Wellness Coach Inggris Meninggal Usai Ritual Kambo

Lifestyle Nadia Safira Putri 01 Juni 2026 18:38 WIB 2
Wellness Coach Inggris Meninggal Usai Ritual Kambo

Seorang wellness coach asal Inggris, Kristian Trend, meninggal dunia setelah diduga mengikuti ritual pembersihan diri menggunakan pengobatan alternatif Kambo di Leicester. Pria berusia 40 tahun itu diyakini menjadi korban pertama dari Inggris yang meninggal terkait penggunaan zat beracun tersebut.

Kambo berasal dari sekresi kulit katak Amazon yang dikenal beracun dan telah dilarang di sejumlah negara. Meski begitu, praktik dan penjualannya masih bisa ditemukan secara legal di Inggris, sehingga memunculkan kembali peringatan soal risiko kesehatan yang mengancam nyawa.

Kambo dan risiko kesehatan

Kambo adalah cairan yang diambil dari sekresi kulit giant monkey tree frog, katak yang hidup di wilayah Amazon. Dalam praktik tertentu, zat ini digunakan sebagai bagian dari ritual pembersihan tubuh dan dianggap memberi efek penyembuhan.

Namun, sejumlah otoritas kesehatan menilai Kambo berbahaya karena mengandung racun yang dapat memicu reaksi serius. Efek yang muncul dapat mencakup muntah hebat, dehidrasi, gangguan jantung, hingga kondisi medis darurat.

Di beberapa negara, praktik ini sudah dibatasi atau dilarang setelah muncul laporan efek samping berat. Australia, misalnya, mengambil langkah tegas usai beberapa kasus kematian langka dikaitkan dengan ritual tersebut.

Kondisi ini membuat Kambo terus menjadi perhatian karena dipasarkan sebagai terapi alternatif, padahal risikonya tidak kecil. Para ahli menekankan bahwa klaim penyembuhan tidak boleh mengesampingkan bahaya nyata terhadap tubuh.

Kisah terakhir Kristian

Sebelum meninggal, Kristian disebut mengikuti ritual Kambo di sebuah apartemen di Leicester pada bulan lalu. Ia diduga datang dengan tujuan melakukan cleansing atau membersihkan diri secara spiritual.

Menurut ibunya, Angie, putranya memang dikenal sangat spiritual dan rutin mengonsumsi vitamin. Meski demikian, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti apa yang sebenarnya terjadi sebelum kematian sang anak.

Angie mengatakan hasil pemeriksaan resmi belum diterima keluarga. Ia juga mengaku masih sulit menerima kepergian Kristian dan merasa belum siap mengetahui rincian penyebab kematiannya.

Kristian sempat berjuang melawan kanker Burkitt lymphoma dan berhasil sembuh setelah perawatan intensif selama empat bulan di rumah sakit. Ironisnya, setelah melewati perjuangan panjang itu, ia justru meninggal akibat dugaan keteledoran dalam memilih ritual kesehatan.

Reaksi keluarga dan publik

Kematian Kristian terjadi hanya seminggu sebelum ulang tahunnya. Sang ibu mengaku sudah menyiapkan hadiah untuk putranya, namun rencana itu berubah menjadi duka mendalam.

Ungkapan Angie kepada media Inggris menunjukkan betapa besar kehilangan yang dirasakan keluarga. Ia menyebut bahwa mengetahui detail lengkap tidak akan mengubah kenyataan bahwa putranya telah tiada.

Kasus ini memicu sorotan terhadap penggunaan pengobatan alternatif yang diklaim aman tanpa pembuktian medis yang kuat. Publik kembali diingatkan bahwa label alami tidak selalu berarti bebas risiko.

Para pemerhati kesehatan menilai masyarakat perlu lebih kritis terhadap praktik yang mengatasnamakan penyucian tubuh atau penyembuhan holistik. Tanpa pengawasan medis, prosedur seperti ini dapat menimbulkan konsekuensi fatal.

Jejak karier dan aktivitas

Sebelum meninggal, Kristian bekerja sebagai wellness coach dan aktif membagikan tips hidup sehat melalui media sosial. Akun Instagram miliknya, Kristian The Feel Good Guy, kerap memuat konten tentang kebugaran dan gaya hidup positif.

Ia juga sempat meluncurkan produk minuman pengganti kopi berbahan nabati. Langkah itu menunjukkan bahwa Kristian selama ini memang berfokus pada pasar kesehatan dan kesejahteraan tubuh.

Di tengah citra sebagai sosok yang peduli pada kesehatan, kematiannya justru menjadi pengingat bahwa pendekatan wellness tetap harus berpijak pada keamanan. Praktik alternatif yang ekstrem dapat berisiko tinggi bila tidak didukung informasi medis yang memadai.

Kasus ini kini menjadi perhatian karena disebut sebagai kematian pertama dari Inggris yang dikaitkan dengan penggunaan Kambo. Peristiwa tersebut memperkuat pentingnya pengawasan, edukasi publik, dan kehati-hatian dalam memilih metode perawatan tubuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!