UMKM Ubah Sampah Jadi Produk Ekspor Bernilai Tinggi

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 23 Mei 2026 23:02 WIB 5
UMKM Ubah Sampah Jadi Produk Ekspor Bernilai Tinggi

Sampah kerap dipandang sebagai barang tak bernilai, bahkan dianggap sebagai sumber masalah di lingkungan. Namun, di tangan pelaku usaha kreatif, limbah dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi yang diminati pasar luar negeri.

Hal itu dilakukan oleh CEO dan Founder Robries Syukriyatun Niamah bersama Co Founder Lumosh Raymond Tjiadi melalui produk berbahan dasar limbah. Keduanya memanfaatkan pendampingan Indonesia Design Development Center, atau IDDC, di bawah Kementerian Perdagangan untuk memperkuat daya saing produk dan menembus pasar global.

Sampah Jadi Produk Bernilai

Robries berdiri pada 2018 dengan fokus mengubah sampah botol plastik, khususnya tutup botol, menjadi furnitur berdesain menarik. Menurut Syukriyatun, langkah tersebut lahir dari keinginan menjaga lingkungan sekaligus menghadirkan nilai ekonomi dari limbah.

Produk yang dihasilkan tidak sekadar unik, tetapi juga dirancang agar memiliki fungsi dan estetika yang kuat. Dengan pendekatan itu, Robries berupaya menggeser pandangan bahwa sampah hanya layak dibuang.

Syukriyatun menilai tantangan terbesar justru muncul saat produk daur ulang mulai dipasarkan. Sebab, masyarakat masih membutuhkan edukasi yang lebih luas agar memahami nilai dan kualitas produk tersebut.

Tantangan Pasokan Dan Edukasi

Selain edukasi pasar, Robries juga menghadapi kendala pada ketersediaan bahan baku yang konsisten. Tutup botol plastik sebagai material utama tidak selalu tersedia dalam jumlah dan kualitas yang sama.

Ketidakkonsistenan pasokan membuat tim harus terus menjaga standar produksi agar kualitas produk tetap terjaga. Karena itu, pencarian bahan baku menjadi proses yang dilakukan secara berkelanjutan.

Meski menghadapi berbagai hambatan, Robries tetap berupaya membangun rantai pasok yang stabil. Upaya tersebut penting untuk memastikan produk tetap kompetitif di pasar lokal maupun internasional.

IDDC Perkuat Daya Saing

Direktorat Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag melalui IDDC terus membantu UMKM agar mampu menembus pasar global. Lembaga ini juga memfasilitasi pelaku usaha yang lolos kurasi untuk mengikuti Trade Expo Indonesia 2025.

TEI 2025 menjadi ajang berskala internasional yang diikuti 8.045 buyers dari 130 negara. Pameran tersebut membuka peluang pertemuan langsung antara pelaku usaha lokal dan pembeli dari mancanegara.

Syukriyatun mengaku pendampingan IDDC memberi kemudahan dalam mengemas produk agar lebih menarik bagi calon pembeli. Ia menilai proses bimbingan tersebut membantu meningkatkan kesiapan produk untuk masuk ke pasar ekspor.

Limbah Keramik Masuk Ekspor

Manfaat pendampingan IDDC juga dirasakan Lumosh yang mengolah limbah keramik menjadi produk rumah tangga bernilai jual. Dari bahan sisa tersebut, Lumosh menghasilkan piring, gelas, dan berbagai perabot dengan desain artistik.

Raymond menuturkan, riset mengenai daur ulang keramik masih terbatas sehingga proses pengembangan produk tidak mudah. Dalam kondisi itu, dukungan IDDC menjadi penting, terutama saat tim membutuhkan referensi dan arahan desain.

Selain membantu riset, IDDC juga menjadi ruang konsultasi untuk membaca peluang pasar global yang sesuai. Menurut Raymond, masukan tersebut membantu Lumosh menentukan arah ekspansi yang lebih tepat dan representatif.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!