Vaginal Atrophy Sering Tak Disadari Menjelang Menopause

Lifestyle Clara Monica 30 Mei 2026 18:47 WIB 4
Vaginal Atrophy Sering Tak Disadari Menjelang Menopause

Vaginal atrophy merupakan kondisi ketika jaringan vagina dan vulva menipis, menjadi lebih kering, rapuh, serta mudah terluka seiring perubahan hormon. Masalah ini kerap muncul pada masa perimenopause dan menopause, tetapi juga bisa terjadi pada kondisi lain seperti menyusui, stres, diabetes, hingga penggunaan obat tertentu.

Penelitian terbaru dari KK Women's and Children's Hospital di Singapura menunjukkan bahwa 4 dari 10 perempuan berusia 45 hingga 65 tahun mengalami gejala sedang hingga berat. Temuan itu menegaskan bahwa vaginal atrophy bukan keluhan sepele, karena dapat memengaruhi kenyamanan, kesehatan saluran kemih, dan kualitas hidup perempuan.

Mengenal Vaginal Atrophy

Kekeringan vagina dan vaginal atrophy sering dianggap sama, padahal keduanya berbeda. Kekeringan vagina hanya merujuk pada berkurangnya pelumasan, sedangkan vaginal atrophy mencakup penipisan jaringan dan peradangan pada area vagina.

Dokter Jean-Jasmin Lee Mi-li dari KK Menopause Centre dan KKH Sexual Health Clinic menjelaskan bahwa vaginal atrophy memiliki cakupan yang lebih luas. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan rasa tidak nyaman, tetapi juga membuat jaringan lebih rentan mengalami iritasi dan cedera.

Pada banyak perempuan, keluhan awal sering kali terasa ringan sehingga tidak segera disadari. Padahal, perubahan kecil pada area intim dapat berkembang menjadi masalah yang lebih mengganggu jika tidak dipahami sejak awal.

Kurangnya pengetahuan membuat banyak perempuan tidak mengaitkan gejala tersebut dengan kesehatan reproduksi. Akibatnya, mereka cenderung menunda pemeriksaan hingga keluhan menjadi lebih berat dan sulit diabaikan.

Gejala Vaginal Atrophy

Gejala vaginal atrophy tidak selalu muncul dalam bentuk rasa kering semata. Sebagian perempuan justru datang dengan keluhan infeksi saluran kemih yang berulang dan sulit sembuh.

Spesialis uroginekologi Dr Ng Kai Lyn menyebutkan bahwa sebagian pasien baru memeriksakan diri ketika gangguan buang air kecil sudah cukup mengganggu. Keluhan lain yang dapat muncul adalah adanya darah dalam urin secara mikroskopis, nyeri, serta rasa tidak nyaman di area panggul.

Pada masa menjelang menopause, jarak antara saluran kemih dan vagina menjadi sangat dekat. Dalam kondisi itu, kulit di sekitar vagina dan vulva ikut menipis akibat menurunnya kadar estrogen.

Perubahan ini membuat area intim lebih sensitif dan mudah mengalami iritasi. Jika dibiarkan, keluhan ringan dapat berkembang menjadi gangguan yang berdampak pada aktivitas harian dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Penyebab Vaginal Atrophy

Penurunan estrogen menjadi pemicu utama vaginal atrophy, terutama saat perimenopause dan menopause. Hormon ini berperan penting menjaga kelembapan dan ketebalan jaringan vagina.

Selain perubahan alami pada usia reproduktif akhir, kondisi ini juga dapat dipicu oleh menyusui, stres, diabetes, obat-obatan tertentu, dan terapi kanker. Karena itu, vaginal atrophy tidak selalu hanya berkaitan dengan usia.

Ketika estrogen menurun, kulit di area vagina dapat membentuk retakan kecil. Celah tersebut menjadi pintu masuk bagi bakteri yang kemudian memicu infeksi saluran kemih maupun infeksi kandung kemih.

Dr Ng menjelaskan bahwa mekanisme ini sering kali tidak disadari pasien. Banyak perempuan mengira infeksi yang dialami berdiri sendiri, padahal bisa berkaitan dengan perubahan hormon yang terjadi dalam tubuh.

Penanganan Vaginal Atrophy

Kesadaran untuk mengenali vaginal atrophy menjadi langkah penting agar perempuan tidak terlambat mencari pertolongan. Pemeriksaan medis diperlukan ketika gejala mulai mengganggu, terutama jika infeksi kemih terjadi berulang.

Dr Lee menekankan bahwa masalah kesehatan intim saat menopause sering disimpan sendiri dan tidak diungkapkan kepada tenaga medis. Sikap ini membuat penanganan menjadi tertunda, meski keluhannya sudah memengaruhi kenyamanan sehari-hari.

Langkah awal yang dapat dilakukan adalah memahami bahwa keluhan pada area intim bukanlah hal yang memalukan untuk dibicarakan. Semakin cepat kondisi dikenali, semakin besar peluang untuk mendapatkan penanganan yang tepat sesuai penyebabnya.

Perempuan juga perlu waspada bila sudah berpindah-pindah dokter tetapi keluhan belum membaik. Dalam banyak kasus, akar masalah baru terungkap setelah gejala dikaitkan dengan masa perimenopause atau menopause.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!