UPF Tak Selalu Berbahaya, Ini Penjelasan Ahli

Lifestyle Nadia Safira Putri 29 Mei 2026 22:04 WIB 5
UPF Tak Selalu Berbahaya, Ini Penjelasan Ahli

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibahas di media sosial, dan memicu kekhawatiran terhadap berbagai makanan kemasan. Padahal, tidak semua pangan olahan memiliki dampak kesehatan yang sama, karena kandungan gizinya bisa sangat berbeda.

Sejumlah produk yang kerap dicap sebagai UPF justru masih dapat menyumbang protein, vitamin, mineral, dan zat gizi lain yang dibutuhkan tubuh. Penilaian yang tepat perlu melihat komposisi, bukan hanya bentuk kemasannya.

UPF dan Kesehatan

UPF sering dipersepsikan sebagai makanan yang otomatis tidak sehat, padahal klasifikasinya bergantung pada tingkat pemrosesan dan bahan tambahan yang digunakan. Karena itu, istilah UPF tidak bisa disamakan dengan semua makanan olahan.

Dalam praktiknya, makanan yang lebih sederhana prosesnya cenderung masih menyisakan karakter bahan pangan aslinya. Sementara itu, produk dengan banyak aditif, perisa, pemanis, dan pengental lebih dekat pada kategori ultra-processed foods.

Perbedaan ini penting agar masyarakat tidak langsung menghindari semua produk kemasan tanpa pertimbangan gizi. Sikap yang lebih bijak adalah membaca label dan menilai komposisi secara cermat.

Sarden Kalengan

Sarden kalengan sering dicurigai sebagai UPF, padahal statusnya sangat bergantung pada komposisinya. Jika bahan dasarnya hanya ikan, garam, minyak, atau saus tomat sederhana, produk tersebut cenderung masuk kategori processed foods.

Namun, sebagian sarden kalengan dapat berubah menjadi ultra-processed foods jika ditambah banyak bahan seperti perisa, pengental, atau pemanis. Tambahan aditif inilah yang membuat tingkat pemrosesan produk menjadi lebih tinggi.

Karena itu, konsumen perlu memeriksa daftar bahan sebelum membeli. Pilihan dengan komposisi yang lebih sederhana umumnya lebih mudah dipahami dari sisi gizi dan kesehatan.

Susu UHT Plain

Susu UHT plain juga kerap masuk dalam perdebatan mengenai UPF. Pada dasarnya, produk ini tidak selalu dapat langsung digolongkan sebagai ultra-processed foods.

Sejumlah peneliti cenderung menempatkan susu UHT plain ke dalam processed foods karena proses pemanasannya bertujuan memperpanjang daya simpan. Klasifikasi bisa berubah jika produk mengandung perisa, pemanis, atau formulasi yang lebih kompleks.

Dengan kata lain, susu UHT plain tidak otomatis setara dengan minuman susu kemasan manis. Perbedaan kandungan tersebut menentukan apakah produk masih relatif sederhana atau sudah masuk kelompok ultra-processed.

Memilih Makanan Olahan

Konsumen sebaiknya tidak menilai makanan hanya dari label kemasan atau popularitasnya di media sosial. Langkah paling aman adalah memahami komposisi, kandungan gizi, dan frekuensi konsumsinya dalam pola makan harian.

Makanan olahan tetap dapat menjadi bagian dari menu, selama dipilih secara bijak dan tidak berlebihan. Kehadiran protein, vitamin, dan mineral juga perlu dipertimbangkan, terutama bila produk tersebut membantu memenuhi kebutuhan gizi.

Dengan literasi gizi yang lebih baik, masyarakat bisa membedakan mana produk yang sekadar diproses dan mana yang benar-benar ultra-processed. Pemahaman ini membantu menghindari kesimpulan keliru terhadap semua makanan kemasan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!