Alergi Sinar Matahari, Wanita Ini Hidup di Bawah Bayang-bayang

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 13:23 WIB 4
Alergi Sinar Matahari, Wanita Ini Hidup di Bawah Bayang-bayang

Sonal Keay, seorang pebisnis asal Inggris, menjalani kehidupan yang sangat berbeda dari kebanyakan orang karena menderita alergi sinar matahari yang langka. Sedikit paparan UV saja dapat memicu nyeri hebat pada kulitnya, sehingga ia harus menghindari aktivitas di siang hari dan lebih aman beraktivitas saat malam tiba.

Kondisi itu mulai disadarinya saat berusia 18 tahun, ketika reaksi kulitnya memburuk setelah liburan ke luar negeri. Setelah melalui pemeriksaan, Sonal didiagnosis menderita dermatitis aktinik kronis, yakni gangguan kulit yang dapat menyebabkan lesi eksim bahkan pada bagian tubuh yang tidak terkena matahari.

Alergi sinar matahari Sonal

Sonal mengaku harus sangat berhati-hati agar tidak terlalu lama terpapar cahaya matahari. Kulitnya dapat terasa terbakar dan nyeri luar biasa hanya dalam waktu sekitar satu menit.

Ia menyebut gejala itu tidak hanya muncul saat cuaca cerah, tetapi juga ketika langit mendung. Kondisi tersebut membuatnya sulit menjalani rutinitas sederhana di luar rumah.

Menurut keterangan yang ia sampaikan kepada televisi ITV, reaksi yang dialami terasa sangat menyakitkan dan tidak kunjung membaik setelah kembali dari liburan. Ia sempat tidak memahami bahwa sumber masalahnya adalah sinar matahari, sesuatu yang selama ini dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan.

Gejala yang terus memburuk

Sebelum diagnosis ditegakkan, Sonal hidup dengan ketidaknyamanan selama sekitar dua tahun. Ia sudah memiliki riwayat eksim sejak kecil, sehingga awalnya mengira keluhan yang muncul masih berkaitan dengan kondisi kulit yang sama.

Rasa sakit yang ia alami semakin kuat setiap kali berada di luar rumah. Ia mengaku sudah paham bahwa menutup tubuh dapat membantu, tetapi belum mengetahui penyebab utama yang memicu reaksinya.

Setelah menjalani pemeriksaan medis, dokter memastikan bahwa ia mengidap dermatitis aktinik kronis. American Academy of Dermatology menyebut kondisi ini sebagai salah satu bentuk alergi kulit fotosensitif yang dapat menimbulkan rasa sakit sangat hebat.

Dampak pada rutinitas harian

Kondisi itu memaksa Sonal mengubah hampir seluruh kebiasaannya. Ia harus mengoleskan tabir surya bahkan untuk aktivitas singkat, seperti mengambil kunci mobil atau memakai sepatu sebelum keluar rumah.

Cahaya matahari yang masuk melalui jendela juga dapat memicu reaksi kulit. Karena itu, ia memasang tirai anti-UV agar tetap bisa beraktivitas di dalam rumah dengan lebih aman.

Ia mengatakan bahwa dirinya tampak normal dari luar, tetapi hidupnya tidak berjalan normal sama sekali. Pembatasan ini membuatnya harus terus waspada terhadap setiap sumber cahaya yang berpotensi memperburuk kondisi kulitnya.

Tekanan fisik dan mental

Selain menimbulkan nyeri fisik, kondisi ini juga berdampak pada kesehatan mental Sonal. Ia bahkan sempat merasa takut terhadap cahaya, termasuk lampu di dalam ruangan.

Ketakutan itu muncul karena ia tidak pernah tahu kapan tubuhnya akan bereaksi parah. Bagi Sonal, setiap paparan cahaya menjadi situasi yang harus diwaspadai dengan sangat serius.

Ia harus menjalani kehidupan yang sangat teratur agar terhindar dari pemicu reaksi kulit. Meski demikian, Sonal tetap berusaha mempertahankan aktivitas sehari-hari dengan berbagai penyesuaian yang ketat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!