Vanilla Hijab Soroti Tekanan Biaya di Marketplace

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 22 Mei 2026 20:31 WIB 5
Vanilla Hijab Soroti Tekanan Biaya di Marketplace

Tekanan biaya di marketplace dinilai semakin menjerat pelaku usaha lokal, termasuk brand fashion muslim Vanilla Hijab. Founder Vanilla Hijab, Atina Maulina, menyebut kebijakan potongan layanan dan promo yang terus naik membuat margin penjual semakin menipis.

Dalam keterangan di Jakarta Selatan, Atina mengatakan beban operasional kini sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan bagi keberlanjutan UMKM. Kondisi tersebut diperparah oleh kenaikan biaya bahan baku dan harga pasar yang sulit menerima kenaikan harga jual secara drastis.

Tekanan biaya marketplace

Atina menilai biaya marketplace yang naik secara sepihak menjadi salah satu tantangan terbesar bagi penjual lokal. Menurut dia, beban gratis ongkir dan layanan lain kerap dialihkan kepada seller tanpa ruang negosiasi yang memadai.

Ia menjelaskan, kenaikan biaya itu terjadi bersamaan dengan naiknya harga bahan baku. Situasi tersebut membuat pelaku usaha harus menahan laju harga jual agar tidak kehilangan konsumen.

Vanilla Hijab, kata Atina, sempat memilih menaikkan harga produk secara bertahap. Langkah itu dilakukan agar konsumen tidak kaget saat harga berubah.

Perusahaan juga mengerem produksi massal sambil memantau respons pasar. Strategi ini ditempuh untuk menjaga arus kas dan keberlangsungan usaha.

Strategi nilai tambah produk

Di tengah tekanan harga, Vanilla Hijab memilih fokus pada inovasi produk. Atina menegaskan bahwa perang harga bukan jalan yang sehat bagi bisnis jangka panjang.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah hijab instan dengan magnet. Model ini diharapkan memudahkan konsumen tanpa harus menggunakan pentul.

Selain itu, perusahaan mulai mengubah kemasan menjadi lebih ramah pakai ulang. Perubahan ini ditujukan untuk memberi kesan yang lebih bernilai bagi pembeli.

Dengan tambahan nilai tersebut, harga yang sedikit lebih tinggi diharapkan tetap bisa diterima pasar. Atina menilai konsumen cenderung menghargai manfaat tambahan yang jelas.

Keluhan seller di platform

Atina juga mengkritik pengalaman seller yang kerap diikutkan kampanye secara otomatis. Menurut dia, fitur seperti gratis ongkir dan promosi lain bisa aktif tanpa pemberitahuan yang jelas.

Kondisi itu membuat biaya promosi kembali dibebankan kepada penjual. Saat dikonfirmasi, pihak platform kerap menyebut fitur tersebut aktif secara otomatis.

Ia menambahkan, masalah serupa juga terjadi pada fitur lain seperti Live Extra. Tidak jarang, seller baru mengetahui beban biaya setelah laporan transaksi muncul.

Vanilla Hijab menilai kasus seperti ini tidak hanya dialami satu brand. Ribuan penjual lain di Indonesia diduga menghadapi persoalan yang sama sehingga perlu lebih teliti memeriksa laporan keuangan toko.

Seruan perlindungan UMKM

Selain biaya administrasi, Atina menyoroti lemahnya perlindungan terhadap kasus penipuan melalui retur barang. Ia menyebut sistem pengembalian masih memberi celah bagi kerugian seller.

Meski Vanilla Hijab belum menjadi korban, Atina mengaku prihatin terhadap pelaku UMKM lain yang dirugikan. Menurut dia, perlindungan yang lemah dapat mengganggu kepercayaan pelaku usaha pada ekosistem digital.

Atina juga meminta pemerintah hadir secara lebih konkret untuk melindungi perdagangan daring. Ia menilai UMKM adalah penopang ekonomi nasional, sementara sebagian besar pasarnya kini bergantung pada marketplace.

Karena itu, ia berharap ada regulasi yang lebih adil dan pengawasan yang lebih tegas terhadap kebijakan internal platform. Dengan aturan yang sehat, industri kreatif nasional dinilai bisa tumbuh lebih berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!