UMKM Yogyakarta Raup Rp1 M dari Pasok Susu MBG

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 24 Mei 2026 16:50 WIB 7
UMKM Yogyakarta Raup Rp1 M dari Pasok Susu MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memberi dorongan besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, termasuk produsen susu asal Yogyakarta, Sweet Sundae. Melalui pasokan susu untuk kebutuhan program tersebut, usaha ini mampu meraup omzet hingga Rp1 miliar dan memperluas jaringan distribusi ke sejumlah daerah di Jawa Tengah.

Owner sekaligus Co-founder Sweet Sundae, Yuki Rahmayanti, mengatakan pihaknya mendapat amanah memasok susu untuk MBG sejak Februari 2025. Saat ini, sedikitnya lima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mengambil stok dari usahanya, dengan kebutuhan yang terus meningkat dan mendorong perusahaan membangun peternakan sendiri.

Dampak MBG bagi UMKM

Program MBG menjadi peluang nyata bagi pelaku usaha lokal yang memiliki kapasitas produksi memadai. Bagi Sweet Sundae, permintaan dari SPPG membuat arus penjualan bergerak lebih stabil dan terukur. Kondisi tersebut turut memperkuat posisi usaha di tengah pasar yang semakin kompetitif. Dalam waktu singkat, skala bisnisnya ikut terdorong naik.

Yuki menyampaikan bahwa pertumbuhan omzet terjadi seiring kebutuhan susu yang terus meningkat. Permintaan itu tidak hanya datang dari satu titik distribusi, melainkan dari beberapa wilayah sekaligus. Hal ini membuat proses produksi harus berjalan konsisten setiap hari. Di sisi lain, peluang kerja sama baru juga ikut terbuka.

Kontribusi UMKM dalam rantai pasok MBG menunjukkan pentingnya pelaku usaha lokal dalam program pemerintah. Produk yang dihasilkan tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi daerah. Dengan model seperti ini, manfaat program menyentuh lebih dari satu sektor. Efeknya terasa pada produksi, distribusi, dan penyerapan hasil peternakan.

Bagi Sweet Sundae, keterlibatan dalam MBG juga menjadi pengakuan atas kualitas produk yang ditawarkan. Kepercayaan dari SPPG memberi ruang bagi usaha untuk mengembangkan kapasitas lebih jauh. Yuki menilai momentum ini harus dijaga dengan standar produksi yang ketat. Karena itu, penguatan rantai pasok menjadi perhatian utama.

Pasokan Susu Meningkat Pesat

Saat ini, setidaknya ada lima SPPG yang mengambil stok susu dari Sweet Sundae. Lokasinya tersebar di Magelang, Purworejo, Cilacap, dan Semarang, di Jawa Tengah. Setiap SPPG disebut mengambil sekitar 12 ribu pcs susu per hari. Ukurannya 100 ml, sehingga kebutuhan bahan baku menjadi sangat besar.

Yuki menjelaskan bahwa setiap SPPG memperoleh suplai dua kali dalam sepekan. Pola pengiriman tersebut membuat perencanaan produksi harus dilakukan secara disiplin. Bila stok tidak terjaga, maka pasokan untuk program berisiko terganggu. Karena itu, manajemen gudang dan distribusi menjadi bagian penting dalam operasional.

Dalam waktu dekat, kebutuhan itu diperkirakan kembali bertambah. Pekan depan, Sweet Sundae juga akan memasok susu untuk delapan SPPG tambahan. Pertumbuhan jumlah mitra ini menandakan tingginya permintaan atas produk susu plain. Kondisi tersebut sekaligus menuntut kesiapan produksi yang lebih besar.

Lonjakan kebutuhan membuat usaha tidak bisa hanya bergantung pada pasokan dari pihak luar. Untuk menjaga kesinambungan, perusahaan menata ulang kapasitas produksi dan distribusi. Langkah itu diperlukan agar pengiriman tetap tepat waktu. Dengan begitu, kualitas layanan kepada mitra dapat dipertahankan.

Peternakan Sendiri Untuk Kebutuhan

Besarnya permintaan membuat Sweet Sundae membuka peternakan sendiri untuk memperkuat pasokan bahan baku. Langkah ini diambil agar perusahaan tidak sepenuhnya bergantung pada pemasok eksternal. Saat ini, sedikitnya ada 97 ekor sapi yang dipelihara untuk mendukung produksi. Dari jumlah itu, perusahaan mampu menghasilkan sekitar 4,5 ton susu per hari.

Peningkatan kapasitas produksi menjadi kebutuhan mendesak ketika permintaan datang secara berulang. Peternakan internal memberi ruang kontrol lebih besar terhadap kualitas dan kontinuitas bahan baku. Selain itu, perusahaan dapat menekan risiko kekurangan pasokan. Strategi ini juga membantu menjaga stabilitas harga produksi.

Keputusan berinvestasi pada peternakan menunjukkan respons cepat terhadap peluang pasar. Dalam industri pangan, ketersediaan bahan baku menjadi faktor penentu keberlanjutan usaha. Jika pasokan terjaga, maka distribusi ke program seperti MBG juga dapat berlangsung lancar. Dengan demikian, hubungan bisnis menjadi lebih sehat dan berjangka panjang.

Dari sisi ekonomi, langkah tersebut membuka rantai nilai baru di sektor peternakan dan olahan susu. Kebutuhan yang meningkat tidak hanya menguntungkan produsen, tetapi juga mendorong aktivitas di hulu. Peternak, pekerja, dan mitra distribusi ikut merasakan dampaknya. Pertumbuhan ini memperlihatkan efek berantai dari program MBG.

Seleksi Mitra Masih Ketat

Yuki bercerita bahwa awal keterlibatan Sweet Sundae dalam pasok MBG bermula dari kedatangan pihak SPPG ke tempat usahanya. Mereka menawarkan kerja sama untuk memasok susu plain atau susu murni bagi program tersebut. Namun, tawaran itu tidak langsung diterima begitu saja. Ia memilih menyeleksi mitra secara hati-hati sebelum bekerja sama.

Seleksi dilakukan untuk memastikan mutu produk dan kelancaran distribusi tetap terjaga. Menurut Yuki, kerja sama dalam program pangan publik membutuhkan kejelasan tanggung jawab dari setiap pihak. Karena itu, keputusan bisnis tidak hanya mempertimbangkan volume pesanan. Faktor komitmen dan kesiapan teknis juga menjadi perhatian.

Pendekatan selektif ini menunjukkan bahwa pertumbuhan usaha tidak hanya ditentukan oleh permintaan besar. Kepercayaan dan kepastian operasional menjadi syarat penting agar bisnis dapat berjalan berkelanjutan. Dalam konteks MBG, kualitas layanan ikut memengaruhi reputasi pelaku usaha. Oleh sebab itu, pengelolaan mitra menjadi bagian dari strategi utama.

Dengan kapasitas produksi yang terus ditingkatkan, Sweet Sundae kini berada pada fase ekspansi yang signifikan. Program MBG menjadi salah satu pendorong utama naiknya omzet dan aktivitas usaha. Dari Yogyakarta, produk susu mereka kini mengalir ke berbagai titik distribusi di Jawa Tengah. Pertumbuhan ini menegaskan peran UMKM dalam menyokong program nasional sekaligus menggerakkan ekonomi daerah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!