Area intim wanita juga dapat mengalami perubahan seiring bertambahnya usia, sama seperti kulit wajah yang menjadi lebih kering dan kehilangan kekenyalannya. Kondisi ini dikenal sebagai vaginal atrophy, yakni penyusutan jaringan vulva dan vagina akibat perubahan hormon yang membuat area intim menjadi tipis, kering, rapuh, dan mudah terluka.
Masalah ini masih sering tidak disadari, padahal cukup umum dialami perempuan, terutama menjelang menopause. Riset terbaru dari KK Women and Children's Hospital di Singapura menunjukkan bahwa 4 dari 10 wanita berusia 45 hingga 65 tahun mengalami gejala sedang hingga berat vaginal atrophy.
Vaginal Atrophy dan Menopause
Vaginal atrophy bukan sekadar rasa kering pada vagina, melainkan perubahan yang lebih luas pada jaringan intim. Kondisi ini mencakup penipisan dinding vagina, berkurangnya elastisitas, dan peradangan yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan.
Menurut Dr Jean-Jasmin Lee Mi-li, konsultan di KK Menopause Centre dan KKH Sexual Health Clinic, kekeringan vagina hanya menggambarkan berkurangnya pelumasan. Sementara itu, vaginal atrophy menunjukkan gangguan yang lebih kompleks pada struktur vagina dan area sekitarnya.
Masalah ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk perubahan hormon saat menyusui, stres, diabetes, konsumsi obat tertentu, hingga pengobatan kanker. Namun, risiko biasanya meningkat saat perempuan memasuki masa perimenopause dan menopause.
Dr Lee menilai banyak perempuan tidak membicarakan keluhan kesehatan intim yang muncul pada masa menopause. Akibatnya, gangguan tersebut sering dibiarkan hingga memengaruhi kualitas hidup sehari-hari.
Gejala yang Sering Muncul
Gejala vaginal atrophy tidak selalu langsung dikenali sebagai masalah menopause. Banyak perempuan menganggap keluhan yang muncul hanya sebagai infeksi biasa atau gangguan sementara.
Spesialis uroginekologi dari Aster Gynaecology, Dr Ng Kai Lyn, menjelaskan bahwa banyak pasien baru datang ke klinik ketika gejala sudah cukup berat. Keluhan yang sering ditemukan antara lain infeksi saluran kemih yang berulang, rasa nyeri, dan gangguan saat buang air kecil.
Dalam sejumlah kasus, pasien juga mengalami hematuria mikroskopis, yaitu adanya darah dalam urin yang tidak tampak jelas. Kondisi ini dapat menimbulkan kekhawatiran bila tidak diketahui penyebab utamanya.
Dr Ng menegaskan bahwa gejala di area intim sering kali berkembang perlahan dan tidak menimbulkan tanda yang mencolok pada awalnya. Karena itu, pemeriksaan medis menjadi penting ketika keluhan mulai muncul berulang.
Peran Estrogen Menurun
Menjelang menopause, penurunan kadar estrogen menjadi pemicu utama perubahan pada jaringan vagina dan vulva. Hormon ini berperan menjaga kelembapan, elastisitas, dan ketebalan kulit di area intim.
Dr Ng menjelaskan bahwa saat estrogen menurun, kulit di sekitar vagina dan vulva menjadi lebih tipis. Pada saat yang sama, jarak antara saluran kemih dan vagina juga menjadi sangat dekat.
Kondisi tersebut membuat jaringan lebih mudah mengalami retakan kecil. Retakan inilah yang dapat menjadi pintu masuk bakteri ke area yang sensitif.
Ketika bakteri masuk ke saluran kemih, risiko infeksi kandung kemih dan infeksi saluran kemih pun meningkat. Inilah sebabnya vaginal atrophy kerap berkaitan dengan keluhan berulang pada sistem kemih.
Penanganan dan Kesadaran
Kurangnya pengetahuan membuat banyak perempuan tidak menyadari bahwa keluhan yang dialami berkaitan dengan perimenopause. Sebagian pasien bahkan berpindah dari satu dokter ke dokter lain sebelum menemukan penyebab sebenarnya.
Dr Ng menyebut ada pasien yang baru memahami kaitan infeksi kemihnya dengan menopause setelah berkonsultasi dengan banyak tenaga medis. Situasi ini menunjukkan bahwa edukasi tentang kesehatan intim masih perlu diperkuat.
Kesadaran sejak dini dapat membantu perempuan mengenali gejala lebih cepat dan mencari pertolongan medis lebih tepat. Dengan demikian, risiko komplikasi dan ketidaknyamanan berkepanjangan dapat ditekan.
Pemeriksaan ke dokter diperlukan bila keluhan kekeringan, nyeri, atau infeksi saluran kemih terus berulang. Penanganan yang sesuai dapat membantu menjaga kualitas hidup perempuan pada masa perimenopause dan menopause.
