UMKM Yogya Raup Omzet Rp 1 M dari Pasok Susu MBG

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 23 Mei 2026 17:15 WIB 6
UMKM Yogya Raup Omzet Rp 1 M dari Pasok Susu MBG

Program Makan Bergizi Gratis atau MBG memberi dorongan besar bagi pelaku usaha kecil, termasuk UMKM pengolahan susu asal Yogyakarta, Sweet Sundae. Dari pasokan susu untuk program tersebut, usaha ini mampu membukukan omzet hingga Rp 1 miliar. Owner sekaligus Co-founder Sweet Sundae, Yuki Rahmayanti, mengatakan kerja sama itu dimulai sejak Februari 2025. Saat ini, kebutuhan produksi mereka terus meningkat seiring bertambahnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG yang mengambil stok susu.

Yuki menjelaskan, ada setidaknya lima SPPG di Jawa Tengah yang rutin mengambil susu dari usahanya. Lokasinya tersebar di Magelang, Purworejo, Cilacap, dan Semarang, sehingga distribusi berjalan cukup intensif. Setiap SPPG disebut mengambil sekitar 12 ribu kemasan susu ukuran 100 mililiter dalam sekali pengambilan. Seluruh suplai itu dikirim dua kali dalam sepekan, dan pekan depan jumlah mitra akan bertambah menjadi delapan SPPG lagi.

MBG Dorong Usaha Susu

Permintaan yang meningkat mendorong Sweet Sundae menyiapkan langkah ekspansi yang lebih serius. Salah satu langkah terbesar adalah membuka peternakan sendiri agar pasokan bahan baku tetap terjaga. Saat ini, perusahaan memelihara 97 ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan produksi harian. Dari ternak tersebut, produksi susu mencapai sekitar 4,5 ton per hari.

Menurut Yuki, kebutuhan susu untuk program MBG tidak bisa dipenuhi dengan sistem lama yang hanya mengandalkan pasokan luar. Karena itu, kepastian bahan baku menjadi faktor utama dalam menjaga kelancaran suplai ke SPPG. Ia menilai, peluang usaha dari program ini sangat besar, tetapi tetap harus dikelola dengan disiplin. Tanpa kesiapan produksi, permintaan yang tinggi justru bisa menjadi tekanan bagi pelaku usaha.

Dalam perjalanannya, Sweet Sundae tidak langsung menerima setiap tawaran kerja sama yang datang. Yuki mengaku pihak SPPG lebih dulu mendatangi usahanya dan menawarkan peluang menjadi pemasok susu plain untuk MBG. Namun, ia memilih bersikap selektif agar kemitraan yang dijalankan benar-benar sesuai standar. Langkah itu diambil untuk menjaga kualitas produk sekaligus memastikan proses distribusi berjalan lancar.

Pendekatan selektif tersebut dinilai penting karena produk susu untuk program MBG menyangkut konsumsi harian anak-anak sekolah. Kualitas, ketepatan suplai, dan kontinuitas produksi menjadi syarat yang tidak bisa ditawar. Sweet Sundae kemudian menyesuaikan sistem kerja agar kebutuhan SPPG dapat dipenuhi tepat waktu. Dari situ, hubungan bisnis dengan program MBG berkembang secara bertahap dan lebih terukur.

Strategi Produksi Dan Pasokan

Untuk menjaga kapasitas produksi, Sweet Sundae memperkuat rantai usaha dari hulu ke hilir. Kehadiran peternakan sendiri membuat mereka tidak terlalu bergantung pada pemasok eksternal. Dengan begitu, perusahaan dapat mengatur kualitas susu sejak tahap awal. Strategi ini juga membantu mengurangi risiko keterlambatan dalam memenuhi permintaan harian.

Produksi yang mencapai 4,5 ton per hari menunjukkan skala usaha yang terus berkembang. Angka itu menjadi gambaran bahwa program MBG telah memberi efek langsung terhadap pertumbuhan UMKM. Di sisi lain, tingginya permintaan juga menuntut pengelolaan operasional yang lebih rapi. Setiap tahap, mulai dari pemerahan hingga pengemasan, harus berjalan konsisten.

Distribusi ke beberapa wilayah di Jawa Tengah menambah tantangan tersendiri bagi perusahaan. Meski begitu, pengiriman yang dilakukan dua kali sepekan memberi ruang bagi SPPG untuk menjaga stok tetap aman. Pola suplai itu membuat alur kerja lebih terjadwal dan mudah dipantau. Dengan sistem seperti ini, Sweet Sundae dapat menjaga kepercayaan mitra yang sudah bekerja sama.

Ekspansi ke delapan SPPG tambahan pada pekan depan juga menjadi sinyal bahwa pasar masih terbuka lebar. Penambahan mitra berarti kebutuhan produksi dan distribusi akan semakin besar. Namun, Yuki tampak optimistis karena fondasi usaha sudah disiapkan lebih matang. Bagi UMKM seperti Sweet Sundae, kepastian permintaan dari program MBG menjadi peluang pertumbuhan yang nyata.

Manfaat Nyata Untuk UMKM

Keberhasilan Sweet Sundae mencerminkan bagaimana program MBG dapat menggerakkan ekonomi lokal. UMKM yang selama ini fokus pada produksi skala terbatas kini memperoleh pasar yang lebih pasti. Kondisi tersebut memberi ruang untuk meningkatkan omzet secara signifikan. Bagi pelaku usaha, kepastian penyerapan produk menjadi nilai tambah yang sangat penting.

Pencapaian omzet hingga Rp 1 miliar juga menunjukkan bahwa peluang bisnis dari program pemerintah dapat berdampak langsung. Jika dikelola dengan baik, kerja sama semacam ini dapat membuka lapangan kerja tambahan. Selain itu, kebutuhan bahan baku yang meningkat ikut menggerakkan sektor peternakan. Rantai ekonomi pun bergerak dari produksi, distribusi, hingga pemasaran.

Bagi Yuki, pertumbuhan usaha tidak hanya soal angka penjualan, tetapi juga kesiapan menjaga kualitas. Ia menempatkan seleksi mitra dan penguatan produksi sebagai prioritas utama. Sikap tersebut membuat usaha dapat berkembang tanpa mengorbankan standar layanan. Dalam industri pangan, ketahanan suplai menjadi faktor yang sama pentingnya dengan permintaan pasar.

Kasus Sweet Sundae memperlihatkan bahwa UMKM bisa menjadi bagian penting dari keberhasilan program MBG. Ketika pemerintah menciptakan permintaan yang stabil, pelaku usaha memiliki ruang untuk tumbuh lebih cepat. Di saat yang sama, konsumen juga mendapat manfaat dari pasokan pangan yang terjaga. Dari Yogyakarta, kisah ini menjadi contoh bahwa program sosial dapat sekaligus mendorong ekonomi daerah.

Prospek Bisnis Ke Depan

Dengan bertambahnya jumlah SPPG, prospek bisnis Sweet Sundae masih terlihat menjanjikan. Permintaan yang terus naik memberi peluang bagi perusahaan untuk memperluas kapasitas produksi. Namun, ekspansi tetap harus disertai kontrol mutu yang ketat. Tanpa itu, pertumbuhan yang cepat justru bisa menimbulkan hambatan operasional.

Pembukaan peternakan sendiri menunjukkan bahwa perusahaan tidak sekadar mengejar volume penjualan. Langkah itu juga memperkuat posisi mereka dalam menghadapi kebutuhan pasar yang fluktuatif. Jika produksi bahan baku terjaga, suplai ke SPPG akan lebih aman. Hal ini menjadi modal penting untuk mempertahankan kepercayaan mitra jangka panjang.

Selain menambah kapasitas, Sweet Sundae juga perlu menjaga efisiensi distribusi. Semakin banyak titik pengiriman, semakin kompleks pengaturan logistik yang harus dijalankan. Karena itu, sistem kerja yang tertata akan menentukan kelancaran usaha ke depan. Perencanaan yang matang menjadi kunci agar pertumbuhan omzet tetap berkelanjutan.

Kisah Sweet Sundae memperlihatkan bahwa UMKM dapat naik kelas ketika bertemu dengan pasar yang tepat. Program MBG memberi mereka kesempatan untuk memperluas skala usaha sekaligus memperkuat fondasi produksi. Jika tren ini berlanjut, kontribusi UMKM terhadap ekonomi daerah akan semakin besar. Dari satu program, dampaknya bisa menjalar ke banyak sektor usaha lainnya.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!