Swatch dan Audemars Piguet kembali menarik perhatian publik lewat koleksi jam saku terbaru bernama Royal Pop. Peluncuran kolaborasi ini langsung memicu antrean panjang di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Singapura, dan Indonesia, karena produk tersebut dinilai langka dan eksklusif.
Koleksi ini memadukan desain Royal Oak khas Audemars Piguet dengan nuansa warna cerah ala Swatch dari era 1980-an. Dengan harga mulai dari 535 dolar AS atau sekitar Rp9,4 juta, Royal Pop dijual terbatas dan membuat para penggemar rela menunggu sejak pagi hari.
Royal Pop tarik minat kolektor
Royal Pop hadir sebagai perpaduan dua identitas merek yang sangat kuat di industri jam tangan. Audemars Piguet membawa karakter mewah, sementara Swatch menawarkan pendekatan yang lebih pop dan ekspresif.
Produk ini dirilis sebagai jam saku Biokeramik berwarna cerah dengan tali pengikat. Setiap model dirancang untuk menonjolkan kesan unik, sekaligus mempertahankan daya tarik koleksi edisi terbatas.
Ketertarikan publik terhadap jam saku tersebut muncul karena bentuknya yang tidak biasa dan jumlahnya yang terbatas. Banyak kolektor melihatnya sebagai barang yang punya nilai gaya sekaligus nilai koleksi.
Kombinasi itu membuat Royal Pop cepat menjadi bahan pembicaraan di kalangan penggemar horologi. Situasi tersebut juga memperlihatkan bahwa kolaborasi lintas merek masih menjadi strategi yang efektif untuk menciptakan perhatian besar.
Antrean mengular di Amerika
Peluncuran Royal Pop di Amerika Serikat disambut antusias besar oleh para pemburu jam tangan. Di Times Square, calon pembeli sudah bersiap sejak sehari sebelumnya untuk memastikan mereka mendapat kesempatan membeli.
Sejumlah penggemar membawa kursi lipat dan menunggu sambil makan siang di area sekitar toko. Suasana antrean berlangsung ramai, karena para calon pembeli saling berbincang sembari menanti pembukaan gerai.
Menurut laporan Business Insider, sekitar 70 orang bahkan menjaga posisi antrean secara bergantian. Mereka melakukan itu sebelum Swatch memamerkan katalog koleksi, meski sebagian akhirnya mundur setelah mengetahui model yang dirilis tidak sesuai harapan.
Kondisi tersebut menunjukkan tingginya ekspektasi publik terhadap kolaborasi Swatch dan Audemars Piguet. Antrean panjang menjadi bukti bahwa produk dengan label langka masih memiliki daya pikat kuat di pasar global.
Minat tinggi di Singapura
Antusiasme serupa juga terlihat di Singapura pada hari peluncuran. Di Ion Orchard, ratusan calon pembeli telah mengantre sejak pukul 7 pagi untuk mendapatkan kesempatan membeli Royal Pop.
Laporan dari The Straits Times menyebut antrean tidak resmi itu membuat suasana di sekitar gerai menjadi padat. Para pembeli datang lebih awal karena stok yang terbatas dan tingginya minat terhadap produk kolaborasi tersebut.
Swatch dilaporkan hanya memperbolehkan satu jam tangan dibeli oleh setiap orang dalam satu hari. Kebijakan itu dibuat untuk menjaga ketersediaan barang dan memberi kesempatan kepada lebih banyak pembeli.
Pembatasan tersebut sekaligus mempertegas status Royal Pop sebagai produk eksklusif. Dalam praktiknya, aturan pembelian justru ikut menambah rasa penasaran dan mendorong tingginya permintaan.
Antusiasme di Indonesia
Di Indonesia, gelombang minat terhadap Royal Pop juga terlihat jelas di Grand Indonesia, Jakarta. Sejak pagi, orang-orang sudah mengantre sebelum pusat perbelanjaan tersebut dibuka.
Keramaian itu menunjukkan bahwa pasar Indonesia memiliki perhatian besar terhadap produk fashion dan jam tangan premium. Bagi sebagian pembeli, kolaborasi seperti ini bukan sekadar aksesori, melainkan juga simbol gaya hidup.
Namun berdasarkan laporan, antrean sempat dibubarkan oleh petugas keamanan. Langkah tersebut diambil untuk menjaga ketertiban di area mal dan menghindari penumpukan massa yang lebih besar.
Fenomena ini menegaskan bahwa peluncuran jam tangan terbatas masih mampu menciptakan euforia lintas negara. Selama pasokan terbatas dan desainnya berbeda, produk seperti Royal Pop berpeluang terus memicu antrean panjang di berbagai pasar.
