Swatch dan Audemars Piguet Rilis Jam Saku Royal Pop

Lifestyle Nadia Safira Putri 28 Mei 2026 20:59 WIB 5
Swatch dan Audemars Piguet Rilis Jam Saku Royal Pop

Swatch dan Audemars Piguet kembali menarik perhatian pasar jam tangan melalui peluncuran koleksi jam saku Royal Pop. Produk ini memadukan desain ikonik Royal Oak dengan sentuhan warna cerah khas lini Pop, sehingga langsung memancing antusiasme kolektor dan penggemar. Di sejumlah negara, antrean pembeli sudah terlihat bahkan sebelum katalog resmi ditampilkan.

Koleksi tersebut terdiri atas delapan jam saku berbahan Biokeramik yang dilengkapi tali pengikat, dengan harga mulai dari 535 dolar AS atau sekitar Rp9,4 juta hingga 570 dolar AS atau sekitar Rp10 juta. Peluncuran dilakukan sejak 16 Mei di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat dan Singapura, sementara Indonesia juga ikut merasakan tingginya minat pembeli. Respons pasar menunjukkan bahwa kolaborasi dua merek ini masih memiliki daya tarik kuat di segmen gaya hidup dan fashion.

Royal Pop Jadi Sorotan

Royal Pop lahir dari kolaborasi dua nama besar yang selama ini berada di kutub berbeda dalam industri jam tangan. Audemars Piguet dikenal sebagai merek mewah, sedangkan Swatch identik dengan produk yang lebih aksesibel dan penuh warna. Perpaduan itu membuat koleksi ini terasa unik dan mudah menarik perhatian publik.

Desain Royal Pop terinspirasi dari Royal Oak yang legendaris, lalu dikombinasikan dengan karakter ceria dari lini Pop era 1980-an. Hasilnya adalah jam saku yang tidak hanya fungsional, tetapi juga tampil sebagai aksesori gaya. Bagi kolektor, pendekatan seperti ini menghadirkan nilai kebaruan yang jarang muncul di pasar.

Popularitas koleksi ini menunjukkan bahwa produk yang menggabungkan warisan desain dan elemen pop culture masih memiliki tempat kuat di pasar. Banyak konsumen melihatnya sebagai barang koleksi sekaligus pernyataan gaya. Karena itu, Royal Pop cepat mencuri perhatian sejak pertama kali diumumkan.

Harga Dan Ketersediaan

Swatch membanderol Royal Pop mulai dari 535 dolar AS hingga 570 dolar AS, tergantung model yang dipilih. Jika dikonversi, harga tersebut berada di kisaran Rp9,4 juta sampai Rp10 juta. Banderol ini menempatkan produk tersebut sebagai item koleksi yang masih relatif terjangkau dibanding jam mewah pada umumnya.

Penjualan resmi telah dimulai di sejumlah negara sejak 16 Mei, dan responsnya langsung terasa di lokasi peluncuran. Di Amerika Serikat, antrean mengular bahkan sejak sehari sebelumnya karena banyak orang ingin menjadi pembeli pertama. Situasi serupa juga terjadi di beberapa titik penjualan lain yang mendapat pasokan terbatas.

Ketersediaan yang terbatas membuat pembeli harus bersabar menunggu giliran untuk mendapatkan unit yang diincar. Dalam beberapa kasus, minat tinggi justru tidak selalu berujung pada pembelian setelah katalog dipamerkan. Kondisi ini menunjukkan bahwa ekspektasi pasar terhadap produk kolaborasi semacam ini sangat besar.

Antrean Panjang Di Luar Negeri

Di Times Square, New York, para penggemar sudah bersiap dengan kursi lipat sambil menunggu toko dibuka. Mereka menghabiskan waktu dengan makan siang dan berbincang bersama sesama calon pembeli. Suasana itu memperlihatkan betapa kuatnya daya tarik koleksi jam saku ini.

Menurut Business Insider, sekitar 70 orang saling menjaga antrean secara bergantian hingga toko buka keesokan harinya. Namun, setelah Swatch memamerkan katalog, sebagian dari mereka memilih mundur karena produk yang dirilis tidak sesuai harapan. Hal ini menegaskan bahwa minat tinggi tidak selalu sejalan dengan keputusan membeli.

Di Singapura, antrean juga terlihat sejak pagi di Ion Orchard pada hari peluncuran 16 Mei. Menurut Strait Times, ratusan calon pembeli sudah diberi nomor antrean tidak resmi sejak pukul 7 pagi. Swatch juga disebut hanya mengizinkan setiap orang membeli satu jam tangan per hari.

Minat Tinggi Di Jakarta

Antusiasme terhadap Royal Pop juga tercermin di Indonesia, khususnya di Grand Indonesia, Jakarta. Sejak pagi, orang-orang sudah mulai mengantre sebelum mal dibuka. Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar Indonesia masih sangat responsif terhadap peluncuran produk kolaborasi internasional.

Antrean di lokasi tersebut sempat menjadi perhatian karena jumlah peminat yang datang cukup banyak. Berdasarkan laporan, petugas keamanan kemudian membubarkan antrean untuk menjaga ketertiban. Situasi itu menggambarkan tingginya rasa ingin tahu publik terhadap jam saku hasil kolaborasi ini.

Minat terhadap Royal Pop menandakan bahwa produk fashion dan aksesori masih bisa memicu hype besar jika memiliki cerita dan desain yang kuat. Kolaborasi Swatch dan Audemars Piguet berhasil memanfaatkan kedua faktor tersebut dengan efektif. Tidak mengherankan jika jam saku yang semula dianggap format lama justru kembali menjadi sorotan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!