5G Dinilai Jadi Kunci Transformasi Digital Indonesia

Teknologi BRH 27 Mei 2026 06:44 WIB 3
5G Dinilai Jadi Kunci Transformasi Digital Indonesia

Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mempercepat transformasi digital melalui pemanfaatan teknologi 5G. Namun, tingkat adopsi jaringan seluler generasi kelima di Tanah Air masih tergolong rendah, meski teknologi ini sudah diperkenalkan sejak lima tahun lalu.

Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, menegaskan 5G bukan sekadar peningkatan jaringan seluler. Menurut dia, teknologi ini menjadi fondasi utama bagi perkembangan kecerdasan buatan, komputasi awan, dan otomatisasi industri yang dapat memperkuat ekonomi nasional.

5G dan transformasi digital

Nora mengatakan Indonesia memiliki target ambisius dalam Visi Indonesia Emas 2045, yakni menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia. Untuk mencapai tujuan itu, infrastruktur digital perlu ditempatkan sebagai elemen yang sangat krusial. Dalam pandangannya, 5G berada di pusat dari proses transformasi tersebut.

Ia menilai 5G akan berfungsi sebagai infrastruktur kritikal dalam digitalisasi ekonomi Indonesia. Jika Indonesia ingin menjadi ekonomi digital yang kompetitif, maka 5G harus menjadi prioritas utama. Pernyataan itu disampaikan Nora dalam IndoTelko Forum di Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Menurut Nora, teknologi 5G kini menjadi jaringan seluler dengan adopsi tercepat sejak era 2G secara global. Perkembangannya didorong oleh efisiensi energi yang lebih baik, kecepatan tinggi, serta latensi yang jauh lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Kombinasi itu membuat 5G semakin relevan bagi kebutuhan industri modern.

Ericsson menilai Indonesia memiliki ruang besar untuk mengejar ketertinggalan adopsi 5G. Saat ini penetrasi 5G di Indonesia masih di bawah 10 persen, meski seluruh pelaku industri tengah mendorong percepatan implementasi. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa pasar masih sangat terbuka untuk pertumbuhan.

Peluang ekonomi dari 5G

Berdasarkan laporan Ericsson Mobility, jumlah pelanggan 5G global pada akhir tahun lalu mencapai sekitar 2,9 miliar. Angka tersebut diproyeksikan melonjak menjadi 6,4 miliar pada 2031. Sementara itu, di Indonesia, kontribusi 5G diperkirakan melampaui 30 persen dari total langganan seluler pada 2030.

Nora mengungkapkan data GSMA menunjukkan implementasi 5G berpotensi menambah sekitar USD 41 miliar terhadap produk domestik bruto Indonesia hingga 2030. Nilai itu dinilai besar karena 5G dapat membuka peluang inovasi di berbagai sektor. Manufaktur pintar, smart city, layanan kesehatan digital, pendidikan, logistik, dan energi disebut akan ikut terdorong.

Ia menegaskan tambahan nilai ekonomi tersebut menunjukkan 5G bukan hanya soal konektivitas. Teknologi ini, menurut dia, berkaitan langsung dengan pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, percepatan adopsi 5G perlu dipandang sebagai agenda strategis.

Peluang terbesar dinilai berada pada otomasi industri dalam skala besar. Dalam konteks tersebut, sektor manufaktur membutuhkan jaringan yang stabil, cepat, dan responsif. Karakteristik itu membuat 5G menjadi infrastruktur yang sangat dibutuhkan oleh pelaku usaha.

AI dan kebutuhan jaringan

Ericsson melihat masa depan transformasi digital Indonesia akan ditentukan oleh tiga pilar utama, yakni artificial intelligence, cloud, dan mobile connectivity berbasis 5G. Ketiganya saling terhubung dan membutuhkan dukungan infrastruktur yang andal. Tanpa jaringan yang kuat, pengembangan teknologi digital akan berjalan lebih lambat.

Nora menyebut pemanfaatan AI yang semakin masif akan mendorong kebutuhan terhadap koneksi berkecepatan tinggi. AI membutuhkan jaringan yang stabil, cepat, dan memiliki respons rendah agar dapat berjalan optimal. Di sinilah 5G memainkan peran penting sebagai tulang punggung ekosistem digital.

Menurut dia, semakin banyak sektor yang mengandalkan data dan otomatisasi, maka semakin besar pula kebutuhan terhadap jaringan generasi baru. Cloud computing, analitik data, dan perangkat terhubung akan menuntut kapasitas jaringan yang lebih besar. Karena itu, 5G dipandang sebagai pengungkit pertumbuhan teknologi masa depan.

Di tengah percepatan digitalisasi global, Indonesia dinilai tidak boleh tertinggal dalam membangun fondasi konektivitas. Percepatan adopsi 5G dapat membantu sektor publik dan swasta meningkatkan efisiensi. Dengan dukungan kebijakan dan ekosistem yang tepat, teknologi ini berpeluang menjadi motor utama ekonomi digital nasional.

Langkah percepatan adopsi 5G

Meski prospeknya besar, implementasi 5G di Indonesia masih menghadapi tantangan pada sisi penetrasi dan kesiapan ekosistem. Adopsi teknologi baru membutuhkan investasi jaringan, kesiapan perangkat, serta model bisnis yang sesuai. Karena itu, percepatan tidak bisa hanya bergantung pada operator telekomunikasi.

Industri, pemerintah, dan penyedia teknologi perlu bergerak searah agar pemanfaatan 5G lebih luas. Kolaborasi diperlukan untuk memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan oleh berbagai sektor. Dengan demikian, 5G tidak berhenti sebagai inovasi jaringan, melainkan menjadi enabler bagi transformasi industri.

Target pertumbuhan ekonomi digital Indonesia akan lebih mudah dicapai jika infrastruktur digital tersedia secara merata dan andal. 5G dapat mendukung peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, dan layanan publik yang lebih baik. Pada akhirnya, teknologi ini berpotensi memperkuat daya saing Indonesia di kawasan.

Ericsson menilai percepatan adopsi 5G akan semakin relevan seiring meningkatnya penggunaan AI di berbagai bidang. Kombinasi AI, cloud, dan 5G dinilai akan membentuk fondasi ekonomi digital masa depan. Bagi Indonesia, momentum ini disebut sangat penting untuk mengejar ambisi menjadi kekuatan ekonomi besar dunia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!