Anggun C Sasmi Soroti Perhiasan Sebagai Warisan Makna

Lifestyle Anindya Kirana Putri 24 Mei 2026 16:31 WIB 6
Anggun C Sasmi Soroti Perhiasan Sebagai Warisan Makna

Anggun C Sasmi kembali menjadi sorotan publik setelah tampil dalam film Para Perasuk dan menerima Golden Visa dari Direktorat Jenderal Imigrasi. Di tengah perhatian itu, penyanyi senior tersebut juga membagikan sisi personal yang jarang tersorot, yakni dinamika hubungannya dengan putri semata wayangnya, Kirana.

Salah satu hal yang paling menarik perhatian adalah aturan Anggun di rumah soal perhiasan. Ia mengungkap bahwa Kirana baru diperbolehkan memakai perhiasan setelah berusia 18 tahun, karena baginya aksesori itu bukan sekadar pelengkap penampilan, melainkan simbol nilai, makna, dan warisan keluarga.

Perhiasan dalam keluarga Anggun

Anggun menjelaskan bahwa sejak kecil Kirana kerap mengagumi perhiasan miliknya. Putrinya sering bertanya tentang gelang dan aksesori lain yang dikenakan sang ibu. Namun, Anggun memilih menahan keinginan itu hingga Kirana cukup dewasa.

Menurut Anggun, aturan tersebut dibuat agar Kirana memahami bahwa perhiasan memiliki nilai lebih dari sekadar estetika. Ia ingin sang putri melihatnya sebagai sesuatu yang penting, bermakna, dan layak dihargai. Karena itu, perhiasan tidak diberikan begitu saja sebelum waktunya.

Anggun juga menyebut bahwa perkenalan terhadap perhiasan akan dilakukan secara bertahap. Ia ingin Kirana memaknainya sebagai bagian dari perjalanan kedewasaan. Dengan cara itu, aksesori mewah tersebut tidak hanya menjadi benda pakai, tetapi juga pengalaman emosional.

Warisan kasih sayang turun-temurun

Bagi Anggun, perhiasan, terutama berlian, memiliki keterikatan kuat dengan memori keluarga. Ia tumbuh dalam lingkungan yang memandang perhiasan sebagai warisan kasih sayang dari generasi sebelumnya. Nilai itu ia pelajari dari ibunda dan neneknya.

Ia menilai perhiasan eksklusif mencerminkan sebuah privilege yang tidak dimiliki semua orang. Karena itu, perhiasan perlu dikenalkan dengan cara yang tepat agar maknanya tidak hilang. Menurutnya, kualitas terbaik justru harus diiringi dengan pemahaman yang baik pula.

Anggun menegaskan bahwa gaya yang ia sukai adalah understated, tetapi tetap tidak biasa. Sikap itu sejalan dengan pandangannya bahwa kemewahan tidak harus berlebihan. Yang terpenting adalah ada cerita dan nilai di balik setiap detailnya.

Alasan Wanda memilih Anggun

Pandangan Anggun mengenai perhiasan membuatnya dipilih sebagai House Ambassador sekaligus D color Lady untuk Wanda House of Jewels. Menurut pihak Wanda, sosok Anggun dianggap memiliki karakter yang selaras dengan filosofi merek tersebut. Keduanya sama-sama menonjolkan elegansi, makna, dan keaslian.

Founder Wanda House of Jewels, Wanda Ponika, mengatakan bahwa semakin mengenal Anggun, semakin terasa kesamaan di antara keduanya. Ia menilai Anggun bukan hanya cocok secara visual, tetapi juga sejalan dalam sisi jiwa. Bagi Wanda, kesesuaian itu menjadi alasan kuat di balik kolaborasi tersebut.

Wanda juga menegaskan bahwa brand miliknya bukan sekadar toko perhiasan. Wanda House of Jewels berperan sebagai jeweler yang merancang dan membuat perhiasan dengan perhatian tinggi pada detail dan niat di balik pembuatannya. Filosofi itu, menurutnya, sangat tercermin dalam pribadi Anggun.

Makna perhiasan bagi Anggun

Anggun menilai hubungan antara pemakai dan perhiasan harus terbentuk secara emosional. Saat dikenakan, perhiasan idealnya memberi rasa memiliki yang kuat dan tidak terasa asing. Itulah sebabnya ia menaruh perhatian besar pada makna di balik sebuah aksesori.

Ia percaya bahwa perhiasan yang baik bukan hanya indah dilihat, tetapi juga membawa cerita. Nilai tersebut membuat sebuah aksesori terasa lebih hidup dan personal. Dalam pandangannya, keindahan tanpa makna tidak cukup mewakili karakter pemakainya.

Melalui pandangan itu, Anggun menunjukkan sisi lain dari dirinya di luar panggung dan layar lebar. Ia bukan hanya ikon musik dan film, tetapi juga sosok ibu yang ingin mewariskan nilai kepada anaknya. Dari perhiasan, ia menanamkan pelajaran tentang kesabaran, penghargaan, dan identitas.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!