5G Dinilai Kunci Akselerasi Transformasi Digital Indonesia

Teknologi Moh. Royhan Nahado 27 Mei 2026 05:13 WIB 2
5G Dinilai Kunci Akselerasi Transformasi Digital Indonesia

Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mempercepat transformasi digital dan memperkuat posisi ekonomi nasional melalui pemanfaatan teknologi 5G. Meski sudah diperkenalkan sejak lima tahun lalu, adopsi jaringan generasi kelima itu di Tanah Air masih tergolong rendah.

Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, menegaskan bahwa 5G bukan lagi sekadar peningkatan layanan seluler, melainkan fondasi utama bagi perkembangan kecerdasan buatan, cloud, dan otomasi industri. Pernyataan itu disampaikan dalam IndoTelko Forum di Jakarta, Rabu, 29 April 2026, di tengah ambisi Indonesia menuju Visi Indonesia Emas 2045.

5G Dorong Transformasi Digital

Nora menjelaskan bahwa Indonesia memiliki target besar untuk menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia pada 2045. Untuk mencapai sasaran itu, infrastruktur digital harus diperkuat secara serius dan berkelanjutan. Dalam pandangannya, 5G berada di pusat dari upaya tersebut.

Ia menilai 5G harus diposisikan sebagai infrastruktur kritikal dalam agenda digitalisasi nasional. Jika Indonesia ingin menjadi ekonomi digital yang kompetitif, maka teknologi ini perlu menjadi prioritas utama. Menurut dia, percepatan adopsi 5G akan menentukan daya saing berbagai sektor.

Secara global, 5G telah menjadi teknologi seluler dengan adopsi tercepat sejak era 2G. Teknologi ini berkembang pesat karena menawarkan efisiensi energi yang lebih baik, kecepatan tinggi, serta latensi yang jauh lebih rendah. Karakter tersebut membuat 5G cocok untuk kebutuhan layanan digital modern.

Berdasarkan laporan Ericsson Mobility, jumlah pelanggan 5G global pada akhir tahun lalu mencapai sekitar 2,9 miliar. Angka itu diproyeksikan melonjak menjadi 6,4 miliar pada 2031. Di Indonesia, kontribusi 5G diperkirakan bisa melampaui 30 persen dari total langganan seluler pada 2030.

Peluang Ekonomi Nasional

Meski prospeknya besar, penetrasi 5G di Indonesia saat ini masih berada di bawah 10 persen. Nora menyebut seluruh pelaku industri sedang berupaya mempercepat adopsi teknologi tersebut. Upaya itu dinilai penting agar Indonesia tidak tertinggal dari negara lain yang bergerak lebih cepat.

Menurut data GSMA, implementasi 5G berpotensi menambah sekitar USD 41 miliar ke Produk Domestik Bruto Indonesia hingga 2030. Nilai tersebut disebut sangat besar karena manfaatnya tidak berhenti pada konektivitas. 5G juga membuka jalan bagi inovasi lintas sektor yang berdampak langsung pada ekonomi nasional.

Manfaat itu diperkirakan mengalir ke manufaktur pintar, smart city, layanan kesehatan digital, pendidikan, logistik, hingga energi. Setiap sektor akan memperoleh efisiensi operasional yang lebih baik melalui konektivitas yang lebih cepat dan stabil. Kondisi tersebut dapat mendorong produktivitas dan menciptakan peluang usaha baru.

Nora menekankan bahwa tambahan nilai ekonomi dari 5G menunjukkan hubungan erat antara infrastruktur digital dan pertumbuhan nasional. Menurut dia, Indonesia perlu melihat 5G sebagai pengungkit ekonomi, bukan sekadar fasilitas komunikasi. Dengan pendekatan itu, transformasi digital dapat memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

AI dan Cloud Menguat

Ericsson menilai peluang terbesar 5G berada pada otomasi industri berskala besar. Dalam skenario tersebut, sistem produksi memerlukan jaringan yang stabil, cepat, dan responsif. Kebutuhan itu hanya dapat didukung secara optimal melalui jaringan 5G.

Nora menyebut kecerdasan buatan membutuhkan fondasi konektivitas yang kuat agar dapat bekerja secara maksimal. Tanpa jaringan yang andal, pemrosesan data dan pengambilan keputusan berbasis AI akan berjalan kurang efisien. Karena itu, 5G dipandang sebagai penghubung penting bagi ekosistem AI.

Selain AI, cloud juga menjadi pilar utama dalam transformasi digital Indonesia. Layanan berbasis awan memerlukan akses data berkecepatan tinggi dan latensi rendah agar dapat melayani pengguna secara optimal. Kombinasi cloud dan 5G dinilai akan mempercepat digitalisasi di banyak sektor.

Menurut Nora, masa depan transformasi digital Indonesia akan ditentukan oleh tiga pilar utama, yakni AI, cloud, dan mobile connectivity berbasis 5G. Ketiganya saling melengkapi untuk membangun sistem digital yang lebih efisien dan adaptif. Ia memperkirakan, meningkatnya penggunaan AI akan ikut mendorong adopsi 5G di Indonesia.

Prioritas Kebijakan Digital

Percepatan 5G tidak hanya bergantung pada pelaku industri, tetapi juga pada dukungan kebijakan yang konsisten. Pemerintah dinilai perlu menyiapkan ekosistem yang memungkinkan investasi infrastruktur berjalan lebih cepat. Dengan dukungan regulasi yang tepat, adopsi 5G dapat bergerak lebih luas.

Nora menilai kolaborasi antara pemerintah, operator, dan industri menjadi kunci agar manfaat 5G bisa dirasakan secara merata. Tanpa kerja sama yang kuat, pengembangan jaringan berisiko berjalan lambat. Padahal, kebutuhan digital masyarakat dan pelaku usaha terus meningkat setiap tahun.

Ia juga menyoroti bahwa Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar untuk layanan digital berbasis 5G. Jumlah pengguna internet yang terus bertambah menjadi modal penting bagi percepatan adopsi. Jika infrastruktur mengikuti kebutuhan pasar, pertumbuhan ekonomi digital akan lebih mudah tercapai.

Dengan posisi strategis tersebut, 5G dipandang bukan hanya sebagai inovasi telekomunikasi, tetapi sebagai tulang punggung ekonomi digital masa depan. Indonesia disebut memiliki peluang besar untuk memanfaatkan teknologi ini secara maksimal. Namun, percepatan implementasi tetap menjadi tantangan utama yang harus segera dijawab.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!