Ubi Cream Cheese Viral, Ini Batas Konsumsi yang Disarankan

Lifestyle Nadia Safira Putri 25 Mei 2026 04:47 WIB 7
Ubi Cream Cheese Viral, Ini Batas Konsumsi yang Disarankan

Ubi cream cheese tengah menjadi camilan viral di media sosial karena tampilannya menarik dan rasanya dianggap memanjakan lidah. Meski berbahan dasar ubi yang relatif lebih sehat dibanding dessert lain, konsumsinya tetap perlu dibatasi agar asupan gula, lemak, dan kalori tidak berlebihan.

Dokter spesialis gizi klinik dr Tjandraningrum, SpGK, mengatakan porsi ubi cream cheese yang masih tergolong wajar sekitar 100-150 gram ubi per sekali makan. Jumlah itu setara dengan porsi karbohidrat pengganti nasi, sehingga tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan energi harian masing-masing orang.

Ubi Cream Cheese dan Porsi

Menurut dr Tjandraningrum, ubi bisa menjadi pengganti nasi dalam takaran tertentu. Porsi 100-150 gram dinilai masih wajar untuk sekali makan, tergantung kebutuhan kalori total per hari.

Ia menjelaskan bahwa ukuran porsi tersebut tidak boleh dipahami sebagai izin untuk menambah topping sesuka hati. Bila bahan pelengkap terlalu banyak, nilai gizinya bisa bergeser menjadi dessert tinggi kalori.

Dibanding nasi putih, ubi memiliki serat lebih tinggi yang dapat membantu rasa kenyang bertahan lebih lama. Kondisi itu membuat ubi cukup populer sebagai pilihan camilan yang terasa lebih mengenyangkan.

Namun, manfaat tersebut tidak otomatis bertahan jika ubi disajikan dengan tambahan gula dan lemak berlebih. Karena itu, cara penyajian tetap menjadi faktor penting dalam menentukan seberapa sehat camilan ini.

Peran Cream Cheese

Bagian yang perlu paling diperhatikan adalah penggunaan cream cheese. Bahan ini mengandung lemak jenuh yang cukup tinggi, sehingga porsinya tidak sebaiknya berlebihan.

Dr Tjandraningrum menyarankan cream cheese digunakan tipis saja agar tidak menambah beban kalori secara signifikan. Ia menyebut takaran sekitar 20-30 gram masih berada dalam batas wajar.

Penggunaan cream cheese yang terlalu banyak dapat mengubah ubi menjadi sajian dengan kandungan lemak lebih tinggi dari yang diperkirakan. Hal itu membuat camilan viral ini kurang cocok jika dikonsumsi terlalu sering.

Ia menekankan bahwa pengaturan porsi adalah kunci utama dalam menikmati ubi cream cheese. Dengan takaran yang tepat, makanan ini masih bisa dinikmati tanpa membuat asupan harian melonjak tajam.

Topping Tambahan Harus Dikontrol

Selain cream cheese, topping lain juga perlu diperhatikan karena dapat menaikkan total kalori dengan cepat. Susu kental manis, gula, dan butter menjadi contoh tambahan yang perlu dibatasi.

Penambahan bahan-bahan tersebut bisa membuat ubi yang semula relatif sederhana berubah menjadi dessert sangat manis dan tinggi lemak. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menyulitkan pengaturan pola makan.

Menurut dr Tjandraningrum, banyak orang kerap tidak menyadari bahwa topping kecil sekalipun memiliki kontribusi kalori yang besar. Karena itu, konsumen perlu lebih teliti saat memilih komposisi sajian.

Ia menilai, semakin sederhana tambahan yang digunakan, semakin mudah pula menjaga ubi cream cheese tetap dalam batas wajar. Pendekatan ini juga membantu mengendalikan rasa manis yang berlebihan.

Camilan Viral Tetap Perlu Batas

Meski populer di media sosial, ubi cream cheese tetap sebaiknya diposisikan sebagai camilan, bukan makanan utama. Konsumsinya perlu disesuaikan dengan kebutuhan kalori harian setiap orang.

Bagi mereka yang sedang mengatur pola makan, pilihan porsi menjadi sangat penting. Makanan yang terlihat lebih sehat belum tentu otomatis rendah kalori jika toppingnya berlebihan.

Ubi dapat menjadi alternatif karbohidrat yang lebih baik dibanding dessert berbasis tepung dan gula tinggi. Namun, keseimbangannya tetap bergantung pada cara penyajian dan frekuensi konsumsi.

Karena itu, masyarakat disarankan lebih cermat saat menikmati tren kuliner viral. Camilan ini tetap boleh dinikmati, asalkan porsinya terukur dan tidak melampaui kebutuhan tubuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!