Wanita Ini Alergi Sinar Matahari, Hidupnya Hanya Aman Malam

Lifestyle Clara Monica 28 Mei 2026 09:35 WIB 2
Wanita Ini Alergi Sinar Matahari, Hidupnya Hanya Aman Malam

Sonal Keay hidup dengan kondisi kulit langka yang membuatnya alergi terhadap sinar matahari, sehingga aktivitas di siang hari dapat memicu rasa sakit yang sangat berat. Perempuan ini bahkan harus menunggu malam tiba agar merasa lebih aman saat berada di luar rumah.

Keluhan itu bermula ketika ia berusia 18 tahun, saat reaksi kulitnya memburuk setelah liburan ke luar negeri. Sejak saat itu, ia menyadari bahwa paparan cahaya, termasuk sinar matahari yang singkat, dapat menimbulkan reaksi parah pada tubuhnya.

Alergi Sinar Matahari yang Langka

Sonal mengaku harus sangat berhati-hati agar tidak terpapar sinar ultraviolet terlalu lama. Dalam kasusnya, kulit dapat terasa sakit dan seperti terbakar hanya setelah berada di bawah matahari lebih dari satu menit.

Ia sempat tidak memahami penyebab keluhannya selama dua tahun. Pada masa itu, ia hanya merasakan ketidaknyamanan setiap kali berada di luar rumah.

Meski sudah terbiasa hidup dengan eksim sejak kecil, kondisi yang ia alami kali ini terasa berbeda. Ia kemudian menyadari bahwa sumber masalahnya ternyata berkaitan erat dengan sinar matahari.

Sonal menuturkan bahwa ia tidak pernah membayangkan alergi terhadap sesuatu yang justru menjadi sumber kehidupan. Kalimat itu menggambarkan betapa beratnya dampak kondisi tersebut terhadap keseharian dirinya.

Diagnosis Dermatitis Aktinik Kronis

Setelah menjalani pemeriksaan, Sonal didiagnosis mengidap dermatitis aktinik kronis. Kondisi kulit langka ini membuat tubuhnya mengembangkan lesi eksim, bahkan pada area yang tidak terkena matahari.

American Academy of Dermatology menyebut ada berbagai jenis alergi kulit fotosensitif. Pada kasus Sonal, reaksi yang muncul bisa sangat menyakitkan dan mengganggu aktivitas harian.

Ia menggambarkan sensasi itu bukan sekadar nyeri biasa. Menurutnya, rasa sakit yang muncul begitu intens hingga membuatnya ingin menggaruk kulit agar terasa lebih ringan.

Reaksi kulitnya juga tidak hanya muncul saat cuaca cerah. Bahkan ketika langit mendung, tubuhnya tetap dapat merespons cahaya matahari dengan sangat kuat.

Dampak pada Kehidupan Sehari-hari

Kondisi tersebut membuat Sonal harus menyesuaikan hampir seluruh rutinitasnya. Ia mengaku aman hanya ketika matahari telah benar-benar terbenam.

Sebelum keluar rumah, ia wajib menggunakan tabir surya hanya untuk melakukan hal-hal sederhana. Aktivitas seperti mengambil kunci mobil atau memakai sepatu pun memerlukan perlindungan ekstra.

Ketika berada di luar rumah, ia juga merasa sangat tidak nyaman jika terkena cahaya terlalu lama. Bahkan paparan singkat yang terjadi berulang dapat memicu reaksi alergi yang parah.

Rasa sakit yang berulang membuat kualitas hidupnya berubah total. Ia harus selalu merencanakan setiap langkah agar tubuhnya tidak langsung bereaksi.

Adaptasi dan Tantangan Mental

Selain berdampak pada fisik, kondisi ini juga memengaruhi kesehatan mental Sonal. Ia sempat merasa takut terhadap cahaya, termasuk lampu di dalam ruangan.

Untuk mengurangi risiko, Sonal memasang tirai anti-UV di rumahnya. Langkah itu membantunya tetap dapat beraktivitas di dalam rumah dengan lebih aman.

Meski terlihat sehat dari luar, ia menegaskan bahwa kehidupannya jauh dari kata normal. Keterangan itu menunjukkan betapa besar penyesuaian yang harus ia lakukan setiap hari.

Kisah Sonal menjadi pengingat bahwa gangguan kulit langka dapat mengubah hidup seseorang secara drastis. Di balik tampilan yang tampak biasa, ia harus berjuang melawan paparan cahaya yang bagi orang lain justru dianggap hal biasa.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!