Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menilai kecerdasan buatan, atau AI, akan menjadi pendorong utama adopsi jaringan 5G di Indonesia, sejalan dengan upaya memperluas layanan digital. Hingga kini cakupan 5G masih rendah meski jaringan ini mulai diluncurkan pertengahan 2021. Peta target nasional menampilkan cakupan internet kencang sekitar 7% pada 2029 sesuai Rencana Strategis 2025-2029.
Direktur Jenderal Infrastruktur Digital, Wayan Toni Supriyanto, menyebut AI berpotensi menjadi killer content yang mempercepat pemanfaatan layanan 5G di berbagai sektor. Ia menegaskan bahwa Indonesia sedang memasuki fase transformasi digital, yakni pergeseran dari sekadar konektivitas menuju ekosistem yang lebih cerdas dan berbasis data. Menurutnya, 5G dan AI tidak bisa dipisahkan karena keduanya saling melengkapi untuk mencipta model bisnis baru.
5G berperan sebagai fondasi konektivitas berkecepatan tinggi dengan latensi rendah, sementara AI menjadi mesin yang mengolah data menjadi insight. Keduanya saling melengkapi untuk menghadirkan solusi di berbagai sektor. Kolaborasi keduanya diperkirakan akan melahirkan model bisnis baru yang lebih efisien.
Integrasi 5G dan AI diproyeksikan membuka peluang besar di sektor industri manufaktur berbasis Industry 4.0, layanan kesehatan digital, serta pengembangan kota cerdas. AI akan memanfaatkan data yang dihasilkan jaringan 5G untuk meningkatkan akurasi analitik dan layanan berorientasi pelanggan. Oleh karena itu, adopsi 5G akan lebih cepat ketika AI mampu menghasilkan manfaat nyata.
Tantangan yang dihadapi meliputi akses inklusif, keamanan data, dan manfaat nyata bagi publik. Pemerintah menegaskan pentingnya infrastruktur pendukung seperti data center dan talenta digital yang terampil. Regulasi pun harus adaptif agar 5G dan AI tumbuh seiring dengan pertumbuhan industri.
Komdigi menegaskan komitmennya untuk mempercepat ekosistem pendukung, termasuk penguatan infrastruktur jaringan, data center, dan talenta digital. Upaya ini sejalan dengan kebutuhan memperluas akses internet kencang agar AI dan 5G bisa dinikmati luas. Pemerintah juga menyiapkan kebijakan yang adaptif agar pelaksanaan teknologi ini berjalan seiring dengan pertumbuhan industri.
Regulasi akan difokuskan untuk menjadi enabler, bukan penghambat, sehingga pelaku industri bisa berinovasi secara aman. Adapun saat ini, Komdigi telah membuka proses lelang frekuensi pada pita 700 MHz dan 2,6 GHz untuk meningkatkan pemerataan akses 4G dan 5G. Kebijakan ini diharapkan mempercepat digitalisasi pada berbagai wilayah.
Sumber daya manusia menjadi fokus utama, dengan program pengembangan talenta digital yang siap mengembangkan solusi berbasis AI. Inisiatif pelatihan dan kolaborasi industri diharapkan meningkatkan kualitas solusi digital nasional. Dengan demikian, ekosistem 5G–AI dapat tumbuh inklusif dan aman bagi masyarakat luas.
