UMKM Yogya Raup Omzet Rp 1 M dari Pasok Susu MBG

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 27 Mei 2026 22:40 WIB 3
UMKM Yogya Raup Omzet Rp 1 M dari Pasok Susu MBG

Program Makan Bergizi Gratis atau MBG memberi dorongan besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, termasuk Sweet Sundae, UMKM pengolahan susu asal Yogyakarta. Dari pasokan susu untuk program tersebut, perusahaan ini mengaku dapat meraup omzet hingga Rp1 miliar.

Owner sekaligus Co-founder Sweet Sundae, Yuki Rahmayanti, mengatakan pihaknya dipercaya memasok susu sejak Februari 2025. Saat ini, sedikitnya lima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG di Jawa Tengah mengambil stok susu dari usahanya.

MBG Dorong Permintaan Susu

Permintaan susu untuk program MBG membuat produksi Sweet Sundae meningkat signifikan. Yuki menyebut satu SPPG mengambil sekitar 12 ribu pcs susu per hari dengan kemasan 100 ml.

Setiap SPPG juga menerima suplai dua kali dalam sepekan. Kondisi itu membuat aliran pesanan berjalan stabil dan berulang.

Menurut Yuki, kebutuhan dari program MBG tidak hanya datang dari satu wilayah. Saat ini, SPPG yang mengambil stok berasal dari Magelang, Purworejo, Cilacap, dan Semarang.

Ia menambahkan, pekan depan ada delapan SPPG tambahan yang akan mulai memasok dari tempatnya. Lonjakan itu menunjukkan besarnya kebutuhan susu dalam rantai pasok program gizi nasional.

Produksi Susu Diperbesar

Meningkatnya permintaan membuat Sweet Sundae memperkuat kapasitas produksi. Yuki mengatakan pihaknya kemudian membuka peternakan sendiri untuk menjaga pasokan bahan baku tetap aman.

Saat ini, peternakan tersebut memiliki 97 ekor sapi yang dipelihara secara mandiri. Dari kandang itu, produksi susu mencapai sekitar 4,5 ton per hari.

Langkah integrasi usaha ini dinilai penting agar kualitas dan ketersediaan bahan baku tetap terjaga. Dengan pasokan yang lebih terkendali, perusahaan bisa memenuhi kebutuhan SPPG secara konsisten.

Yuki menegaskan, keputusan membesarkan peternakan bukan semata mengejar volume. Ia ingin memastikan susu yang dikirim tetap segar dan sesuai standar untuk program MBG.

Awal Keterlibatan Sweet Sundae

Keterlibatan Sweet Sundae dalam program MBG berawal dari inisiatif pihak SPPG yang datang menawarkan kerja sama. Mereka menanyakan kesediaan perusahaan untuk memasok susu plain atau susu murni.

Meski begitu, Yuki tidak langsung menerima tawaran tersebut. Ia memilih selektif dalam menentukan SPPG yang akan dilayani agar kualitas kerja sama tetap terjaga.

Seleksi itu dilakukan karena ia ingin memastikan proses distribusi berjalan baik dan tidak mengganggu operasional usaha. Dengan cara tersebut, Sweet Sundae dapat menjaga ritme produksi dan pengiriman.

Keputusan berhati-hati itu justru memberi ruang bagi perusahaan untuk tumbuh lebih sehat. Dari situlah pasokan susu untuk MBG mulai berkembang menjadi sumber pendapatan yang signifikan.

Peluang UMKM di Program

Kasus Sweet Sundae menunjukkan program MBG dapat membuka pasar baru bagi UMKM lokal. Produk pangan seperti susu memiliki peluang besar karena dibutuhkan dalam volume tinggi dan berulang.

Bagi pelaku usaha, kesempatan seperti ini juga menuntut kesiapan produksi, logistik, dan kualitas. Tanpa manajemen yang baik, peluang besar dapat berubah menjadi beban operasional.

Di sisi lain, keterlibatan UMKM dalam program pemerintah dapat memperkuat ekosistem ekonomi daerah. Rantai pasok yang melibatkan peternak, pengolah, dan SPPG memberi efek berganda bagi aktivitas usaha.

Sweet Sundae menjadi contoh bahwa UMKM bisa naik kelas ketika mampu menangkap peluang dengan strategi yang tepat. Dengan kapasitas produksi yang terus ditingkatkan, usaha ini berpotensi memperluas jangkauan pasar lebih jauh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!