Ultra-Processed Food Tak Selalu Sama

Lifestyle Anindya Kirana Putri 27 Mei 2026 01:30 WIB 3
Ultra-Processed Food Tak Selalu Sama

Istilah ultra-processed food atau UPF semakin sering dibahas di media sosial, seiring meningkatnya kekhawatiran publik terhadap makanan kemasan. Namun, tidak semua pangan olahan memiliki komposisi, proses produksi, dan dampak kesehatan yang sama.

Sejumlah produk yang sehari-hari dikonsumsi, seperti sarden kalengan dan susu UHT, kerap langsung dicap sebagai UPF. Padahal, statusnya sangat bergantung pada komposisi, tambahan bahan, serta tingkat pemrosesan yang digunakan produsen.

Ultra-processed Food Perlu Dipahami

UPF adalah istilah yang merujuk pada makanan olahan dengan proses industri yang kompleks dan biasanya mengandung banyak bahan tambahan. Bahan tersebut bisa berupa perisa, pewarna, pemanis, pengental, hingga pengawet.

Meski begitu, tidak semua makanan dalam kemasan otomatis masuk kategori yang sama. Ada produk yang hanya melalui proses sederhana, tetapi tetap dianggap olahan karena mengalami pengalengan, pasteurisasi, atau pengemasan khusus.

Karena itu, menilai makanan hanya dari label kemasan dapat menyesatkan. Konsumen perlu melihat daftar bahan, komposisi gizi, dan tingkat tambahan aditif sebelum menyimpulkan suatu produk tidak sehat.

Sarden Kalengan Masih Diperdebatkan

Sarden kalengan menjadi salah satu produk yang sering dikaitkan dengan UPF. Faktanya, status makanan ini sangat bergantung pada isi dan bahan tambahannya.

Jika komposisinya sederhana, seperti ikan, garam, minyak, atau saus tomat, produk tersebut cenderung lebih dekat ke processed foods. Sebaliknya, sarden dengan banyak tambahan seperti perisa, pengental, dan pemanis bisa masuk kategori ultra-processed foods.

Dengan kata lain, tidak semua sarden kalengan memiliki karakteristik yang sama. Perbedaan formula membuat dampak nutrisinya juga dapat berbeda antarproduk.

Susu UHT Juga Beragam

Susu UHT plain tanpa banyak tambahan juga sering menjadi bahan perdebatan dalam klasifikasi UPF. Sebagian peneliti cenderung memasukkannya ke processed foods, bukan langsung ke ultra-processed foods.

Berbeda halnya dengan susu UHT yang sudah diberi perisa, pemanis, atau formulasi yang lebih kompleks. Produk seperti ini lebih sering dikategorikan sebagai ultra-processed foods karena komposisinya lebih banyak diproses.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa konteks produk sangat penting dalam menilai kualitas pangan. Konsumen sebaiknya tidak menyamaratakan semua susu UHT sebagai makanan yang sama dari sisi kesehatan.

Memilih Makanan Secara Bijak

Kekhawatiran terhadap UPF memang wajar, terutama di tengah meningkatnya konsumsi makanan praktis. Namun, penilaian yang terlalu sederhana justru bisa membuat masyarakat salah memahami jenis pangan yang dikonsumsi.

Langkah paling aman adalah membaca label gizi dan daftar bahan secara teliti. Informasi tersebut membantu konsumen membedakan produk yang hanya melalui proses pengolahan sederhana dengan produk yang memiliki banyak tambahan.

Dengan pemahaman yang lebih tepat, masyarakat dapat membuat pilihan makan yang lebih bijak. Sikap kritis terhadap makanan kemasan tetap penting, tetapi harus didasarkan pada komposisi dan kualitas produk, bukan pada asumsi semata.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!