Ubi Cream Cheese Viral, Ini Kata Dokter Gizi

Lifestyle Clara Monica 27 Mei 2026 05:01 WIB 2
Ubi Cream Cheese Viral, Ini Kata Dokter Gizi

Ubi cream cheese tengah menjadi camilan yang ramai diburu di pusat perbelanjaan dan media sosial. Pada Kamis, 14 Mei 2026, antrean pembeli terlihat di sebuah mal di Kabupaten Tangerang karena dessert ini dinilai lezat sekaligus lebih sehat dibanding hidangan manis lain. Popularitasnya muncul karena bahan dasar ubi kerap dianggap sebagai real food yang lebih bernutrisi.

Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat jika olahan ubi diberi topping tinggi gula dan lemak. Dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK, mengingatkan bahwa tambahan cream cheese dapat membuat total kalori meningkat signifikan. Ia menegaskan, makanan yang berbahan dasar ubi tetap perlu dilihat dari komposisi keseluruhannya, bukan hanya dari bahan utama.

Ubi cream cheese dan kandungan gizinya

Ubi dikenal sebagai sumber karbohidrat kompleks yang memberi energi lebih stabil. Bahan pangan ini juga mengandung serat yang membantu rasa kenyang bertahan lebih lama. Karena itu, ubi sering dipersepsikan sebagai pilihan yang lebih baik dibanding dessert berbasis tepung olahan.

Meski demikian, nilai gizi ubi tidak otomatis membuat seluruh olahannya sehat. Proses pengolahan, tambahan gula, serta saus atau topping dapat mengubah profil nutrisi secara signifikan. Akibatnya, camilan yang semula dianggap ringan bisa menjadi tinggi kalori.

Dalam konteks ubi cream cheese, bahan utama yang sehat dapat tertutup oleh komponen tambahan. Cream cheese umumnya mengandung lemak cukup tinggi, terutama jika porsinya besar. Kondisi ini membuat citra sehat pada makanan tersebut perlu ditinjau lebih hati-hati.

Karena itulah, konsumen disarankan memahami kandungan tiap komponen sebelum membeli. Pilihan camilan tidak cukup dinilai dari bahan dasar yang terdengar menyehatkan. Informasi gizi yang jelas menjadi kunci agar masyarakat tidak salah persepsi.

Topping tinggi kalori perlu diwaspadai

Menurut dr Raissa, tambahan topping berlebihan dapat menaikkan kalori tanpa disadari. Kombinasi gula, lemak, dan porsi besar membuat dessert tampak ringan, padahal beban energinya bisa tinggi. Situasi ini sering terjadi pada makanan viral yang dinilai aman karena terlihat berbahan alami.

Cream cheese menjadi salah satu komponen yang paling berkontribusi pada peningkatan lemak. Bila disajikan bersama pemanis tambahan, total asupan gula juga ikut bertambah. Karena itu, satu porsi ubi cream cheese bisa setara dengan dessert manis pada umumnya.

Masalah muncul ketika konsumen mengira makanan tersebut boleh dimakan lebih banyak karena dianggap sehat. Persepsi ini dapat mendorong konsumsi berlebihan, terutama saat camilan sedang tren. Padahal, kalori yang masuk tetap perlu diperhitungkan dalam pola makan harian.

Dr Raissa menekankan bahwa label sehat tidak boleh hanya dilihat dari satu bahan. Masyarakat perlu mempertimbangkan takaran saji, kandungan lemak, dan kadar gula. Dengan begitu, keputusan makan bisa lebih tepat dan tidak semata mengikuti tren.

Tren kuliner sehat sering menipu

Fenomena ubi cream cheese menunjukkan bagaimana makanan viral mudah dipersepsikan sebagai pilihan lebih baik. Tampilan yang menarik dan bahan dasar yang familier sering membuat konsumen merasa aman. Dalam praktiknya, persepsi itu belum tentu sesuai dengan kandungan gizinya.

Tren kuliner sehat juga kerap memanfaatkan istilah yang terdengar meyakinkan. Kata seperti healthy, real food, atau berbahan alami dapat membangun citra positif. Meski begitu, nilai kesehatan tetap ditentukan oleh komposisi akhir, bukan oleh label promosi.

Dalam kasus dessert berbasis ubi, tambahan topping menjadi faktor penentu. Jika porsi saus, gula, dan krim terlalu besar, manfaat ubi bisa berkurang. Kondisi tersebut membuat makanan lebih cocok disebut camilan sesekali, bukan konsumsi harian.

Masyarakat yang ingin tetap menikmati tren kuliner disarankan lebih selektif. Membaca komposisi dan memperhatikan ukuran porsi dapat membantu menjaga asupan tetap seimbang. Cara ini juga mencegah anggapan keliru bahwa semua makanan berbahan dasar ubi pasti sehat.

Cara menyikapi camilan viral

Konsumen dapat menikmati ubi cream cheese tanpa berlebihan jika memahami batas porsinya. Menjadikannya sebagai camilan sesekali lebih aman dibanding mengonsumsinya dalam jumlah besar. Pendekatan ini membantu menjaga keseimbangan antara selera dan kebutuhan gizi.

Pilihan topping yang lebih ringan juga bisa menjadi alternatif. Pengurangan gula, penggunaan krim secukupnya, atau porsi kecil dapat menekan asupan kalori. Langkah sederhana ini membuat camilan tetap menarik tanpa terlalu membebani tubuh.

Selain itu, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa informasi nutrisi saat membeli makanan kekinian. Kebiasaan tersebut penting, terutama ketika tren kuliner bergerak cepat di media sosial. Dengan begitu, keputusan konsumsi tidak hanya didorong oleh popularitas.

Pada akhirnya, ubi cream cheese tetap dapat dinikmati, tetapi tidak layak langsung dianggap sebagai makanan sehat sepenuhnya. Ubi memang memberi manfaat, namun topping tinggi lemak dan gula dapat mengubah profil gizinya. Karena itu, kesadaran terhadap porsi dan komposisi menjadi hal yang paling penting.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!