Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau Treasury kembali tertekan naik seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi di Negeri Paman Sam. Kondisi ini memicu kekhawatiran baru karena biaya pinjaman di seluruh perekonomian AS berpotensi ikut naik.
Mengutip CNN, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 30 tahun naik ke 5,2 persen, level tertinggi sejak 2007. Lonjakan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasar bahwa perang Iran dapat mendorong harga energi, pangan, dan tiket pesawat semakin mahal.
Tekanan Yield Obligasi AS
Investor kini menimbang kembali keberlanjutan fiskal pemerintah AS, terutama ketika ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed masih tinggi. Situasi ini mendorong sebagian pelaku pasar keluar dari obligasi Treasury dan mencari aset lain yang dinilai lebih aman.
CEO deVere Group Nigel Green menilai pasar obligasi tengah memberi sinyal bahwa inflasi bisa lebih sulit dikendalikan daripada perkiraan banyak investor. Menurutnya, dinamika tersebut dapat memperpanjang tekanan di pasar keuangan global.
Selain tenor 30 tahun, imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun juga naik ke 4,67 persen, level tertinggi dalam lebih dari setahun. Kenaikan ini menjadi perhatian karena obligasi tenor 10 tahun kerap menjadi acuan bagi suku bunga hipotek di AS.
Dampak ke Biaya Pinjaman
Imbal hasil obligasi pemerintah berperan besar dalam menentukan biaya pinjaman di berbagai sektor ekonomi. Ketika yield naik, suku bunga hipotek, pinjaman mobil, dan kredit usaha biasanya ikut terdorong lebih tinggi.
Obligasi sensitif terhadap inflasi karena investor menuntut imbal hasil yang lebih besar untuk mengimbangi risiko turunnya daya beli. Dalam kondisi seperti ini, nilai obligasi lama cenderung tertekan karena kupon yang ditawarkan menjadi kurang menarik.
Kenaikan biaya pendanaan juga berpotensi menambah beban perusahaan dan rumah tangga di tengah ketidakpastian ekonomi. Jika berlanjut, tekanan tersebut dapat mengerem konsumsi dan investasi dalam jangka menengah.
Gejolak Pasar Global
Dampak perang Iran tidak hanya terasa di pasar obligasi AS, tetapi juga menjalar ke pasar global. Investor di berbagai negara turut menjual obligasi karena khawatir inflasi akan bertahan lebih lama dari perkiraan.
Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 30 tahun bahkan mencapai level tertinggi sejak 1998. Di Jepang, obligasi tenor 30 tahun juga naik ke rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Kombinasi kekhawatiran inflasi, belanja pemerintah, dan defisit yang terus membengkak membuat investor menuntut imbal hasil lebih tinggi. Kondisi ini menunjukkan pasar obligasi global tengah menghadapi tekanan yang cukup luas.
Saham Tertekan Yield
Lonjakan yield obligasi ikut menekan pasar saham karena tingkat suku bunga yang lebih tinggi mengubah perhitungan valuasi. Saat imbal hasil naik, investor cenderung menilai prospek saham menjadi kurang menarik dibanding aset berpendapatan tetap.
Pada perdagangan Selasa, indeks Dow Jones turun 322 poin atau 0,65 persen. S&P 500 melemah 0,67 persen, sedangkan Nasdaq merosot 0,84 persen.
S&P dan Nasdaq mencatat pelemahan tiga hari berturut-turut, menunjukkan tekanan pada saham masih berlanjut. Dalam kondisi ini, pasar menunggu arah kebijakan The Fed dan perkembangan konflik geopolitik yang memengaruhi sentimen global.
