Ubi Cream Cheese Viral, Ini Saran Gizi yang Lebih Seimbang

Lifestyle Nadia Safira Putri 28 Mei 2026 20:58 WIB 3
Ubi Cream Cheese Viral, Ini Saran Gizi yang Lebih Seimbang

Olahan ubi dengan topping cream cheese belakangan ramai dibicarakan di media sosial karena dianggap praktis, lezat, dan mudah dibuat. Di balik popularitasnya, dokter mengingatkan agar masyarakat tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memperhatikan keseimbangan gizi dalam satu porsi makan.

Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, menjelaskan bahwa kombinasi karbohidrat dan cream cheese sebenarnya bukan hal baru. Sebelum ubi menjadi populer, cream cheese lebih dulu sering dipadukan dengan roti sebagai menu sarapan atau camilan.

Ubi Cream Cheese

Menurut dr Tjandraningrum, ubi dan cream cheese pada dasarnya merupakan variasi menu yang memadukan karbohidrat dan lemak. Ia menilai tren ini wajar, karena masyarakat memang kerap mencari olahan yang sederhana namun tetap menarik.

Dalam penjelasannya, kombinasi tersebut bukanlah sesuatu yang bermasalah selama porsinya diperhatikan. Namun, masyarakat perlu memahami bahwa rasa enak tidak selalu berarti kandungan gizinya sudah lengkap.

Ubi dikenal sebagai sumber karbohidrat yang mengenyangkan, sedangkan cream cheese memberi tambahan lemak dan rasa gurih. Meski demikian, kombinasi keduanya belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhan zat gizi dalam satu kali makan.

Karena itu, pemilihan topping sebaiknya tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga mempertimbangkan komposisi nutrisi. Dengan begitu, makanan tetap nikmat sekaligus lebih bermanfaat bagi tubuh.

Nilai Gizi Ubi

Olahan ubi dengan cream cheese cenderung rendah protein jika hanya mengandalkan dua bahan tersebut. Kondisi ini membuat menu tersebut belum ideal sebagai hidangan yang benar-benar seimbang.

Protein memiliki peran penting dalam menjaga fungsi tubuh, termasuk membantu memperbaiki jaringan dan mempertahankan massa otot. Jika asupan protein kurang, tubuh akan kehilangan salah satu komponen penting dalam pola makan harian.

Dalam sekali makan, kebutuhan protein umumnya berada di kisaran 10 hingga 20 gram, tergantung kondisi masing-masing orang. Sementara itu, ubi dan cream cheese saja diperkirakan hanya menyumbang protein dalam jumlah yang sangat kecil.

Ketidakseimbangan ini membuat masyarakat disarankan menambahkan bahan pangan lain yang lebih kaya protein. Dengan langkah sederhana tersebut, menu ubi tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga lebih memenuhi kebutuhan gizi.

Protein dan Kenyang

Dr Tjandraningrum menyarankan tambahan sumber protein agar olahan ubi menjadi lebih lengkap. Protein tidak hanya berguna untuk menjaga kesehatan, tetapi juga membantu rasa kenyang bertahan lebih lama.

Ia mencontohkan edamame, kacang-kacangan, dan telur sebagai pilihan yang bisa dipadukan dengan ubi. Bahan-bahan tersebut dapat meningkatkan kualitas gizi tanpa membuat menu menjadi terlalu rumit.

Temuan dalam jurnal Diabetes Care juga menunjukkan bahwa protein yang dikonsumsi bersama makanan sumber karbohidrat dapat memperlambat pengosongan lambung. Dampaknya, kenaikan gula darah setelah makan berlangsung lebih bertahap.

Kombinasi karbohidrat dan protein karena itu dinilai lebih seimbang dibanding hanya mengandalkan karbohidrat dengan topping tinggi lemak atau gula. Pola makan seperti ini juga lebih sesuai untuk kebutuhan harian masyarakat yang ingin tetap kenyang lebih lama.

Tips Olahan Lebih Seimbang

Untuk membuat ubi cream cheese lebih bernilai gizi, masyarakat bisa menambahkan satu sumber protein dalam satu porsi. Pilihan tersebut dapat disesuaikan dengan selera, ketersediaan bahan, dan kebutuhan masing-masing.

Jika ingin menu yang lebih ringan, edamame atau kacang dapat menjadi pelengkap yang baik. Sementara itu, telur bisa dipilih jika ingin tambahan protein sekaligus lemak baik.

Penambahan bahan pangan tersebut membantu menjadikan satu porsi lebih seimbang antara karbohidrat, lemak, dan protein. Dengan komposisi yang lebih lengkap, tubuh mendapat asupan yang lebih mendekati kebutuhan makan utama.

Tren makanan tetap bisa diikuti selama prinsip gizinya tidak diabaikan. Karena itu, masyarakat disarankan tetap cermat memilih topping agar olahan viral tidak sekadar enak, tetapi juga mendukung kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!