Banyak orang mengeluh tetap lelah meski sudah tidur delapan jam, dan kondisi itu ternyata bukan hal aneh. Dokter spesialis penyakit dalam, Dr. Saundra Dalton-Smith, menyoroti bahwa rasa lelah dapat muncul karena kebutuhan istirahat yang berbeda-beda pada tubuh dan pikiran.
Melalui penelitiannya yang dibukukan dalam Sacred Rest, Dalton-Smith menjelaskan tujuh jenis istirahat yang dapat membantu mengatasi kelelahan. Konsep ini penting dipahami karena tidur saja tidak selalu cukup untuk memulihkan energi secara menyeluruh.
Istirahat Fisik dan Mental
Istirahat fisik tidak selalu berarti tidur lebih lama. Menurut Dalton-Smith, tubuh juga membutuhkan aktivitas ringan yang membantu melepaskan ketegangan setelah rutinitas yang padat.
Yoga, peregangan, dan pijat dapat menjadi pilihan untuk mendukung pemulihan fisik. Aktivitas tersebut membantu melancarkan aliran darah ke otot sekaligus menurunkan stres.
Sementara itu, istirahat mental diperlukan ketika pikiran terasa penuh dan sulit fokus. Salah satu cara sederhana untuk meredakannya adalah menulis jurnal sebelum tidur.
Berolahraga ringan seperti jogging juga dapat membantu sebagian orang menenangkan pikiran. Saat bergerak, perhatian dapat beralih dari beban pikiran ke ritme tubuh yang lebih teratur.
Istirahat Emosional dan Sosial
Istirahat emosional dibutuhkan ketika seseorang merasa lelah harus terus tampak ramah. Kondisi ini sering terjadi pada mereka yang menahan emosi demi menjaga kenyamanan orang lain.
Langkah awal yang bisa dilakukan adalah bersikap jujur terhadap perasaan sendiri. Jika perlu, berbagi cerita dengan orang terdekat dapat membantu emosi menjadi lebih seimbang.
Dalam beberapa situasi, dukungan terapis profesional juga dapat menjadi pilihan yang tepat. Bantuan semacam ini berguna untuk mengurai beban batin yang sulit disampaikan kepada lingkungan sekitar.
Di sisi lain, istirahat sosial diperlukan saat interaksi yang terlalu padat mulai menguras energi. Mengatur ulang jadwal dan memberi waktu untuk orang-orang terdekat dapat membantu menjaga keseimbangan.
Istirahat Sensorik
Istirahat sensorik dibutuhkan ketika tubuh dan pikiran terlalu lama terpapar rangsangan. Penggunaan gawai seperti ponsel, laptop, dan headset dapat membuat indera terus bekerja tanpa jeda.
Dalton-Smith menjelaskan bahwa otak juga bisa lelah meski hanya menerima musik atau bacaan favorit. Karena itu, jeda singkat dari berbagai stimulasi sangat penting untuk memberi ruang pemulihan.
Cara sederhana untuk melakukannya adalah dengan mencari suasana yang tenang. Seseorang bisa memejamkan mata dan berdiam diri sejenak agar tubuh tidak terus menerima rangsangan.
Kebiasaan ini membantu menurunkan beban sensorik yang menumpuk sepanjang hari. Jika dilakukan rutin, istirahat sensorik dapat membuat pikiran terasa lebih jernih dan segar.
Istirahat Spiritual dan Kreatif
Istirahat spiritual berkaitan dengan kebutuhan batin yang berbeda pada setiap orang. Saat merasa tidak tenang, mengikuti komunitas keagamaan sesuai keyakinan bisa menjadi salah satu jalan untuk menemukan keteduhan.
Beribadah, berdoa, dan berbagi kepada sesama juga dapat membantu memenuhi kebutuhan spiritual. Aktivitas tersebut memberi ruang bagi seseorang untuk kembali terhubung dengan nilai dan makna hidup.
Adapun istirahat kreatif dibutuhkan ketika kemampuan memecahkan masalah mulai terasa menurun. Kondisi ini sering muncul saat seseorang terlalu lama bekerja dengan tuntutan berpikir yang tinggi.
Untuk memulihkannya, kegiatan artistik seperti mengunjungi museum atau menonton pertunjukan musik dapat membantu. Aktivitas semacam itu memberi kesempatan pada pikiran untuk beristirahat tanpa tekanan yang berat.
