Ahli IPB Ingatkan Label Makanan Kemasan Tak Bisa Dinilai Sekilas

Lifestyle Nadia Safira Putri 28 Mei 2026 19:49 WIB 2
Ahli IPB Ingatkan Label Makanan Kemasan Tak Bisa Dinilai Sekilas

Banyak konsumen masih ragu saat membaca label komposisi pada makanan kemasan karena nama bahan yang terdengar asing kerap dianggap berbahaya. Kekhawatiran itu juga dipengaruhi ramainya pembahasan tentang ultra-processed food atau UPF di media sosial. Padahal, pakar teknologi pangan IPB University, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, menilai penilaian terhadap mutu produk tidak bisa dilakukan hanya dari daftar bahan. Ia menegaskan, konteks penggunaan bahan justru menjadi kunci utama dalam membaca label pangan.

Menurut Purwiyatno, anggapan bahwa daftar bahan yang panjang selalu identik dengan produk bermasalah belum tentu tepat. Ia menyampaikan pandangan itu saat dihubungi detikcom pada Kamis, 21 Mei 2026. Dalam industri pangan, bahan tambahan justru sering dipakai untuk menjaga mutu, stabilitas, dan keamanan produk. Karena itu, konsumen perlu memahami fungsi setiap komponen sebelum menarik kesimpulan.

Memahami label makanan kemasan

Label komposisi pada makanan kemasan sering kali memunculkan kekhawatiran karena sebagian nama bahan terdengar teknis atau tidak familiar. Kondisi ini membuat banyak orang langsung mengaitkannya dengan bahan berbahaya. Padahal, nama yang asing tidak selalu berarti tidak aman. Pemahaman dasar tentang label pangan dapat membantu konsumen menilai produk dengan lebih bijak.

Purwiyatno menjelaskan bahwa penilaian terhadap makanan kemasan tidak cukup hanya bertumpu pada panjang pendeknya daftar bahan. Yang perlu diperhatikan adalah fungsi setiap bahan dalam formula produk. Bahan tertentu bisa membantu menjaga rasa, warna, tekstur, atau daya simpan. Selama penggunaannya sesuai aturan, keberadaannya tidak otomatis menjadi masalah.

Ia menambahkan, persepsi negatif sering muncul karena informasi yang beredar di media sosial tidak selalu disertai penjelasan ilmiah. Akibatnya, konsumen mudah menyamakan semua bahan tambahan dengan zat yang membahayakan kesehatan. Padahal, industri pangan modern bergantung pada formulasi yang terukur untuk memastikan produk tetap layak konsumsi. Karena itu, literasi label menjadi penting bagi masyarakat.

Peran bahan tambahan pangan

Bahan tambahan pangan memiliki fungsi spesifik dalam proses produksi makanan kemasan. Ada bahan yang berperan mempertahankan kualitas, ada pula yang membantu produk tetap stabil selama penyimpanan. Dalam banyak kasus, bahan tersebut juga dibutuhkan untuk menjaga keamanan pangan. Dengan demikian, keberadaannya tidak bisa disederhanakan sebagai tanda produk tidak sehat.

Purwiyatno menegaskan bahwa penggunaan bahan tambahan pangan tidak otomatis membuat suatu produk berbahaya. Yang lebih penting adalah apakah bahan tersebut digunakan sesuai ketentuan yang berlaku. Kadar penggunaan, tujuan penambahan, dan kesesuaiannya dengan standar menjadi faktor penentu. Jika seluruh aspek itu terpenuhi, bahan tambahan justru mendukung mutu produk.

Ia juga mengingatkan bahwa produk pangan perlu dinilai secara menyeluruh, bukan hanya dari satu komponen label. Konsumen sebaiknya melihat bagaimana bahan itu bekerja dalam sistem produk secara keseluruhan. Pendekatan seperti ini akan menghasilkan penilaian yang lebih adil dan akurat. Dengan cara tersebut, kekhawatiran berlebihan dapat dikurangi tanpa mengabaikan aspek keamanan.

Risiko salah tafsir UPF

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan menjadi perhatian luas karena sering dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan. Namun, istilah tersebut kerap dipahami secara sederhana tanpa melihat penjelasan ilmiahnya. Akibatnya, makanan kemasan kerap langsung dicap buruk. Padahal, tidak semua produk dengan proses pengolahan tinggi memiliki tingkat risiko yang sama.

Purwiyatno menilai bahwa salah tafsir terhadap UPF dapat membuat konsumen mengambil keputusan yang tidak berdasar. Produk dengan label komposisi yang kompleks belum tentu otomatis tidak layak dikonsumsi. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membaca fungsi bahan dan memahami regulasi yang mengaturnya. Dengan begitu, masyarakat tidak mudah terjebak pada kesimpulan instan.

Ia menekankan bahwa edukasi pangan harus diperkuat agar publik tidak hanya mengandalkan potongan informasi di ruang digital. Pengetahuan yang memadai akan membantu konsumen membedakan antara bahan yang dibutuhkan dan bahan yang memang perlu diwaspadai. Di sisi lain, industri juga perlu transparan dalam menjelaskan komposisi produknya. Kombinasi keduanya akan membantu membangun kepercayaan yang lebih sehat.

Cara cermat membaca komposisi

Konsumen disarankan membiasakan diri membaca label pangan dengan lebih teliti sebelum membeli produk kemasan. Perhatikan komposisi, takaran saji, serta informasi nilai gizi yang tercantum pada kemasan. Jangan langsung menilai suatu produk hanya karena ada nama bahan yang terdengar rumit. Pemahaman yang utuh akan membuat pilihan konsumsi lebih rasional.

Selain itu, penting untuk memahami bahwa setiap bahan tambahan memiliki fungsi yang berbeda. Ada yang berperan sebagai pengawet, penstabil, pengemulsi, atau pemberi rasa. Selama penggunaannya mengikuti ketentuan, keberadaan bahan tersebut tidak bisa dijadikan alasan tunggal untuk menyebut produk tidak aman. Konsumen perlu melihat fungsi, kadar, dan konteks pemakaiannya secara bersamaan.

Dengan meningkatnya literasi pangan, masyarakat diharapkan tidak lagi mudah panik saat melihat daftar bahan yang panjang pada makanan kemasan. Sikap kritis tetap diperlukan, tetapi harus disertai pemahaman yang benar. Penilaian yang cermat akan membantu konsumen memilih produk secara lebih aman dan tepat. Pada akhirnya, keputusan yang baik lahir dari informasi yang benar, bukan dari prasangka semata.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!