Yield Obligasi AS Tertinggi, Pasar Global Tertekan

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 27 Mei 2026 22:09 WIB 2
Yield Obligasi AS Tertinggi, Pasar Global Tertekan

Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat kembali berada di bawah tekanan setelah persepsi inflasi meningkat dan kekhawatiran atas dampak perang Iran menguat. Pada perdagangan terbaru, yield Treasury tenor 30 tahun naik ke 5,2 persen, level tertinggi sejak 2007, sehingga memicu kekhawatiran atas biaya pinjaman di seluruh perekonomian AS.

Pergerakan itu juga mendorong investor meninggalkan obligasi Treasury karena menilai keuangan pemerintah AS semakin tidak berkelanjutan di tengah ekspektasi suku bunga The Fed yang tetap tinggi. Lonjakan imbal hasil tersebut menekan pasar saham, memperburuk volatilitas global, dan menambah tekanan pada sektor energi, pangan, serta transportasi udara.

Yield Obligasi AS Menguat

Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun yang menjadi acuan suku bunga hipotek juga naik ke 4,67 persen, level tertinggi dalam lebih dari setahun. Kenaikan itu mencerminkan meningkatnya permintaan investor terhadap imbal hasil yang lebih besar untuk mengompensasi risiko inflasi.

Obligasi pemerintah AS memiliki peran penting dalam menentukan biaya pinjaman di berbagai sektor ekonomi. Jika yield terus naik, suku bunga pinjaman mobil, kredit usaha, dan hipotek berpotensi ikut terdorong.

Nigel Green, CEO deVere Group, menilai pasar obligasi sedang memberi sinyal bahwa inflasi bisa lebih sulit dikendalikan daripada perkiraan banyak investor. Menurut dia, tekanan ini membuat pelaku pasar kembali berhitung ulang terhadap risiko aset berisiko.

Tekanan Meluas Ke Pasar Saham

Kenaikan imbal hasil obligasi juga menjadi hambatan bagi pasar saham karena perhitungan valuasi perusahaan berubah ketika suku bunga naik. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung memilih aset yang dianggap lebih aman dan likuid.

Pada perdagangan Selasa, Dow Jones turun 322 poin atau 0,65 persen, sedangkan S&P 500 terkoreksi 0,67 persen dan Nasdaq melemah 0,84 persen. S&P 500 dan Nasdaq mencatat kerugian tiga hari beruntun karena imbal hasil yang lebih tinggi menekan sentimen.

Lonjakan biaya pinjaman menambah kekhawatiran atas volatilitas pasar global. Tekanan tersebut membuat arus dana berpindah dari saham ke obligasi jangka pendek, meski pasar obligasi sendiri sedang berada dalam tekanan.

Perang Iran Picu Guncangan

Perang antara Amerika Serikat dan Iran memicu guncangan energi global yang berimbas pada harga pangan dan tiket pesawat. Dampak lanjutan dari konflik ini memperbesar risiko inflasi di berbagai negara.

Investor di seluruh dunia ikut menjual obligasi karena khawatir inflasi semakin sulit dikendalikan. Kekhawatiran atas belanja pemerintah dan defisit yang terus melebar juga mendorong tuntutan imbal hasil yang lebih tinggi.

Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 30 tahun kini mencapai level tertinggi sejak 1998, sementara yield obligasi Jepang tenor 30 tahun mencatat rekor baru. Kondisi ini menunjukkan tekanan tidak hanya terjadi di AS, tetapi juga merambat ke pasar keuangan utama dunia.

Ekspektasi The Fed Menguat

Imbal hasil obligasi Treasury tenor dua tahun juga melonjak ke level tertinggi karena investor memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga saat ini, atau bahkan menaikkannya dalam beberapa bulan mendatang. Kenaikan tersebut menegaskan bahwa pasar masih melihat inflasi sebagai risiko utama.

Yield tenor 10 tahun sebelumnya diperdagangkan sedikit di bawah 4 persen sebelum perang dengan Iran dimulai. Namun, aksi jual yang makin deras membawa imbal hasil itu mendekati 4,7 persen dalam sesi perdagangan terakhir.

Lonjakan ini bertentangan dengan preferensi Presiden AS Donald Trump yang menginginkan suku bunga lebih rendah. Situasi tersebut juga terjadi bersamaan dengan penunjukan Kevin Warsh sebagai pimpinan bank sentral AS, sehingga perhatian pasar tertuju pada arah kebijakan moneter berikutnya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!