Program Makan Bergizi Gratis membawa dampak langsung bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di daerah. Salah satu yang merasakan lonjakan permintaan adalah Sweet Sundae, UMKM pengolahan susu asal Yogyakarta, yang disebut mampu meraup omzet hingga Rp1 miliar dari pasokan susu untuk program tersebut.
Owner sekaligus Co-founder Sweet Sundae, Yuki Rahmayanti, mengatakan pihaknya mendapat amanah memasok susu sejak Februari 2025. Saat ini, setidaknya lima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG di Jawa Tengah mengambil stok susu dari usahanya, dan jumlah itu diperkirakan bertambah pada pekan depan.
Pasokan susu untuk MBG
Yuki menjelaskan, setiap SPPG mengambil sekitar 12 ribu produk susu berukuran 100 mililiter dalam satu kali pengambilan. Pengiriman dilakukan dua kali dalam sepekan agar kebutuhan distribusi tetap terjaga. Skala permintaan itu membuat produksi di Sweet Sundae terus bergerak tanpa jeda.
SPPG yang menjadi mitra Sweet Sundae tersebar di sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti Magelang, Purworejo, Cilacap, dan Semarang. Sebaran wilayah ini menunjukkan rantai pasok program MBG mulai melibatkan banyak titik distribusi. Kondisi tersebut sekaligus memperluas jangkauan usaha bagi pelaku UMKM lokal.
Menurut Yuki, pekan depan usahanya juga akan memasok susu ke delapan SPPG tambahan. Artinya, volume kebutuhan diperkirakan meningkat signifikan dalam waktu singkat. Kenaikan permintaan itu menjadi indikator bahwa program MBG memberi ruang bisnis yang besar bagi pemasok pangan.
Produksi meningkat tajam
Lonjakan permintaan membuat kebutuhan susu di Sweet Sundae melonjak tajam. Untuk menjaga ketersediaan bahan baku, perusahaan akhirnya membuka peternakan sendiri. Langkah ini diambil agar pasokan tetap stabil dan tidak bergantung sepenuhnya pada pihak luar.
Saat ini, Sweet Sundae memelihara setidaknya 97 ekor sapi untuk mendukung produksi. Dari ternak tersebut, perusahaan mampu menghasilkan sekitar 4,5 ton susu per hari. Kapasitas ini menjadi fondasi utama untuk memenuhi kontrak pengadaan yang terus berkembang.
Pembukaan peternakan sendiri juga menjadi strategi jangka panjang dalam menjaga kualitas produk. Dengan rantai pasok yang lebih terkendali, UMKM tersebut dapat menyesuaikan volume produksi sesuai kebutuhan program. Di sisi lain, langkah ini memperkuat posisi usaha di tengah pasar yang semakin kompetitif.
Awal keterlibatan usaha
Keterlibatan Sweet Sundae dalam program MBG bermula dari kedatangan pihak SPPG ke lokasi usaha. Mereka menawarkan kerja sama untuk memasok susu plain atau susu murni. Tawaran itu datang ketika program tengah mencari pemasok yang mampu memenuhi standar distribusi.
Yuki menyebut, pihaknya tidak langsung menerima tawaran tersebut tanpa pertimbangan. Ia memilih secara selektif SPPG yang akan menjadi mitra agar kerja sama berjalan sesuai harapan. Sikap kehati-hatian itu dilakukan demi menjaga kualitas layanan dan kelancaran suplai.
Keputusan untuk selektif juga didasarkan pada kesiapan kapasitas produksi dan distribusi. Dengan pertumbuhan permintaan yang cepat, manajemen usaha harus memastikan proses pengiriman tetap tertib. Pendekatan itu menjadi bagian penting dari strategi bisnis Sweet Sundae dalam memasok kebutuhan MBG.
Dampak bagi UMKM
Kasus Sweet Sundae menunjukkan bahwa program MBG dapat membuka peluang nyata bagi UMKM pangan. Permintaan yang konsisten membuat pelaku usaha memiliki pasar yang lebih pasti. Kondisi ini berpotensi mendorong perputaran ekonomi di daerah.
Dari sisi usaha, lonjakan omzet memberi ruang bagi pengembangan kapasitas produksi. Investasi pada peternakan, pengolahan, dan distribusi menjadi bagian dari ekspansi yang lebih terukur. Jika dikelola baik, model ini dapat memperkuat kemandirian pasokan pangan lokal.
Pemerintah daerah dan pelaku usaha juga diharapkan menjaga kualitas serta keberlanjutan kemitraan. Program berskala besar membutuhkan tata kelola yang rapi agar manfaatnya merata. Dalam konteks ini, UMKM seperti Sweet Sundae dapat menjadi contoh bagaimana kebijakan publik mendorong pertumbuhan bisnis kecil secara langsung.
