UMKM Pertamina Catat Transaksi Rp1,2 Miliar di Inacraft

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 26 Mei 2026 03:33 WIB 2
UMKM Pertamina Catat Transaksi Rp1,2 Miliar di Inacraft

Hari pertama Inacraft Oktober 2025 di Jakarta Convention Center, Jakarta, langsung menjadi panggung pencapaian bagi 32 UMKM binaan Pertamina. Dalam sehari, para pelaku usaha itu membukukan transaksi penjualan lebih dari Rp1,2 miliar. Pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara yang berlangsung pada 1-5 Oktober ini juga membuka peluang pasar baru, baik untuk pembeli domestik maupun mancanegara. Hasil tersebut menunjukkan kesiapan UMKM binaan yang tampil dengan produk unggulan dan strategi promosi yang matang.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menyampaikan capaian itu lahir dari proses persiapan yang dilakukan sebelum pameran dimulai. Para UMKM binaan telah melalui kurasi, seleksi, coaching clinic, hingga pembekalan branding, packaging, storytelling, dan display booth. Menurut Fadjar, hasil penjualan pada hari pertama mencerminkan kegigihan para pelaku usaha dalam mempersiapkan produknya untuk Inacraft. Dukungan tersebut sekaligus memperkuat posisi UMKM sebagai penggerak ekonomi kerakyatan.

UMKM Pertamina di Inacraft

Partisipasi UMKM binaan Pertamina di Inacraft menjadi salah satu etalase penting bagi produk lokal untuk tampil di hadapan pasar yang lebih luas. Ajang ini mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli ritel, kolektor, hingga potential buyer dari luar negeri. Di tengah persaingan yang ketat, para peserta dituntut menampilkan kualitas produk, narasi merek, dan tampilan booth yang menarik. Pertamina menilai pendekatan itu penting agar UMKM tidak hanya menjual, tetapi juga membangun nilai tambah.

Fadjar menjelaskan bahwa persiapan yang dilakukan sejak awal membuat para peserta lebih siap menghadapi permintaan pasar. Pendampingan yang diberikan mencakup penguatan identitas merek, peningkatan kemasan, serta cara menyampaikan cerita produk kepada konsumen. Langkah ini dirancang agar produk UMKM mampu bersaing di pasar yang semakin menuntut standar profesional. Dengan bekal tersebut, para pelaku usaha lebih percaya diri saat berinteraksi dengan pembeli.

Konsep yang diusung Pertamina dalam pameran ini adalah Youthpreneur: Craft, Culture, Future. Booth tersebut dilengkapi area display produk, layanan penjualan, business matching dengan buyer, serta aktivasi digital untuk menarik pengunjung. Kehadiran unsur digital membuat interaksi dengan calon pembeli menjadi lebih dinamis dan relevan dengan tren promosi saat ini. Strategi itu juga membantu UMKM menjangkau audiens yang lebih beragam.

Transaksi besar dari produk unggulan

Salah satu peserta yang mencatat transaksi besar adalah Kainnesia milik Nur Salam dari Umbulharjo, Yogyakarta. Baru sehari pameran dibuka, Kainnesia langsung memperoleh pesanan seragam dan souvenir senilai lebih dari Rp300 juta. Pesanan tersebut datang dari perusahaan pelayaran serta sejumlah kementerian. Capaian itu menunjukkan bahwa produk UMKM mampu menarik minat pembeli institusional dengan kebutuhan skala besar.

Keberhasilan serupa juga diraih Smart Batik atau CV Smart Batik Indonesia milik Miftahudin Nur Insan asal Yogyakarta. UMKM ini membawa produk kain batik, fesyen batik, serta payung batik ramah lingkungan berbahan Batik Sawit. Produk unggulan tersebut sebelumnya telah dikenalkan kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan digunakan oleh menteri hingga artis nasional. Pengalaman itu memperkuat daya tarik merek di mata pengunjung Inacraft.

Pada hari pertama pameran, Smart Batik mencatat transaksi lebih dari Rp125 juta dari penjualan Kain Batik Sawit dan Payung Batik. Miftahudin menilai kesempatan tampil bersama Pertamina memberi dampak besar bagi perkembangan usahanya. Selain mendorong penjualan, pameran ini juga membuka banyak peluang jaringan baru dengan buyer domestik maupun internasional. Ia optimistis Batik Sawit dapat menjadi ikon baru batik ramah lingkungan Indonesia.

Penyebaran peserta UMKM binaan

Dalam penyelenggaraan Inacraft Oktober 2025, 32 UMKM binaan Pertamina tersebar di sejumlah lokasi pameran. Sebanyak 18 UMKM wastra, kriya, fesyen, dan aksesori tampil di Lobby Hall A. Sementara itu, enam UMKM makanan dan minuman hadir di Talam Hall B. Ada pula tujuh UMKM co-branding yang membeli booth mandiri di area pameran.

Komposisi peserta tersebut memperlihatkan ragam sektor usaha yang dibina Pertamina secara berkelanjutan. Kehadiran produk wastra hingga makanan dan minuman memberi warna berbeda dalam pameran kerajinan berskala internasional itu. Setiap peserta membawa identitas produk masing-masing untuk menjangkau segmen konsumen yang berbeda. Pola ini juga memberi kesempatan yang lebih luas bagi UMKM untuk memperluas pasar.

Penyebaran lokasi booth turut membantu pengunjung menemukan ragam produk dengan lebih mudah. Strategi itu memudahkan interaksi antara pelaku usaha dan calon pembeli sesuai kategori produk yang dicari. Selain memperkuat eksposur, penempatan yang terstruktur juga meningkatkan peluang terjadinya transaksi. Pertamina menilai pendekatan ini efektif untuk mengoptimalkan partisipasi UMKM binaan.

Dukungan berkelanjutan bagi UMKM

Pertamina menegaskan dukungan terhadap UMKM merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan yang dijalankan secara rutin. Program pembinaan itu tidak berhenti pada pendanaan, tetapi juga mencakup pendampingan pengembangan usaha. Tujuannya adalah mendorong UMKM naik kelas dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Dengan demikian, dampaknya dapat dirasakan secara ekonomi dan sosial.

Fadjar menyebut langkah tersebut sejalan dengan visi Asta Cita, khususnya poin ketiga yang menekankan peningkatan lapangan kerja berkualitas. Arah kebijakan itu juga mendorong kewirausahaan serta pengembangan industri kreatif. Bagi Pertamina, UMKM memiliki peran penting dalam memperkuat struktur ekonomi nasional. Karena itu, dukungan yang diberikan diarahkan agar berkelanjutan dan terukur.

Capaian transaksi pada hari pertama Inacraft menjadi bukti bahwa pembinaan yang konsisten dapat menghasilkan dampak nyata. Produk lokal yang dikemas secara profesional memiliki peluang besar untuk diterima pasar. Dengan dukungan akses promosi, jejaring buyer, dan pendampingan usaha, UMKM binaan berpeluang memperluas pasar lebih cepat. Momentum ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara korporasi dan pelaku usaha kecil.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!