Beban biaya di marketplace dinilai semakin menekan pelaku usaha lokal, termasuk brand fashion muslim Vanilla Hijab. Keluhan itu disampaikan Atina Maulina, founder Vanilla Hijab, yang menilai kebijakan sepihak platform telah menggerus margin keuntungan penjual. Dalam kondisi biaya operasional yang terus naik, UMKM disebut semakin sulit menjaga harga tetap kompetitif. Situasi ini membuat pelaku usaha harus menata ulang strategi agar bisnis tetap bertahan.
Atina menjelaskan, masalah bukan hanya pada potongan biaya layanan yang meningkat, tetapi juga pada beban promo yang kerap dibebankan kepada seller. Ia menilai, banyak pedagang tidak memiliki ruang untuk menolak karena promosi sudah menjadi bagian penting dalam persaingan di marketplace. Di sisi lain, harga bahan baku juga ikut naik, sementara pasar sulit menerima kenaikan harga yang terlalu tajam. Kondisi tersebut memaksa pelaku usaha bergerak lebih hati-hati dalam mengatur produksi dan penjualan.
Tekanan Marketplace Pada UMKM
Atina menyebut biaya marketplace kini berada pada level yang mengkhawatirkan bagi kelangsungan usaha kecil dan menengah. Menurut dia, potongan layanan yang terus naik membuat ruang gerak penjual lokal semakin sempit. Ia juga menyoroti beban gratis ongkir yang disebut kerap aktif secara otomatis dan dibebankan kepada seller. Dalam pandangannya, situasi ini membuat banyak pelaku usaha harus menanggung biaya tambahan yang sulit diprediksi.
Ia mencontohkan, biaya promosi di platform digital sering kali muncul tanpa pemberitahuan yang jelas kepada penjual. Ketika fitur itu aktif, beban pembayaran langsung masuk ke laporan toko meski seller merasa tidak mengaktifkannya. Atina menilai praktik seperti ini membingungkan dan berisiko merugikan pelaku usaha kecil. Karena itu, ia mendorong penjual untuk rutin memeriksa seluruh tagihan dan laporan transaksi.
Masalah serupa juga dialami pada beberapa fitur lain, termasuk program promosi yang berkaitan dengan layanan transaksi tertentu. Atina menyebut beban biaya bisa muncul bahkan saat pembeli menggunakan metode pembayaran paylater. Menurut dia, kondisi itu tidak adil karena biaya tersebut tetap dibebankan kepada seller. Ia menilai pola seperti ini seharusnya dievaluasi agar tidak menekan pelaku usaha lokal secara berlebihan.
Meski marketplace tetap membantu memperluas pasar, Atina menilai platform perlu lebih berpihak kepada penjual. Ia mengatakan, penjual membutuhkan sistem yang transparan agar bisa menghitung biaya secara akurat. Tanpa keterbukaan, seller akan kesulitan menjaga arus kas dan menentukan harga jual. Pada akhirnya, tekanan biaya yang terus menumpuk dapat mengganggu keberlanjutan usaha UMKM.
Strategi Vanilla Hijab Bertahan
Di tengah tekanan tersebut, Vanilla Hijab memilih menaikkan harga produk secara bertahap agar tidak mengejutkan konsumen. Atina menjelaskan, langkah itu dilakukan perlahan, misalnya dari Rp80.000 menjadi Rp95.000. Strategi ini ditempuh untuk menyesuaikan biaya produksi yang ikut meningkat. Dengan cara tersebut, perusahaan berharap pelanggan masih dapat menerima penyesuaian harga.
Selain menaikkan harga secara hati-hati, perusahaan juga mengerem volume produksi massal. Langkah ini dilakukan sambil mengamati respons pasar dan daya serap konsumen. Atina menilai, produksi yang terlalu agresif justru berisiko menambah beban stok. Karena itu, pengendalian volume menjadi salah satu cara untuk menjaga kesehatan bisnis.
Untuk tetap kompetitif, Vanilla Hijab tidak semata mengandalkan harga murah. Brand tersebut memilih memperkuat nilai tambah atau added value pada produknya. Salah satu pengembangan yang dilakukan adalah menghadirkan hijab instan dengan magnet agar lebih praktis digunakan. Perusahaan juga mulai beralih ke kemasan reusable yang dinilai lebih ramah dan fungsional.
Atina menegaskan, konsumen perlu merasakan manfaat tambahan ketika harga produk naik. Menurut dia, inovasi yang memberi nilai lebih akan lebih mudah diterima pasar dibanding sekadar banting harga. Pendekatan ini juga menjadi pembeda di tengah gempuran produk impor white label yang harganya lebih murah. Dengan strategi tersebut, Vanilla Hijab berupaya menjaga posisi di pasar tanpa mengorbankan kualitas.
Risiko Impor Dan Bahan Baku
Vanilla Hijab memang bekerja sama dengan produsen tekstil lokal, termasuk Gistex di Bandung. Namun Atina mengakui, rantai pasok bahan baku di Indonesia belum sepenuhnya lepas dari pengaruh impor. Ia menyebut sekitar 50 persen pasokan bahan baku lainnya masih terkait jalur impor secara tidak langsung. Kondisi itu membuat industri fashion lokal tetap rentan terhadap fluktuasi harga global.
Ketergantungan pada bahan baku impor menjadi tantangan tambahan bagi pelaku usaha yang sudah terbebani biaya marketplace. Saat harga bahan naik, ruang untuk menjaga harga jual tetap stabil semakin terbatas. Atina menilai, tekanan berlapis ini membuat pelaku usaha harus lebih cermat dalam mengelola modal. Tanpa pengendalian yang tepat, margin keuntungan bisa semakin menipis.
Di tengah situasi tersebut, penjual juga dituntut memahami struktur biaya dari hulu ke hilir. Mulai dari bahan baku, produksi, kemasan, hingga distribusi digital, semuanya mempengaruhi harga akhir produk. Atina menilai, pelaku usaha tidak bisa hanya fokus pada penjualan, tetapi juga harus memahami perubahan rantai pasok. Dengan begitu, mereka bisa mengambil keputusan bisnis yang lebih tepat.
Menurut dia, daya tahan bisnis fashion lokal akan sangat bergantung pada kemampuan beradaptasi. Pelaku usaha perlu menyiapkan cadangan strategi ketika biaya produksi dan biaya platform sama-sama naik. Kombinasi efisiensi, inovasi, dan pengendalian stok menjadi kunci agar usaha tetap berjalan. Tanpa itu, pelaku UMKM berisiko semakin terjepit oleh tekanan pasar.
Perlindungan Untuk Penjual
Selain soal biaya, Atina juga menyoroti lemahnya perlindungan terhadap penjual dari praktik penipuan bermodus retur barang. Meski Vanilla Hijab belum pernah mengalami kerugian serupa, ia mengaku prihatin terhadap banyak UMKM yang menjadi korban. Menurut dia, aturan pengembalian barang masih terlalu longgar dan berpotensi disalahgunakan. Kondisi ini menambah daftar risiko yang harus ditanggung seller di platform digital.
Atina menilai ekosistem marketplace membutuhkan aturan yang lebih adil dan transparan. Ia menyebut, seller sering kali harus menghadapi kebijakan yang berubah tanpa mekanisme yang jelas. Jika tidak ada pengawasan yang kuat, ketimpangan antara platform dan penjual akan terus melebar. Dalam jangka panjang, hal itu bisa mengganggu kepercayaan pelaku usaha terhadap kanal penjualan digital.
Ia juga menekankan pentingnya kehadiran negara dalam melindungi ekosistem digital secara konkret. Menurut dia, UMKM menyumbang sekitar 60 persen penopang ekonomi Indonesia dan sekitar 90 persen pasarnya kini bergantung pada marketplace. Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya fokus pada isu makro ekonomi. Regulasi mikro yang adil juga dibutuhkan agar pelaku usaha kecil tidak terus dirugikan.
Atina berharap pemerintah dapat menstabilkan harga sekaligus menertibkan kebijakan internal marketplace yang merugikan pedagang lokal. Ia menilai sektor e-commerce belum memiliki wadah formal yang kuat seperti sektor pariwisata atau energi. Akibatnya, penjual daring kerap bergerak sendiri tanpa posisi tawar yang seimbang. Jika perlindungan tidak segera diperkuat, keberlanjutan industri kreatif nasional dikhawatirkan ikut tertekan.
