Ubi Cream Cheese Viral, Dokter Ingatkan Risiko Kalori

Lifestyle Nadia Safira Putri 01 Juni 2026 17:13 WIB 3
Ubi Cream Cheese Viral, Dokter Ingatkan Risiko Kalori

Ubi cream cheese belakangan ramai diburu masyarakat di media sosial dan pusat perbelanjaan. Di sebuah mal di Kabupaten Tangerang, Kamis (14/5/2026), pembeli terlihat rela antre untuk mendapatkan dessert yang sedang viral itu. Popularitasnya muncul karena banyak orang menganggap camilan berbahan ubi ini lebih sehat dibanding dessert manis lain.

Anggapan tersebut muncul karena ubi dinilai sebagai real food yang mengandung karbohidrat kompleks dan serat. Namun, dokter spesialis gizi klinik dr Raissa E Djuanda, SpGK, mengingatkan bahwa tambahan topping tinggi lemak dan gula dapat mengubah nilai gizinya. Menurut dia, makanan yang terlihat sehat tidak otomatis rendah kalori jika porsinya berlebihan.

Ubi Cream Cheese dan Gizi

Ubi pada dasarnya merupakan bahan pangan yang mengenyangkan dan bergizi. Kandungan karbohidrat kompleks membuatnya dapat menjadi sumber energi yang baik bagi tubuh. Serat di dalamnya juga membantu memberi rasa kenyang lebih lama.

Meski begitu, nilai sehat dari ubi tidak bisa dilihat hanya dari bahan dasarnya. Proses pengolahan dan tambahan topping sangat menentukan kualitas akhir makanan. Karena itu, ubi yang diolah menjadi dessert kekinian perlu dinilai secara keseluruhan.

dr Raissa menegaskan bahwa ubi memang termasuk makanan yang sehat. Akan tetapi, ketika dipadukan dengan bahan lain yang tinggi kalori, manfaat itu bisa berkurang. Konsumen perlu memahami bahwa label sehat tidak selalu sejalan dengan isi gizinya.

Topping Bisa Tingkatkan Kalori

Tambahan cream cheese menjadi salah satu faktor yang membuat kalori dessert ini naik. Bahan tersebut umumnya mengandung lemak yang cukup tinggi. Jika porsinya besar, total energi dalam satu sajian pun ikut meningkat.

Gula tambahan juga dapat memperbesar beban kalori dalam makanan. Pada beberapa produk viral, topping manis sering diberikan dalam jumlah yang tidak sedikit. Kondisi ini membuat camilan tampak ringan, tetapi sebenarnya cukup padat energi.

Menurut dr Raissa, kombinasi ubi, krim, dan gula bisa menghasilkan dessert yang tidak jauh berbeda dari makanan manis lain. Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak langsung menganggapnya sebagai pilihan yang lebih aman. Pemahaman tentang komposisi bahan menjadi kunci untuk memilih makanan dengan bijak.

Jangan Terjebak Label Sehat

Istilah sehat sering membuat orang makan lebih banyak tanpa rasa khawatir. Padahal, jika dikonsumsi berlebihan, asupan kalori tetap dapat menumpuk. Kebiasaan ini berisiko mengganggu pola makan harian.

dr Raissa mengingatkan agar masyarakat tidak tertipu oleh citra bahan dasar yang menyehatkan. Ubi yang baik bagi tubuh tetap bisa menjadi makanan tinggi kalori setelah ditambahkan topping tertentu. Karena itu, porsi tetap perlu diperhatikan meski produk tersebut sedang tren.

Konsumen juga disarankan membaca komposisi jika membeli makanan siap saji. Informasi mengenai gula, lemak, dan ukuran porsi dapat membantu menilai apakah makanan tersebut sesuai kebutuhan. Dengan cara itu, masyarakat bisa menikmati tren kuliner tanpa mengabaikan kesehatan.

Bijak Menikmati Tren Kuliner

Fenomena ubi cream cheese menunjukkan bagaimana tren makanan cepat menarik perhatian publik. Visual yang menarik dan citra lebih sehat membuat produk seperti ini mudah viral. Namun, popularitas tidak selalu sejalan dengan manfaat gizi yang sesungguhnya.

Ahli gizi menyarankan masyarakat tetap membatasi frekuensi konsumsi dessert manis. Sesekali menikmati makanan viral tentu tidak masalah, selama porsinya wajar. Yang perlu dihindari adalah anggapan bahwa semua makanan berbahan ubi pasti aman dikonsumsi tanpa batas.

Pada akhirnya, pilihan makanan yang baik tetap bergantung pada keseimbangan. Masyarakat perlu melihat kandungan gizi, porsi, dan cara pengolahan sebelum membeli. Dengan begitu, tren kuliner bisa dinikmati tanpa mengorbankan kesehatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!