Ubi Ungu Jadi Pilihan Sehat di Tengah Tren Olahan Viral

Lifestyle Clara Monica 25 Mei 2026 04:09 WIB 6
Ubi Ungu Jadi Pilihan Sehat di Tengah Tren Olahan Viral

Olahan ubi kembali menjadi sorotan di media sosial, mulai dari ubi panggang hingga ubi dengan cream cheese dan aneka topping kekinian. Di tengah tren itu, pakar gizi menyarankan masyarakat untuk lebih cermat memilih jenis ubi yang dikonsumsi.

Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, menyebut ubi ungu sebagai salah satu pilihan yang lebih direkomendasikan. Menurut dia, warna ungu pada umbi tersebut berasal dari antosianin, pigmen alami yang juga banyak ditemukan pada blueberry dan anggur ungu.

Manfaat Ubi Ungu

Ubi ungu dinilai menonjol karena kandungan antosianinnya yang tinggi. Zat ini dikenal sebagai senyawa alami yang memberi warna ungu pada umbi. Dalam konteks gizi, kandungan tersebut membuat ubi ungu lebih menarik dibanding beberapa jenis ubi lain. Karena itu, pilihan ini sering dianggap lebih bernilai bagi kesehatan.

dr Tjandraningrum menjelaskan bahwa antosianin memiliki sifat anti-inflamasi. Senyawa ini juga termasuk flavonoid dan polifenol yang berperan sebagai antioksidan. Keberadaan dua kelompok senyawa tersebut membantu tubuh menghadapi stres oksidatif. Dengan demikian, ubi ungu tidak hanya lezat, tetapi juga memiliki nilai fungsional.

Temuan dalam tinjauan ilmiah yang dipublikasikan di jurnal Molecules pada 2019 menunjukkan kadar antosianin ubi ungu dapat mencapai sekitar 218 hingga 244 mg per 100 gram. Angka tersebut bergantung pada varietas dan cara pengolahannya. Artinya, metode memasak dapat memengaruhi besarnya senyawa aktif yang tersisa. Informasi ini menjadi penting saat masyarakat memilih cara penyajian.

Selain memberi warna khas, antosianin dikaitkan dengan aktivitas antioksidan yang membantu melindungi sel tubuh. Senyawa ini juga kerap dikaitkan dengan manfaat terhadap kesehatan metabolik. Karena itu, ubi ungu kerap dipandang sebagai bahan pangan yang lebih fungsional. Konsumsi yang tepat dapat membantu masyarakat memperoleh manfaatnya secara optimal.

Antosianin Dalam Ubi

Antosianin merupakan pigmen alami yang tersebar pada sejumlah bahan pangan berwarna gelap. Senyawa ini juga ditemukan pada buah beri, anggur ungu, dan beberapa sayuran. Pada ubi ungu, pigmen tersebut menjadi sumber warna yang khas sekaligus indikator kandungan bioaktif. Semakin pekat warnanya, biasanya semakin kuat pula kesan kandungan antosianinnya.

Menurut penjelasan dr Tjandraningrum, antosianin tidak hanya berperan sebagai pewarna alami. Kandungan flavonoid dan polifenol di dalamnya membuat senyawa ini bersifat anti-peradangan. Sifat tersebut menjadikannya relevan dalam pola makan sehat. Karena itu, ubi ungu sering masuk daftar pangan yang layak diprioritaskan.

Kandungan antioksidan dalam antosianin membantu tubuh melawan radikal bebas. Jika tidak terkendali, radikal bebas dapat berkontribusi terhadap berbagai gangguan kesehatan. Oleh sebab itu, pangan dengan antioksidan tinggi sering dianjurkan dalam pola makan seimbang. Ubi ungu dapat menjadi salah satu sumbernya yang mudah ditemukan.

Meski begitu, manfaat antosianin tetap dipengaruhi oleh pengolahan dan tambahan bahan lain. Proses memasak yang terlalu agresif dapat menurunkan sebagian kandungan aktif. Begitu pula dengan tambahan gula berlebih yang justru menambah beban kalori. Pilihan pengolahan yang sederhana cenderung lebih menjaga kualitas gizinya.

Untuk Kelompok Berisiko

dr Tjandraningrum menyebut ubi ungu bermanfaat bagi orang yang berisiko mengalami penyakit tidak menular. Kelompok tersebut antara lain masyarakat dengan risiko diabetes dan hipertensi. Kandungan antosianin dinilai membantu mendukung kesehatan metabolik. Karena itu, ubi ungu dapat menjadi alternatif camilan yang lebih bijak.

Diabetes dan hipertensi merupakan penyakit yang banyak dipengaruhi pola makan harian. Asupan dengan kualitas gizi baik dapat membantu mengurangi risiko dalam jangka panjang. Ubi ungu hadir sebagai pilihan yang relatif mudah diolah dan terjangkau. Hal ini membuatnya relevan untuk konsumsi keluarga.

Bagi orang yang ingin menjaga berat badan dan kadar gula, pemilihan bahan makanan menjadi sangat penting. Ubi ungu dapat disajikan tanpa tambahan gula berlebihan agar manfaatnya tetap terjaga. Jika dipadukan dengan lauk tinggi protein, menu menjadi lebih seimbang. Pendekatan ini lebih sesuai dibanding menyantapnya dengan topping manis secara berlebihan.

Kendati demikian, konsumsi ubi ungu tidak dapat menggantikan terapi medis bagi penderita penyakit tertentu. Pangan sehat hanya menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi tubuh. Masyarakat tetap perlu memerhatikan pemeriksaan rutin dan saran dokter. Dengan cara ini, manfaat ubi ungu dapat ditempatkan secara proporsional.

Cara Konsumsi Yang Bijak

Meski sedang viral, olahan ubi tetap perlu dinikmati secara wajar. Dr Tjandraningrum mengingatkan bahwa manfaat ubi dapat berkurang jika ditambahkan topping tinggi gula dan lemak jenuh. Contohnya adalah saus manis, keju berlebihan, atau krim dalam porsi besar. Tambahan tersebut justru dapat mengubah makanan sehat menjadi kurang ideal.

Masyarakat disarankan memilih cara pengolahan yang sederhana. Ubi panggang, kukus, atau rebus menjadi opsi yang lebih aman dari sisi gizi. Metode ini membantu mempertahankan rasa asli sekaligus kandungan alaminya. Pilihan seperti ini juga memudahkan pengaturan asupan kalori.

Selain topping, porsi makan juga perlu diperhatikan. Konsumsi berlebihan tetap dapat menambah asupan energi secara tidak disadari. Karena itu, sebaiknya ubi disajikan sebagai bagian dari menu seimbang. Langkah kecil ini dapat membuat kebiasaan makan lebih sehat dan terkontrol.

Di tengah tren makanan viral, literasi gizi menjadi penting agar masyarakat tidak sekadar mengikuti tampilan menarik. Ubi ungu dapat menjadi pilihan cerdas jika diolah dengan tepat dan dimakan dalam porsi wajar. Dengan demikian, manfaat kesehatan yang ditawarkan tetap bisa diperoleh. Tren boleh berubah, tetapi kebiasaan makan bijak sebaiknya tetap dijaga.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!