Swatch kembali menarik perhatian industri horologi setelah resmi menjalin kolaborasi dengan merek jam tangan mewah Audemars Piguet. Produk anyar yang disebut Royal Pop itu belum menampilkan gambar resmi, namun sudah menjadi bahan pembicaraan luas di kalangan kolektor dan penggemar jam tangan.
Kolaborasi ini diperkirakan akan meluncur pada Sabtu, 16 Mei, dengan penjualan yang hanya tersedia di toko Swatch tertentu. Kehadiran Royal Pop menambah daftar kerja sama Swatch yang sebelumnya sukses lewat Omega dan Blancpain, sekaligus memunculkan spekulasi bahwa desainnya akan mengusung bentuk jam saku.
Kolaborasi Swatch dan Audemars Piguet
Langkah Swatch menggandeng Audemars Piguet dinilai mengejutkan karena keduanya tidak berada di bawah naungan grup yang sama. Situasi ini berbeda dengan kerja sama Swatch sebelumnya bersama Omega dan Blancpain, yang sama-sama terkait dalam ekosistem grup yang serupa.
Meski begitu, kolaborasi ini justru memicu ekspektasi besar dari pasar. Para pengamat menilai, nama besar Audemars Piguet dapat memberi daya tarik baru bagi strategi Swatch dalam menghadirkan produk yang lebih terjangkau.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai bentuk akhir Royal Pop. Namun, berbagai petunjuk dari materi promosi menunjukkan bahwa produk tersebut kemungkinan besar mengusung format yang tidak biasa, dengan sentuhan desain khas Audemars Piguet.
Petunjuk Desain Royal Pop
Teaser awal dari Swatch menampilkan tali berwarna cerah yang menyerupai gantungan atau lanyard. Indikasi itu membuat banyak pihak menduga bahwa Royal Pop akan dirancang sebagai jam saku atau aksesori yang dapat dikenakan dengan cara berbeda.
Selain itu, desainnya disebut akan menonjolkan karakter Royal Oak milik Audemars Piguet. Ciri yang paling mungkin dipertahankan adalah bentuk oktagonal ikonis yang selama ini menjadi identitas kuat merek tersebut.
Swatch juga menyiapkan instalasi promosi bertema pop-art di sejumlah gerai. Visualnya terinspirasi dari karya Andy Warhol, dengan warna cerah dan ilustrasi mesin otomatis Sistem51 milik Swatch.
Strategi Pop Art Swatch
Konsep Pop bukan hal baru bagi Swatch karena merek ini pernah memperkenalkan lini jam serupa pada 1986. Kala itu, produk dapat dilepas dari bingkainya dan dipakai sebagai bros, gantungan tas, atau jam saku.
Melalui pendekatan itu, Swatch tampaknya ingin menghidupkan kembali gagasan jam tangan sebagai aksesori multifungsi. Strategi ini sejalan dengan tren mode yang menempatkan jam sebagai bagian dari ekspresi gaya, bukan sekadar alat penunjuk waktu.
Peluncuran Royal Pop juga diperkirakan akan mengikuti pola pemasaran terbatas yang kerap memicu antrean panjang. Pengalaman MoonSwatch sebelumnya menunjukkan bahwa permintaan pasar bisa melonjak tajam ketika Swatch menghadirkan produk kolaboratif dengan narasi kuat.
Antusiasme Pasar Horologi
Mantan CEO Audemars Piguet, François-Henry Bennahmias, pernah menyatakan bahwa kolaborasi seperti MoonSwatch memberi dampak positif bagi dunia horologi. Menurut dia, pendekatan tersebut dapat mengenalkan jam tangan kepada generasi muda tanpa mengurangi integritas merek mewah.
Audemars Piguet sendiri baru saja kembali mengeksplorasi jam saku melalui model 150th Heritage yang dirilis beberapa bulan lalu. Produk itu disebut sebagai salah satu karya paling kompleks yang pernah diproduksi oleh rumah jam asal Swiss tersebut.
Secara historis, Audemars Piguet memang memiliki reputasi kuat dalam pembuatan jam saku. Salah satu modelnya, Grosse Pièce, bahkan pernah terjual hingga US$ 7,7 juta dalam lelang Sotheby’s, menegaskan nilai koleksinya yang sangat tinggi.
