Tiwi Nurhasanah Sukses Bangun UMKM Madu Garut

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 30 Mei 2026 18:57 WIB 2
Tiwi Nurhasanah Sukses Bangun UMKM Madu Garut

Tiwi Nurhasanah, perempuan asal Garut, menunjukkan bahwa peluang usaha dapat tumbuh dari hal yang sederhana, bahkan dari lebah. Melalui budidaya lebah yang ia kembangkan dengan nama Rumah Madu Simpul Hati, ia kini mampu menguliahkan tiga anaknya. Usahanya tidak hanya menjual madu mentah, tetapi juga produk olahan seperti propolis, royal jelly, dan bee pollen. Di sisi lain, Tiwi juga membina kelompok tani madu di berbagai daerah di Indonesia.

Bagi Tiwi, lebah bukan sekadar sumber pendapatan, melainkan sumber manfaat bagi banyak orang. Ia ingin masyarakat lebih mengenal kekayaan lebah Nusantara dan tidak selalu memandang madu impor sebagai pilihan utama. Dukungan dari program pembinaan UMKM Pertamina turut memperkuat langkah usahanya, mulai dari pelatihan hingga sertifikasi. Kolaborasi itu juga membuka ruang riset dengan kalangan akademik dan mahasiswa farmasi.

Budidaya Lebah Tiwi

Tiwi memulai usahanya dari upaya sederhana untuk mengolah potensi alam di sekitarnya. Ia melihat lebah sebagai komoditas bernilai ekonomi sekaligus bernilai kesehatan. Dari langkah kecil itu, Rumah Madu Simpul Hati perlahan dikenal di pasar yang lebih luas. Produk yang dijual tidak hanya madu, tetapi juga turunan lebah lain yang memiliki peminat tersendiri.

Menurut Tiwi, madu dan produk lebah memiliki manfaat yang besar bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Karena itu, ia terus mengedukasi masyarakat agar lebih terbuka terhadap produk dalam negeri. Ia menilai madu lokal kerap kalah bersaing karena kepercayaan publik masih condong ke produk impor. Padahal, kualitas produk lebah Indonesia dinilai memiliki potensi yang sangat besar.

Upaya tersebut membuat usahanya tidak hanya berorientasi pada penjualan, tetapi juga pada penyebaran pengetahuan. Tiwi ingin masyarakat memahami bahwa alam Indonesia menyimpan sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bernilai. Ia percaya edukasi yang konsisten akan membantu mengubah pandangan konsumen terhadap produk lokal. Dengan cara itu, usaha lebah dapat berkembang sekaligus memberi manfaat yang lebih luas.

Dukungan untuk UMKM Madu

Perkembangan Rumah Madu Simpul Hati tidak lepas dari pendampingan yang diberikan Pertamina melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. Dukungan itu mencakup pelatihan, mentoring, dan sertifikasi usaha yang dibutuhkan UMKM untuk naik kelas. Tiwi mengaku pendampingan tersebut membuat usahanya lebih tertata dan mudah berkembang. Keberadaan program itu juga memperkuat kepercayaan pasar terhadap produknya.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan bahwa pembinaan UMKM merupakan bagian dari komitmen perusahaan. Program ini diarahkan untuk mendorong kesejahteraan masyarakat melalui sektor kreatif. Menurut dia, UMKM yang mandiri dapat menjadi penggerak ekonomi di lingkungannya. Karena itu, pendampingan tidak berhenti pada penguatan usaha, tetapi juga pada perluasan dampak sosial.

Baron menyebut UMKM yang berkembang bisa menggandeng wirausahawan di sekitarnya untuk tumbuh bersama. Pola seperti itu dinilai mampu menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi banyak masyarakat. Dalam kasus Tiwi, dukungan perusahaan turut membuka kesempatan bagi kolaborasi akademik. Rumah Madu Simpul Hati kini kerap menjadi lokasi penelitian mahasiswa farmasi dari berbagai universitas.

Edukasi Produk Lebah

Kolaborasi dengan dunia akademik menjadi nilai tambah bagi usaha Tiwi. Kehadiran peneliti dan mahasiswa memberi ruang untuk mengkaji produk lebah secara lebih ilmiah. Hal itu penting karena produk kesehatan dan kosmetik membutuhkan dukungan pengetahuan farmasi yang memadai. Dengan begitu, kualitas dan pemanfaatan produk dapat dijelaskan secara lebih terukur kepada masyarakat.

Tiwi mengatakan, kehadiran apoteker dan peneliti membuatnya semakin percaya diri dalam mengembangkan usaha. Mereka melakukan riset langsung terhadap produk lebah yang dihasilkan di tempat usahanya. Proses ini tidak hanya memperkuat aspek bisnis, tetapi juga memperluas wawasan tentang manfaat lebah. Dari sini, produk lokal mendapat pijakan yang lebih kuat di mata konsumen.

Ia berharap masyarakat semakin mencintai produk dalam negeri dan percaya pada kualitas kekayaan alam Indonesia. Menurut Tiwi, jika masyarakat mengenal produk berbasis alam lokal, kepercayaan terhadap kualitasnya akan tumbuh. Ia juga menilai edukasi adalah kunci agar madu Indonesia tidak terus berada di bawah bayang-bayang produk impor. Dengan pendekatan itu, produk lebah Nusantara berpeluang memiliki posisi yang lebih baik di pasar.

Dampak pada Keluarga

Keberhasilan usaha madu bagi Tiwi bukan hanya soal omzet dan ekspansi pasar. Hasil penjualan madu telah mengubah kondisi ekonomi keluarganya secara nyata. Ia mampu membiayai pendidikan tinggi tiga anaknya dari usaha yang ia rintis sendiri. Bagi Tiwi, pencapaian itu menjadi hadiah terbesar dalam hidupnya.

Ia mengungkapkan, anak pertamanya dan anak kedua kini telah menempuh pendidikan hingga jenjang S2. Sementara itu, anak ketiganya sedang menjalani studi di jenjang S1. Tiwi menilai kemajuan pendidikan anak-anaknya menjadi bukti bahwa usaha kecil dapat menghadirkan perubahan besar. Ia dan suaminya yang hanya lulusan SMA kini melihat hasil kerja keras dalam bentuk yang sangat nyata.

Tiwi berharap pencapaian keluarganya dapat menjadi contoh bahwa ketekunan mampu membuka jalan baru. Ia ingin lebih banyak masyarakat berani mengembangkan potensi lokal yang ada di sekitarnya. Baginya, lebah bukan hanya penghasil madu, tetapi juga simbol kemandirian dan harapan. Mimpi terbesarnya adalah memiliki pabrik kosmetik atau produk kesehatan berbasis lebah Indonesia.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!