Yield Obligasi AS Tembus Tertinggi Sejak 2007

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 24 Mei 2026 20:27 WIB 7
Yield Obligasi AS Tembus Tertinggi Sejak 2007

Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat kembali berada di bawah tekanan setelah kekhawatiran inflasi meningkat akibat perang Iran. Pada perdagangan terbaru, yield Treasury tenor 30 tahun naik ke 5,2 persen, level tertinggi sejak 2007, dan memicu kekhawatiran atas biaya pinjaman di seluruh perekonomian AS.

Kenaikan itu terjadi ketika investor menilai keberlanjutan keuangan pemerintah AS, prospek suku bunga The Fed, serta risiko guncangan energi global. Tekanan tersebut tidak hanya mengguncang pasar obligasi, tetapi juga mulai menjalar ke saham, pangan, hingga tarif perjalanan udara.

Yield Obligasi AS Menguat

Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun yang memengaruhi suku bunga hipotek ikut naik menjadi 4,67 persen. Level itu merupakan yang tertinggi dalam lebih dari setahun dan menandakan pasar menuntut kompensasi lebih besar atas risiko inflasi.

Obligasi pemerintah dikenal sensitif terhadap perubahan harga, sehingga kenaikan inflasi membuat investor meminta yield lebih tinggi. Dalam kondisi seperti ini, nilai obligasi yang sudah beredar cenderung tertekan karena imbal hasil barunya menjadi lebih menarik.

CEO deVere Group, Nigel Green, mengatakan pasar obligasi memberi sinyal bahwa inflasi bisa lebih sulit dikendalikan dari yang diperkirakan banyak investor. Pandangan tersebut memperkuat persepsi bahwa tekanan harga belum mereda dan masih berpotensi memengaruhi pasar keuangan lebih luas.

Biaya Pinjaman Ikut Naik

Pasar obligasi pemerintah memiliki peran penting dalam menentukan biaya pinjaman di seluruh ekonomi AS. Ketika yield naik, suku bunga hipotek, kredit mobil, dan pinjaman usaha juga cenderung ikut terdorong lebih tinggi.

Lonjakan biaya pendanaan berpotensi membebani rumah tangga dan dunia usaha, terutama jika suku bunga bertahan di level tinggi lebih lama. Kondisi ini dapat menahan konsumsi, investasi, dan ekspansi bisnis pada periode berikutnya.

Di sisi lain, biaya pinjaman yang meningkat juga menjadi hambatan bagi pasar saham karena valuasi ekuitas sangat dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. Semakin tinggi imbal hasil obligasi, semakin besar tekanan terhadap aset berisiko seperti saham.

Perang Iran Tekan Pasar Global

Perang antara AS dan Iran memicu guncangan pada pasar energi global dan meningkatkan kekhawatiran inflasi lanjutan. Dampaknya mulai terasa pada sektor lain, termasuk harga pangan dan tiket pesawat yang berpotensi ikut naik.

Investor di berbagai negara merespons dengan menjual obligasi, sembari mencermati pembengkakan belanja pemerintah dan defisit yang berlarut. Kombinasi faktor tersebut mendorong permintaan atas imbal hasil yang lebih tinggi di pasar surat utang.

Tekanan ini tidak hanya terjadi di AS, tetapi juga terlihat di obligasi pemerintah Inggris dan Jepang tenor panjang. Yield obligasi Inggris tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 1998, sedangkan Jepang mencatat level tertinggi sepanjang sejarah.

Saham AS Tertekan

Kenaikan yield turut menekan pasar saham Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, 19 Mei. Dow Jones turun 322 poin atau 0,65 persen, sementara S&P 500 melemah 0,67 persen dan Nasdaq merosot 0,84 persen.

S&P 500 dan Nasdaq mencatat kerugian tiga hari beruntun karena imbal hasil yang lebih tinggi mengubah perhitungan valuasi saham. Dalam situasi ini, investor cenderung menilai ulang prospek laba dan arus kas perusahaan di tengah suku bunga yang mahal.

Imbal hasil Treasury tenor dua tahun juga melonjak ke level tertinggi, mencerminkan ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga atau bahkan menaikkannya dalam beberapa bulan mendatang. Kenaikan tersebut bertolak belakang dengan keinginan Presiden AS Donald Trump yang mendorong suku bunga lebih rendah, di saat Kevin Warsh ditetapkan sebagai pimpinan bank sentral AS.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!