Airlangga Bantah DSI Jadi Penyebab IHSG Anjlok

Forex & Saham Gilang Nabaris 30 Mei 2026 22:54 WIB 2
Airlangga Bantah DSI Jadi Penyebab IHSG Anjlok

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membantah anggapan bahwa pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menjadi pemicu anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Ia menegaskan pelemahan indeks lebih dipengaruhi sentimen global, termasuk rebalancing Morgan Stanley Capital International (MSCI), di Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Airlangga juga menyampaikan IHSG sempat kembali bergerak di zona hijau pada perdagangan pagi ini. Menurutnya, koreksi yang terjadi di pasar saham merupakan hal wajar ketika ada penyesuaian terhadap emiten yang keluar dari indeks acuan.

IHSG dan Sentimen Pasar

Airlangga menyebut koreksi IHSG tidak bisa dikaitkan langsung dengan pembentukan DSI. Ia menjelaskan tekanan pasar muncul bersamaan dengan perubahan komposisi indeks global yang memengaruhi pergerakan investor. Kondisi seperti itu, menurut dia, lazim terjadi di pasar modal.

Ia menambahkan, koreksi yang terjadi pada saham-saham tertentu merupakan bagian dari dinamika perdagangan. Pasar, kata dia, bereaksi terhadap berbagai informasi yang masuk dalam waktu bersamaan. Karena itu, pelemahan indeks tidak selalu berasal dari satu kebijakan saja.

Airlangga mengatakan pelemahan IHSG pada hari sebelumnya berlangsung seiring sentimen eksternal yang cukup kuat. Salah satunya adalah penyesuaian portofolio investor global terhadap indeks MSCI. Faktor tersebut disebut ikut menekan saham-saham domestik.

Meski demikian, Airlangga menilai pasar saham Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang baik. Ia mencontohkan IHSG yang kembali bergerak positif pada perdagangan hari ini. Menurutnya, pemulihan itu menunjukkan kepercayaan pasar masih terjaga.

Respons Pengusaha terhadap DSI

Airlangga memastikan pemerintah telah menyosialisasikan kebijakan terkait DSI kepada para pelaku usaha. Setelah penjelasan diberikan, ia mengklaim respons dari dunia usaha cukup positif. Baik pengusaha domestik maupun asing disebut memahami arah kebijakan tersebut.

Menurut Airlangga, hampir seluruh asosiasi menyampaikan apresiasi atas langkah pemerintah. Mereka juga dinilai siap menjalin kerja sama dengan badan yang dibentuk untuk mengelola ekspor komoditas strategis. Hal itu menjadi sinyal bahwa kebijakan tersebut tidak memicu penolakan luas di kalangan usaha.

Ia menegaskan pemerintah ingin menjaga tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam agar lebih teratur. Dengan pengelolaan yang baik, pemerintah berharap manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih besar. Dalam pandangannya, langkah itu justru memberi kepastian bagi pasar.

Airlangga menambahkan, komunikasi pemerintah dengan asosiasi usaha akan terus dilakukan. Tujuannya agar tidak muncul kesalahpahaman terkait fungsi dan arah kerja DSI. Pemerintah ingin memastikan kebijakan berjalan selaras dengan kepentingan industri dan pasar modal.

Pergerakan IHSG Terbaru

IHSG tercatat melemah 0,82 persen ke level 6.318,50 pada penutupan perdagangan Rabu (20/5/2026). Pada pukul 11.19 WIB, saat pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam disampaikan, indeks bahkan turun lebih dari 2 persen. Tekanan itu menunjukkan pasar sedang merespons banyak sentimen sekaligus.

Pada perdagangan Kamis (21/5/2026), IHSG kembali ditutup melemah di level 6.094. Indeks turun 233 poin atau sekitar 3,54 persen, menandakan volatilitas masih tinggi. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil posisi.

Namun pada penutupan perdagangan hari ini, IHSG berbalik menguat ke level 6.100-an. Penguatan itu setara sekitar 1,1 persen dan memberi sinyal pemulihan jangka pendek. Pergerakan ini memperlihatkan pasar masih memiliki ruang untuk stabil kembali.

Meski demikian, pelaku pasar tetap diminta mencermati perkembangan global dan kebijakan domestik. Rebalancing indeks internasional dapat memicu rotasi dana dalam waktu singkat. Di sisi lain, kejelasan kebijakan pemerintah menjadi faktor penting bagi sentimen investor.

Prospek Pasar ke Depan

Airlangga menilai kebijakan pemerintah perlu dibaca dalam konteks memperkuat ekosistem perdagangan komoditas. Jika tata kelola ekspor berjalan efektif, dampaknya diharapkan positif bagi penerimaan negara dan iklim usaha. Ia menegaskan arah kebijakan tersebut bukan untuk menekan pasar.

Dari sisi investor, kepastian regulasi menjadi faktor utama dalam menjaga kepercayaan. Pasar saham cenderung merespons cepat setiap perubahan kebijakan, terutama yang berkaitan dengan sumber daya alam. Karena itu, komunikasi yang konsisten dinilai penting untuk meredam spekulasi.

Selain faktor domestik, tekanan eksternal masih berpotensi memengaruhi IHSG dalam jangka pendek. Rebalancing indeks global dan pergerakan bursa asing akan tetap menjadi perhatian utama. Pelaku pasar perlu memantau arus dana asing serta sentimen risiko global.

Dengan IHSG yang kembali menguat, pasar mendapat sinyal bahwa tekanan sebelumnya belum tentu berlanjut. Meski begitu, volatilitas masih mungkin terjadi selama sentimen global belum stabil. Investor pun disarankan mencermati perkembangan kebijakan dan data pasar secara lebih selektif.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!