dikutip World Economic Forum menunjukkan, hingga 2022 hanya sekitar 6 persen masyarakat Jepang yang pernah menggunakan layanan konseling psikologis. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!