5G Dinilai Jadi Kunci Transformasi Digital Indonesia

Teknologi BRH 25 Mei 2026 06:07 WIB 4
5G Dinilai Jadi Kunci Transformasi Digital Indonesia

Indonesia dinilai memiliki peluang besar mempercepat transformasi digital dan memperkuat posisi ekonomi global melalui pemanfaatan teknologi 5G. Penilaian itu disampaikan Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, dalam IndoTelko Forum di Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Meski sudah diperkenalkan sejak lima tahun lalu, adopsi 5G di Indonesia masih tergolong rendah. Nora menegaskan, 5G bukan sekadar peningkatan jaringan seluler, melainkan fondasi bagi kecerdasan buatan, komputasi awan, dan otomatisasi industri.

5G dan transformasi digital

Nora menyebut Indonesia memiliki target besar dalam Visi Indonesia Emas 2045 untuk menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia. Untuk mencapai tujuan itu, infrastruktur digital harus menjadi prioritas utama.

Ia menilai 5G berada di pusat transformasi digital nasional karena mampu menjadi infrastruktur kritikal bagi berbagai sektor. Tanpa konektivitas yang kuat, percepatan ekonomi digital akan sulit dicapai secara merata.

Menurutnya, seluruh pelaku industri perlu bergerak lebih cepat agar pemanfaatan 5G tidak tertinggal dari kebutuhan pasar. Dengan begitu, Indonesia dapat membangun fondasi digital yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.

Potensi ekonomi 5G

Secara global, 5G menjadi teknologi seluler dengan adopsi tercepat sejak era 2G. Teknologi ini berkembang pesat karena menawarkan efisiensi energi yang lebih baik, kecepatan tinggi, serta latensi yang lebih rendah.

Berdasarkan laporan Ericsson Mobility, jumlah pelanggan 5G global pada akhir tahun lalu mencapai sekitar 2,9 miliar. Angka itu diproyeksikan melonjak menjadi 6,4 miliar pada 2031.

Di Indonesia, kontribusi 5G diperkirakan akan mencapai lebih dari 30 persen dari total langganan seluler pada 2030. Nora mengatakan penetrasi saat ini masih di bawah 10 persen, namun percepatan adopsi terus diupayakan oleh industri.

AI dorong kebutuhan jaringan

Nora menjelaskan bahwa implementasi 5G berpotensi menambah sekitar USD 41 miliar terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia hingga 2030. Dampak tersebut dinilai besar karena 5G membuka ruang inovasi di berbagai sektor ekonomi.

Sektor yang berpeluang terdorong antara lain manufaktur pintar, smart city, layanan kesehatan digital, pendidikan, logistik, dan energi. Setiap sektor membutuhkan konektivitas yang stabil untuk menjaga efisiensi dan produktivitas.

Ia menegaskan, 5G bukan hanya soal konektivitas, melainkan soal pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, kehadirannya dinilai penting untuk memperluas manfaat digital ke lebih banyak lapisan masyarakat.

Masa depan industri digital

Ericsson melihat masa depan transformasi digital Indonesia akan sangat ditentukan oleh tiga pilar utama, yaitu kecerdasan buatan, cloud, dan mobile connectivity berbasis 5G. Ketiganya saling melengkapi dalam membentuk ekosistem digital yang lebih kuat.

Dalam konteks otomasi industri, AI membutuhkan jaringan yang stabil, cepat, dan responsif. Kondisi tersebut hanya dapat didukung secara optimal melalui infrastruktur 5G yang andal.

Dengan meningkatnya pemanfaatan AI, adopsi 5G di Indonesia diperkirakan ikut terdorong lebih cepat. Perkembangan ini menjadi sinyal bahwa transformasi digital nasional memasuki fase yang semakin strategis.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!