UMKM Binaan Pertamina Raih Kontrak Ekspor Rp87 Miliar

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 25 Mei 2026 11:32 WIB 4
UMKM Binaan Pertamina Raih Kontrak Ekspor Rp87 Miliar

Pertamina mencatat pencapaian penting dalam Trade Expo Indonesia 2025 setelah salah satu UMKM binaannya, PT Java Criollo Cokelat Indonesia, meneken kesepahaman ekspor dengan perusahaan Jepang, Being Co Ltd. Nilai transaksi yang disepakati mencapai US$ 5,2 juta atau sekitar Rp87 miliar, dan prosesi penandatanganan disaksikan langsung oleh Menteri Koperasi dan UKM, Maman Abdurrahman.

Kerja sama tersebut menjadi sorotan karena menunjukkan bahwa produk olahan kakao asal Indonesia mampu menembus pasar internasional dengan daya saing yang kuat. Pertamina berharap capaian ini dapat diikuti 44 UMKM lainnya yang turut dibawa ke ajang TEI 2025 untuk menjajaki peluang bisnis serupa.

Ekspor UMKM Cokelat Menguat

Penandatanganan MoU antara Java Criollo dan Being Co Ltd menjadi penanda bahwa produk UMKM Indonesia semakin mendapat tempat di pasar luar negeri. Kesepakatan ini lahir dari pertemuan bisnis dalam ajang perdagangan yang mempertemukan pelaku usaha lokal dengan buyer internasional. Nilai transaksi yang besar menunjukkan minat pasar Jepang terhadap cokelat asal Indonesia masih terbuka luas. Momentum ini juga memperkuat posisi UMKM sebagai penggerak ekspor nonmigas.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menilai kerja sama tersebut sebagai bukti bahwa UMKM lokal memiliki kualitas untuk bersaing secara global. Ia menekankan bahwa produk binaan Pertamina tidak hanya layak di pasar domestik, tetapi juga mampu memenuhi standar buyer luar negeri. Menurutnya, pencapaian Java Criollo menjadi contoh konkret dari pembinaan yang tepat sasaran. Fadjar juga mendorong UMKM lain memanfaatkan forum dagang untuk memperluas jejaring bisnis.

Java Criollo dikenal sebagai produsen kakao dan cokelat yang mengutamakan bahan alami dalam proses produksinya. Karakter produk yang konsisten dan kualitas yang terjaga menjadi alasan utama minat buyer Jepang. Dalam persaingan ekspor, keunggulan pada kualitas dan harga menjadi faktor penting yang menentukan keputusan pembelian. Kombinasi itu membuat produk Indonesia semakin kompetitif di mata pasar internasional.

Ajang Trade Expo Indonesia 2025 menjadi ruang strategis bagi UMKM untuk bertemu langsung dengan calon mitra dari berbagai negara. Pertamina memanfaatkan momentum tersebut dengan membawa puluhan UMKM binaan agar dapat mempresentasikan produk unggulan mereka. Dari forum tersebut, peluang kerja sama ekspor dapat terbuka lebih cepat karena proses negosiasi berlangsung secara langsung. Pola ini dinilai efektif untuk meningkatkan akses pasar bagi pelaku usaha kecil dan menengah.

Kualitas Produk Jadi Daya Tarik

Perwakilan Being Co Ltd, Sakae Noda, menyatakan ketertarikannya pada kualitas cokelat asal Indonesia yang diproduksi Java Criollo. Ia menyebut produk tersebut alami, tidak menggunakan pupuk kimia, dan ditawarkan dengan harga yang terjangkau. Menurutnya, kombinasi itu menjadi nilai lebih yang sulit diabaikan dalam pasar Jepang. Ia berharap konsumen Jepang dapat menikmati produk cokelat Indonesia dengan kualitas yang dinilai sangat baik.

Ketertarikan buyer Jepang memperlihatkan bahwa pasar global semakin menaruh perhatian pada produk yang memiliki jejak produksi berkelanjutan. Cokelat asal Indonesia dinilai memiliki keunggulan dari sisi bahan baku dan proses pengolahan. Faktor tersebut menjadi modal penting untuk membangun citra positif produk lokal di luar negeri. Dalam jangka panjang, kepercayaan buyer dapat memperluas volume ekspor dan memperkuat merek UMKM Indonesia.

Java Criollo memposisikan diri sebagai produsen yang membawa nilai alami dan cita rasa khas dalam setiap produknya. Pendekatan itu sejalan dengan tren konsumen global yang semakin peduli pada kualitas, kesehatan, dan asal bahan pangan. Dengan karakter produk seperti ini, peluang menembus pasar premium menjadi lebih terbuka. Hal tersebut memberi peluang bagi Indonesia untuk naik kelas dalam perdagangan kakao dunia.

Kerja sama dengan Being Co Ltd juga menunjukkan pentingnya kesiapan UMKM dalam memenuhi permintaan pasar ekspor. Tidak hanya kualitas, aspek kemasan, kontinuitas pasokan, dan konsistensi standar produksi menjadi perhatian utama buyer internasional. Jika seluruh unsur itu terpenuhi, peluang kontrak jangka panjang akan semakin besar. Kondisi tersebut menjadi pelajaran bagi UMKM lain yang ingin mengikuti jalur ekspor serupa.

Peran Pertamina Diperluas

Pertamina menempatkan pembinaan UMKM sebagai bagian dari strategi untuk memperluas kontribusi ekonomi masyarakat. Melalui pendampingan, perusahaan mendorong pelaku usaha agar mampu meningkatkan kualitas produk dan kesiapan bisnis. Keberhasilan Java Criollo menjadi bukti bahwa pembinaan yang terarah dapat menghasilkan dampak nyata. Model ini juga memperlihatkan bahwa UMKM dapat menjadi mitra strategis dalam memperkuat ekspor nasional.

Fadjar menyampaikan harapan agar 44 UMKM binaan lain yang ikut dalam TEI 2025 dapat memperoleh peluang serupa. Menurut dia, forum dagang seperti ini harus dimanfaatkan untuk membangun hubungan dengan buyer internasional. Semakin banyak UMKM yang terlibat dalam ekspor, semakin besar pula kontribusi sektor ini terhadap perekonomian. Karena itu, akses terhadap pameran dagang dinilai penting untuk mempercepat ekspansi pasar.

Dalam konteks pembinaan, Pertamina tidak hanya mendorong penjualan, tetapi juga membantu UMKM memahami standar bisnis global. Pendampingan semacam ini dibutuhkan agar pelaku usaha siap bersaing dalam pasar yang lebih ketat. Dengan dukungan yang tepat, UMKM dapat memperbaiki mutu produksi, manajemen, dan strategi pemasaran. Langkah tersebut menjadi fondasi untuk membangun keberlanjutan usaha di pasar ekspor.

Keberhasilan di TEI 2025 menambah daftar contoh bahwa kolaborasi antara korporasi dan UMKM dapat menghasilkan nilai ekonomi yang besar. Pemerintah, dunia usaha, dan pelaku UMKM memiliki kepentingan yang sama dalam memperluas akses pasar. Jika sinergi ini terus dijaga, lebih banyak produk lokal berpeluang masuk ke jaringan perdagangan global. Dampaknya tidak hanya pada peningkatan ekspor, tetapi juga pada penciptaan lapangan kerja di daerah.

Peluang Ekspor Semakin Terbuka

Kontrak senilai US$ 5,2 juta menjadi sinyal bahwa produk cokelat Indonesia memiliki prospek cerah di pasar Jepang. Keberhasilan ini dapat menjadi pintu masuk untuk kerja sama lanjutan dengan buyer dari negara lain. Semakin banyak transaksi serupa, semakin kuat pula posisi Indonesia dalam rantai pasok kakao internasional. Oleh karena itu, momentum ini perlu dijaga dengan penguatan kualitas dan kapasitas produksi.

Bagi pelaku UMKM, capaian Java Criollo memberi pesan bahwa orientasi ekspor bukan lagi hal yang mustahil. Dengan produk yang kompetitif dan pembinaan yang tepat, peluang menembus pasar luar negeri dapat semakin terbuka. Hal ini sekaligus memperlihatkan bahwa UMKM mampu menjadi duta produk unggulan Indonesia. Kepercayaan buyer internasional menjadi modal penting untuk memperbesar skala usaha.

Ajang pameran dagang seperti TEI memiliki peran penting sebagai jembatan antara produsen lokal dan pembeli global. Di forum ini, pelaku usaha dapat menunjukkan kualitas produk secara langsung dan membangun kepercayaan pasar. Pertemuan tatap muka juga membantu mempercepat proses negosiasi dan penandatanganan kerja sama. Dengan strategi yang tepat, hasil pameran dapat berujung pada transaksi nyata yang menguntungkan.

Pencapaian Java Criollo menegaskan bahwa produk lokal dapat bersaing jika didukung inovasi, konsistensi, dan pembinaan yang berkelanjutan. Pertamina pun menunjukkan bahwa peran korporasi tidak berhenti pada bantuan modal, melainkan juga pada pembukaan akses pasar. Jika pendekatan ini terus diperluas, lebih banyak UMKM berpeluang masuk ke rantai ekspor global. Capaian tersebut menjadi harapan baru bagi penguatan ekonomi berbasis usaha kecil dan menengah.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!