Tangis Arsy Warnai Keberangkatan Haji Anang dan Ashanty

Lifestyle Nadia Safira Putri 21 Mei 2026 16:53 WIB 7
Tangis Arsy Warnai Keberangkatan Haji Anang dan Ashanty

Keberangkatan Anang Hermansyah dan Ashanty ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji diwarnai suasana haru di Bandara Soekarno-Hatta, Senin (18/5/2026) malam. Putri mereka, Arsy Hermansyah, tampak sulit menahan kesedihan karena harus berpisah dengan kedua orang tua dalam waktu yang cukup lama. Momen itu menjadi pengalaman terberat bagi Arsy, yang biasanya selalu dekat dengan sang ibu dalam keseharian. Air mata yang terus mengalir memperlihatkan beratnya perpisahan jelang keberangkatan ibadah tersebut.

Arsy diketahui menangis sejak beberapa hari sebelum keberangkatan, bahkan kesedihannya disebut terus berlanjut hingga hari pelepasan. Ashanty mengungkapkan bahwa putrinya belum pernah ditinggal selama kurang lebih dua minggu, sehingga rasa kehilangan itu terasa sangat besar. Meski situasi emosional, keberangkatan tetap dilakukan demi menunaikan ibadah haji yang menjadi tujuan utama keluarga. Kondisi itu memperlihatkan bahwa momen religius juga membawa konsekuensi emosional bagi anggota keluarga di rumah.

Air Mata Jelang Keberangkatan

Ashanty menjelaskan bahwa Arsy benar-benar menangis hampir setiap hari menjelang keberangkatan. Ia menyebut putrinya sedih karena belum pernah ditinggal dalam durasi selama itu. Bagi Arsy, dua pekan terasa panjang karena biasanya ia selalu bersama sang bunda. Situasi tersebut membuat suasana rumah ikut dipenuhi haru.

Di bandara, Ashanty menuturkan bahwa Arsy menangis bukan hanya karena sedih, tetapi juga karena berat melepas kebersamaan yang selama ini terjalin. Ia menegaskan bahwa keberangkatan itu tetap dilakukan demi ibadah. Dalam pernyataannya, Ashanty berusaha menenangkan putrinya agar tetap memahami tujuan perjalanan mereka. Penjelasan itu menunjukkan adanya upaya keluarga menjaga ketenangan di tengah emosi yang memuncak.

Anang Hermansyah turut membenarkan kondisi putrinya yang terus menangis menjelang keberangkatan. Menurutnya, Arsy sudah mulai sedih sejak dua hari sebelum mereka menuju bandara. Hal tersebut menjadi tanda bahwa perpisahan itu bukan hal mudah bagi sang anak. Meski demikian, keluarga tetap berusaha menjaga suasana tetap hangat dan positif.

Situasi haru itu juga menggambarkan kedekatan kuat antara Arsy dan kedua orang tuanya. Kebiasaan bersama setiap hari membuat perpisahan sementara terasa lebih berat bagi seorang anak. Namun, keluarga memilih memandang keberangkatan tersebut sebagai bagian dari perjalanan spiritual yang penting. Dengan begitu, kesedihan tetap ditempatkan dalam bingkai pengertian dan keteguhan hati.

Sikap Dewasa Arsy

Di tengah tangisnya, Arsy menunjukkan sikap yang cukup dewasa untuk usianya. Ia berusaha menahan isak agar tidak membuat Ashanty khawatir saat berangkat ke Tanah Suci. Kepada awak media, Arsy menyampaikan doa agar perjalanan orang tuanya berjalan lancar. Sikap itu menegaskan bahwa ia ingin memberi ketenangan, meski hatinya masih berat.

Arsy juga mengucapkan harapan agar ibadah haji sang ibu dan ayahnya berlangsung tanpa kendala. Ia mengaku sedih, tetapi tidak ingin membuat bundanya tidak tenang selama berada di sana. Pernyataan tersebut memperlihatkan kepedulian seorang anak terhadap kondisi emosional orang tuanya. Dalam situasi ini, Arsy tidak hanya mengekspresikan kesedihan, tetapi juga empati.

Doa Arsy menjadi penutup yang menyentuh di tengah suasana keberangkatan keluarga. Kalimat singkat yang ia ucapkan menunjukkan ketulusan dan pengharapan yang kuat. Di usianya yang masih muda, ia sudah memahami bahwa ibadah memerlukan ketenangan dan keikhlasan. Pemahaman itu membuat momen perpisahan terasa lebih bermakna.

Momen haru tersebut kemudian menjadi sorotan karena memperlihatkan sisi manusiawi dari keluarga selebritas. Di balik perhatian publik, mereka tetap menghadapi perasaan yang sama seperti keluarga pada umumnya. Rasa sedih, rindu, dan doa bercampur menjadi satu dalam perpisahan sementara itu. Kehadiran emosi tersebut justru mempertegas kedekatan keluarga yang selama ini terbangun.

Persiapan Anak di Jakarta

Menjelang keberangkatan, Ashanty dan Anang telah menyiapkan pengawasan bagi anak-anak yang tinggal di Jakarta. Arsy dan adiknya, Arsya, akan berada di bawah penjagaan Aurel Hermansyah dan Azriel Hermansyah. Skema ini disusun agar kebutuhan anak-anak tetap terpenuhi selama kedua orang tua berada di Tanah Suci. Persiapan itu juga dibuat untuk menjaga rasa aman di rumah.

Ashanty menyebut bahwa anak-anak dititipkan kepada Kak Aurel dan Kak Ziel. Ia menilai pengaturan tersebut sudah cukup aman dan dapat membantu menjaga keseharian Arsy dan Arsya. Selain itu, keluarga besar juga diharapkan dapat saling mendukung selama masa ibadah berlangsung. Dengan begitu, keberangkatan haji tidak mengganggu stabilitas keluarga di Jakarta.

Menurut Ashanty, anak-anak juga sudah cukup memahami alasan kepergian kedua orang tua mereka. Ia berharap mereka mengerti bahwa perjalanan itu dilakukan untuk ibadah. Penjelasan yang diberikan sebelumnya dinilai penting agar anak-anak tidak merasa ditinggalkan tanpa alasan. Pemahaman tersebut diharapkan membuat mereka lebih tenang selama menunggu kepulangan orang tua.

Persiapan keluarga menunjukkan bahwa keberangkatan haji tidak hanya soal perjalanan spiritual, tetapi juga pengelolaan peran di rumah. Dukungan dari kakak-kakak Arsy dan Arsya menjadi bagian penting dalam memastikan semuanya berjalan baik. Di sisi lain, tangis Arsy menjadi pengingat bahwa ibadah besar kerap membawa ujian emosi bagi keluarga yang ditinggalkan. Meski penuh haru, keluarga Hermansyah tetap memandang perjalanan itu sebagai langkah mulia yang harus dijalani dengan doa.

Ibadah dan Kebersamaan

Keberangkatan Anang dan Ashanty memperlihatkan bagaimana ibadah haji kerap menghadirkan dua sisi sekaligus. Di satu sisi, ada kebahagiaan karena dapat memenuhi panggilan ibadah. Di sisi lain, ada perasaan berat karena harus berpisah sementara dengan orang-orang terdekat. Kombinasi dua hal itu membuat momen pelepasan terasa sangat emosional.

Bagi keluarga, perpisahan sementara menjadi harga yang harus dibayar demi menjalankan kewajiban spiritual. Namun, komunikasi yang baik dan persiapan yang matang membantu mengurangi beban yang dirasakan anak-anak. Ashanty dan Anang berupaya memastikan bahwa anak-anak tetap berada dalam pengasuhan yang aman. Langkah tersebut menjadi bentuk tanggung jawab di tengah jadwal ibadah yang padat.

Di tengah sorotan publik, keluarga Hermansyah tetap menunjukkan ketenangan dan saling pengertian. Arsy pun menjadi gambaran bahwa anak-anak juga memiliki perasaan yang kuat saat orang tua mereka pergi beribadah. Reaksi emosional itu wajar, terutama ketika perpisahan berlangsung lebih lama dari kebiasaan sehari-hari. Karena itu, dukungan keluarga besar menjadi sangat penting dalam situasi seperti ini.

Perjalanan ibadah haji Anang dan Ashanty kini dimulai dengan doa dan harapan dari keluarga. Arsy yang masih menyimpan tangis berharap semuanya berjalan lancar dan para orang tuanya kembali dalam keadaan sehat. Kisah ini menunjukkan bahwa ibadah tidak hanya menyangkut relasi manusia dengan Tuhan, tetapi juga dengan keluarga yang menunggu di rumah. Dalam setiap perpisahan, ada doa yang menjaga kebersamaan tetap hidup.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!