Aisah Raup Jutaan Rupiah dari Jajanan Betawi

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 28 Mei 2026 12:11 WIB 2
Aisah Raup Jutaan Rupiah dari Jajanan Betawi

Aisah, mantan karyawan pabrik, berhasil mengubah usaha sampingan menjadi bisnis kuliner yang kini menghasilkan omzet jutaan rupiah per bulan. Perjalanan itu dimulai dari kebutuhan tambahan penghasilan, lalu berkembang menjadi merek jajanan Betawi bernama Betawi Punya Gaye.

Berawal pada 2018 saat masih bekerja di pabrik spidol, Aisah menjual keripik pedas kepada rekan kerja dan menitipkannya di warung sekitar. Saat penjualan keripik tertekan pandemi COVID-19, ia beralih ke aneka camilan tradisional Betawi dan memutuskan fokus berwirausaha penuh.

Perjalanan Jajanan Betawi

Aisah memulai usahanya dengan modal sederhana dan langkah yang sangat kecil. Ia membawa produk ke tempat kerja, lalu menawarkan langsung kepada teman-temannya. Dari situ, penjualan awal sempat memberi pemasukan sekitar Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan. Namun, kondisi pasar kemudian berubah dan membuat usaha keripiknya tidak lagi stabil.

Ketika banyak warung tutup pada masa pandemi, penjualan ikut menurun tajam. Situasi itu membuat Aisah harus mencari arah baru agar usahanya tetap berjalan. Ia melihat peluang pada jajanan tradisional yang memiliki pasar lebih luas. Pilihan itu sekaligus menjadi titik balik bagi perjalanan bisnisnya.

Aisah kemudian mengalihkan fokus ke camilan khas Betawi yang lekat dengan nostalgia. Produk yang dipilih antara lain kembang goyang, biji ketapang, dan kacang bawang. Menurutnya, jajanan tersebut punya daya tarik karena rasanya akrab bagi banyak orang. Ia juga menilai produk tradisional masih memiliki tempat di tengah tren makanan modern.

Perubahan itu tidak hanya menyelamatkan usaha, tetapi juga memperkuat identitas dagangnya. Aisah mulai meramu produk dengan pendekatan yang lebih serius dan terarah. Ia ingin usahanya punya ciri khas yang mudah diingat pelanggan. Dari sanalah nama Betawi Punya Gaye mulai dipakai sebagai identitas bisnis.

Keputusan Tinggalkan Pabrik

Setelah hampir 20 tahun bekerja, Aisah akhirnya memilih meninggalkan pekerjaan di pabrik. Keputusan itu diambil setelah ia merasa perlu fokus pada usaha yang sedang dibangunnya. Ia menilai waktu dan tenaga yang dimiliki lebih bermanfaat jika diarahkan untuk bisnis sendiri. Langkah tersebut menjadi keputusan besar dalam hidupnya.

Aisah mengaku sudah bekerja sejak masa sebelum kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid. Pengalaman panjang itu membuatnya mantap menutup lembaran lama dan memulai babak baru. Ia melihat peluang usaha sebagai jalan yang lebih sesuai dengan kondisi saat itu. Keberanian itu menjadi modal penting bagi kelanjutan bisnisnya.

Ia kemudian bergabung dengan program Jakpreneur pada 2020 untuk memperkuat usahanya. Program tersebut membantu pelaku usaha kecil mendapatkan pembinaan dan akses pengembangan. Aisah memanfaatkan waktu luangnya untuk belajar agar bisnisnya lebih tertata. Pendekatan itu menunjukkan bahwa usaha rumahan pun perlu dukungan ekosistem yang tepat.

Selain itu, ia mengikuti bimbingan teknis pembuatan HAKI dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Langkah ini diambil agar merek yang dibangun memiliki perlindungan hukum. Aisah ingin usaha yang dirintisnya tidak hanya dikenal, tetapi juga aman secara legal. Kesadaran tersebut menjadi bagian penting dari profesionalisasi bisnisnya.

Nama Betawi Punya Gaye

Pada awalnya, Aisah memakai nama usaha Camilan 19 untuk menjual produknya. Namun, ia merasa nama itu terlalu umum dan kurang kuat sebagai merek. Setelah mendapat arahan, ia diminta mencari identitas yang lebih khas. Dari proses itu lahirlah nama Betawi Punya Gaye.

Nama baru tersebut dipilih karena mencerminkan karakter produk yang dijual. Aisah ingin setiap camilan yang diproduksi memiliki hubungan erat dengan budaya Betawi. Menurutnya, merek yang kuat akan memudahkan pelanggan mengingat produk. Selain itu, nama yang khas juga membantu membedakan usahanya dari kompetitor.

Identitas itu kemudian diterapkan pada berbagai produk yang dibuatnya. Mulai dari rasa, tampilan, hingga kemasan disesuaikan dengan konsep tradisional yang ingin dibangun. Aisah berupaya menjaga kualitas agar pelanggan kembali membeli. Ia percaya konsistensi adalah kunci mempertahankan usaha kecil.

Di balik merek tersebut, ada semangat untuk mengangkat kuliner warisan lokal. Aisah ingin jajanan Betawi tetap dikenal generasi muda dan tidak hilang ditelan zaman. Ia memandang bisnisnya bukan sekadar mencari untung, tetapi juga menjaga nilai budaya. Pandangan itu membuat usahanya memiliki cerita yang lebih kuat.

Omzet dan Harapan Usaha

Dalam perjalanannya, usaha Aisah berkembang hingga menghasilkan omzet jutaan rupiah setiap bulan. Pertumbuhan itu menunjukkan perubahan besar dari usaha sampingan menjadi bisnis yang lebih mapan. Meski berawal dari langkah kecil, hasilnya kini jauh lebih menjanjikan. Pencapaian itu menjadi bukti bahwa konsistensi dapat membuahkan hasil.

Aisah mengaku banyak belajar dari pengalaman jatuh bangun selama membangun usaha. Ia memahami bahwa perubahan pasar menuntut pelaku UMKM untuk cepat beradaptasi. Karena itu, ia tidak ragu mengubah produk dan strategi ketika kondisi menuntut. Sikap fleksibel membuat bisnisnya tetap bertahan.

Kehadiran pelatihan dan pendampingan juga memberi dorongan tambahan bagi usahanya. Aisah menambah wawasan tentang pengelolaan merek, produksi, dan pengembangan pasar. Ia juga melihat peluang untuk memperluas jangkauan penjualan di masa depan. Dukungan tersebut menjadi bekal penting untuk naik kelas.

Kisah Aisah menunjukkan bahwa bisnis rumahan bisa tumbuh besar jika dikelola dengan tekun. Dari pekerja pabrik, ia bertransformasi menjadi pelaku usaha kuliner yang punya identitas kuat. Produk tradisional yang dijualnya kini bukan hanya sumber penghasilan, tetapi juga simbol keberanian untuk berubah. Perjalanan ini menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin memulai usaha dari nol.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!