Vaginal Atrophy, Gangguan Intim yang Sering Tak Disadari

Lifestyle Anindya Kirana Putri 01 Juni 2026 17:32 WIB 3
Vaginal Atrophy, Gangguan Intim yang Sering Tak Disadari

Area intim wanita juga dapat mengalami perubahan seiring bertambahnya usia, sama seperti kulit wajah yang kehilangan kekenyalannya. Kondisi ini dikenal sebagai vaginal atrophy, yaitu penipisan dan kekeringan pada jaringan vulva serta dinding vagina akibat perubahan hormon. Masalah ini sering tidak disadari, padahal dapat menimbulkan keluhan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Penelitian terbaru dari KK Women's and Children's Hospital (KKH) Singapura menunjukkan, 4 dari 10 wanita berusia 45 hingga 65 tahun mengalami gejala sedang hingga berat. Temuan itu menempatkan vaginal atrophy sebagai salah satu masalah yang sering muncul menjelang menopause, bahkan lebih tinggi dibanding hot flashes atau keringat malam. Kondisi ini menunjukkan bahwa kesehatan intim perempuan masih membutuhkan perhatian lebih besar.

Mengenal Vaginal Atrophy

Vaginal atrophy adalah kondisi ketika jaringan vagina menjadi lebih tipis, kering, dan rapuh. Situasi ini berbeda dari kekeringan vagina biasa, karena dampaknya lebih luas dan dapat disertai peradangan pada jaringan. Dr Jean-Jasmin Lee Mi-li dari KK Menopause Centre dan KKH Sexual Health Clinic menjelaskan bahwa kekeringan hanya menyangkut berkurangnya pelumasan, sedangkan atrophy mencakup perubahan struktur jaringan.

Kondisi ini umumnya dipicu oleh penurunan hormon estrogen. Perubahan tersebut dapat terjadi saat menyusui, mengalami stres, menderita diabetes, atau menjalani pengobatan tertentu. Pada sebagian wanita, gejalanya menjadi lebih jelas ketika memasuki masa perimenopause dan menopause.

Dr Lee menilai banyak perempuan jarang membicarakan masalah kesehatan intim saat menopause. Akibatnya, keluhan yang muncul sering dianggap hal biasa dan tidak segera ditangani. Padahal, temuan penelitian menunjukkan bahwa gangguan ini dapat memengaruhi kualitas hidup secara signifikan.

Minimnya pemahaman juga membuat banyak wanita tidak mengaitkan gejala dengan perubahan hormon. Mereka baru mencari bantuan setelah keluhan terasa mengganggu, berulang, atau menimbulkan rasa tidak nyaman saat beraktivitas. Situasi ini membuat diagnosis sering terlambat ditegakkan.

Gejala Yang Sering Muncul

Gejala vaginal atrophy tidak selalu langsung terlihat, tetapi dapat berkembang perlahan. Beberapa wanita merasakan sensasi kering, perih, atau tidak nyaman di area intim. Pada kondisi tertentu, hubungan seksual juga dapat terasa nyeri.

Spesialis uroginekologi dari Aster Gynaecology, Dr Ng Kai Lyn, menyebut banyak pasien baru datang ketika gejalanya sudah cukup berat. Keluhan yang sering muncul antara lain infeksi saluran kemih yang tidak kunjung sembuh, hematuria mikroskopis, serta gangguan saat buang air kecil. Dalam banyak kasus, tanda-tanda ini sempat dianggap sebagai masalah kesehatan lain.

Menjelang menopause, jarak antara saluran kemih dan vagina menjadi lebih dekat karena jaringan di sekitarnya menipis. Kondisi ini membuat area tersebut lebih rentan terhadap iritasi dan infeksi. Dr Ng menjelaskan bahwa penurunan estrogen menjadi pemicu utama proses tersebut.

Ketika kadar estrogen turun, kulit yang rapuh dapat mengalami retakan kecil. Celah itu kemudian menjadi jalur masuk bakteri ke saluran kemih. Akibatnya, infeksi saluran kemih maupun kandung kemih lebih mudah terjadi dan bisa berulang.

Dampak Pada Keseharian

Vaginal atrophy bukan sekadar keluhan fisik, karena dampaknya dapat menjangkau kehidupan sehari-hari. Rasa nyeri, perih, atau tidak nyaman dapat mengganggu aktivitas normal dan menurunkan kepercayaan diri. Pada sebagian perempuan, kondisi ini juga memengaruhi kenyamanan dalam relasi pasangan.

Masalah yang berulang, seperti infeksi saluran kemih, dapat membuat penderitanya sering keluar masuk fasilitas kesehatan. Selain menyita waktu, kondisi ini juga bisa menimbulkan kekhawatiran karena gejala tidak kunjung membaik. Jika dibiarkan, kualitas hidup perempuan dapat menurun secara bertahap.

Dr Ng menuturkan, sebagian pasien baru memahami hubungan antara infeksi kemih dan menopause setelah berpindah dari satu dokter ke dokter lain. Hal ini memperlihatkan bahwa kurangnya edukasi masih menjadi hambatan utama. Akibatnya, penanganan sering terlambat dilakukan.

Karena dianggap hal yang memalukan atau normal terjadi saat usia bertambah, banyak wanita memilih diam. Sikap ini membuat keluhan terus berlanjut tanpa penanganan yang tepat. Padahal, semakin cepat dipahami, semakin besar peluang gejala dikendalikan.

Langkah Pencegahan Awal

Pencegahan vaginal atrophy dimulai dari kesadaran bahwa perubahan hormon dapat berdampak pada kesehatan intim. Wanita perlu mengenali gejala awal, terutama bila mulai merasakan kekeringan, perih, atau infeksi yang berulang. Dengan pemahaman yang baik, pemeriksaan bisa dilakukan lebih cepat.

Penting juga untuk tidak menunda konsultasi saat keluhan muncul. Dokter dapat membantu menilai apakah gejala berkaitan dengan menopause, kondisi medis lain, atau efek obat tertentu. Langkah ini berguna agar penanganan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien.

Edukasi kesehatan reproduksi pada fase perimenopause dan menopause perlu diperkuat. Informasi yang benar dapat membantu perempuan memahami bahwa keluhan intim bukan sesuatu yang harus dipendam. Semakin terbuka pembahasan ini, semakin mudah pula pencegahan dilakukan sejak dini.

Kesadaran keluarga dan lingkungan juga berperan penting dalam mendorong perempuan mencari bantuan medis. Dukungan yang baik dapat membuat pasien merasa aman untuk membicarakan gejalanya. Dengan begitu, vaginal atrophy dapat dikenali lebih awal dan tidak berkembang menjadi masalah yang lebih berat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!