Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun pada 2025

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 24 Mei 2026 20:57 WIB 10
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun pada 2025

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mencatat pendapatan konsolidasi Rp146,7 triliun sepanjang tahun buku 2025, di tengah tekanan makroekonomi dan dinamika industri telekomunikasi. Perseroan juga membukukan laba bersih Rp17,8 triliun, dengan normalized net income Rp22,7 triliun, serta EBITDA konsolidasi Rp72,2 triliun. Capaian ini menunjukkan kemampuan Telkom menjaga kinerja sekaligus melanjutkan transformasi bisnis yang telah dijalankan sejak 2025. Respons positif pasar juga tercermin dari total shareholder return sebesar 35,7 persen sepanjang 2025.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menyampaikan bahwa strategi TLKM 30 menjadi fokus utama untuk memperkuat fondasi bisnis dan menciptakan nilai jangka panjang. Strategi tersebut diarahkan agar Telkom semakin siap menjadi penggerak ekosistem digital nasional yang berdaya saing global. Perseroan menegaskan agenda transformasi ini didukung kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham, termasuk payout ratio 89 persen dan program share buyback hingga Rp3 triliun. Langkah itu menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan investor di tengah proses penataan portofolio bisnis.

Kinerja Telkom Menguat

Telkom mencatat pertumbuhan kinerja yang tetap solid sepanjang tahun buku 2025. Pendapatan konsolidasi perseroan mencapai Rp146,7 triliun, sementara laba bersih tercatat Rp17,8 triliun. Di sisi lain, normalized net income berada di level Rp22,7 triliun, yang menunjukkan daya tahan fundamental bisnis perusahaan. EBITDA konsolidasi pun terjaga pada Rp72,2 triliun dengan margin 49,2 persen.

Perseroan juga membukukan normalized EBITDA sebesar Rp73,2 triliun dengan margin 49,9 persen. Kinerja tersebut menandai kemampuan Telkom menjaga efisiensi operasional di tengah persaingan yang semakin ketat. Total Shareholder Return atau TSR tercatat 35,7 persen sepanjang 2025, terdiri dari capital gain 28,4 persen dan dividend yield 7,3 persen. Angka itu mencerminkan respons positif pasar terhadap eksekusi strategi transformasi perseroan.

Telkom menyebut capaian tersebut tidak lepas dari disiplin pengelolaan bisnis dan kebijakan pengembalian nilai kepada pemegang saham. Perseroan juga menjalankan share buyback dengan nilai maksimal Rp3 triliun yang masih berlangsung hingga Mei 2026. Selain itu, payout ratio sebesar 89 persen untuk pembayaran tahun buku 2024 menjadi penopang kepercayaan investor. Seluruh langkah itu memperkuat posisi Telkom dalam menghadapi perubahan pasar yang dinamis.

Transformasi TLKM Tiga Puluh

Telkom menjalankan strategi TLKM 30 sebagai arah transformasi jangka menengah yang lebih terstruktur. Program ini disusun untuk memperkuat model bisnis, meningkatkan kualitas layanan, dan mempercepat penciptaan nilai. Dian Siswarini menegaskan eksekusi strategi tersebut telah menjadi fokus utama sejak 2025. Perseroan ingin memastikan transformasi berjalan konsisten di seluruh lini usaha.

Empat pilar utama menjadi dasar implementasi strategi itu. Pilar pertama adalah Operational and Service Excellence, yang menitikberatkan pada tata kelola, efisiensi, budaya kerja, dan kualitas layanan. Pilar kedua adalah Streamlining, yakni penataan portofolio non-core business agar kontribusi bisnis inti semakin optimal. Melalui dua pilar ini, Telkom berupaya memperkuat daya saing di sektor telekomunikasi dan digital.

Selain itu, Telkom juga menempatkan Unlock Value sebagai pilar penting untuk memaksimalkan nilai aset. Fokusnya diarahkan pada penguatan fondasi infrastruktur digital, terutama konektivitas fiber. Sementara itu, Modus-operandi shift mendorong perubahan dari operating holding menjadi strategic holding. Langkah ini dilakukan melalui delayering agar operasional lebih terfokus pada empat segmen utama, yaitu B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.

Bisnis B2C Telkom Pulih

Segmen B2C masih menjadi salah satu penopang utama pendapatan Telkom. Telkomsel sebagai OpCo di segmen ini membukukan pendapatan konsolidasian Rp109,2 triliun pada tahun buku 2025. Kenaikan trafik data sebesar 15 persen secara tahunan menjadi sinyal membaiknya kebutuhan layanan digital masyarakat. Pemulihan juga terlihat pada average revenue per user yang bergerak positif sejak paruh kedua 2025.

Telkomsel menargetkan pemulihan ARPU dapat berlanjut pada 2026. Upaya itu ditempuh melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran dan penguatan kualitas jaringan. Perseroan ingin menekan perpindahan pelanggan sekaligus menjaga daya saing layanan. Di saat yang sama, penguatan ekosistem digital dilakukan agar layanan tetap relevan bagi kebutuhan pengguna.

Ekspansi fixed broadband juga dijalankan dengan lebih selektif. Telkom mempertimbangkan kemampuan belanja masyarakat dan efektivitas penggunaan modal agar pertumbuhan tetap sehat. Pendekatan ini diharapkan menjaga kualitas pendapatan dalam jangka panjang. Dengan strategi tersebut, segmen B2C diproyeksikan tetap menjadi sumber pertumbuhan yang penting bagi perseroan.

Investasi dan Portofolio Telkom

TelkomGroup terus memperkuat bisnis infrastruktur digital melalui aset yang tersebar luas di seluruh Indonesia. Jaringan backbone serat optik perseroan telah mencapai lebih dari 210.000 kilometer. Selain itu, Telkom memiliki menara telekomunikasi, data center, cloud, dan konektivitas satelit untuk menjangkau wilayah blank spot. Infrastruktur tersebut menjadi fondasi penting bagi ekspansi layanan digital nasional.

Pendapatan segmen B2B Infrastructure mencapai Rp8,9 triliun, tumbuh 9,2 persen secara tahunan. Pertumbuhan itu didukung bisnis data center dan ekspansi fiber. Telkom juga mengoperasikan 28 fasilitas edge data center NeuCentrIX untuk mendekatkan layanan ke pengguna. Pada bisnis menara dan Fiber-to-the-Tower, Mitratel mencatat pendapatan Rp9,5 triliun dengan margin laba bersih 22,2 persen.

Dari sisi efisiensi modal, belanja modal TelkomGroup pada 2025 mencapai Rp27,5 triliun atau 18,8 persen dari total pendapatan. Sebanyak 93 persen belanja modal dialokasikan untuk perluasan infrastruktur di segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International. Sementara itu, segmen B2B ICT membukukan pendapatan Rp15,3 triliun dan akan didorong melalui layanan Connectivity+, Cybersecurity, AI, serta kemitraan strategis global. Telkom menegaskan transformasi akan terus dilanjutkan untuk menjaga pertumbuhan yang lebih solid dan berkelanjutan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!